Juli 18, 2026

Kebakaran Pusat Animasi di Lucknow Tewaskan 15 Orang, Sebagian Besar Pelajar

a_6a3a45fe38267

Kebakaran hebat melanda sebuah gedung komersial tiga lantai di kawasan Aliganj, Lucknow, India utara, pada Senin (22/6/2026) sekitar pukul 14.30 waktu setempat, menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai tujuh lainnya. Gedung di Jalan Usha Mehta itu merupakan pusat pelatihan animasi dan studio produksi game yang menjadi tempat belajar dan magang puluhan anak muda. Sebagian besar korban adalah siswa berusia 16 hingga 25 tahun, termasuk empat siswi perempuan.

Api berasal dari lantai dasar gedung yang digunakan sebagai toko hewan peliharaan dan klinik hewan, diduga akibat korsleting pada pendingin ruangan (AC) sekitar pukul 14.30. Karena banyaknya bahan mudah terbakar dan furnitur kayu di dalam gedung, api dengan cepat menjalar ke lantai atas, menciptakan perangkap maut bagi para penghuni di lantai dua dan tiga. Asap tebal dengan cepat memenuhi ruangan dan lorong, membuat para korban kesulitan menemukan jalan keluar.

Saat kebakaran terjadi, sekitar 21 siswa berada di lantai dua dan tiga gedung tersebut, yang berfungsi sebagai ruang belajar dan studio animasi. Banyak korban terjebak di lantai dua karena satu-satunya tangga darurat tersumbat asap dan api. Beberapa siswa yang panik melompat dari lantai dua untuk menyelamatkan diri, sementara yang lain mengunci diri di kamar mandi untuk menghindari kobaran api. Seorang saksi mata bernama Aman mengatakan kepada ANI bahwa tim penyelamat berhasil menyelamatkan lima hingga enam orang, namun beberapa lainnya masih terjebak di dalam.

Petugas pemadam kebakaran mengerahkan 14 hingga 19 unit mobil pemadam, termasuk satu kendaraan platform hidrolik, untuk menjinakkan api. Tim dari Pasukan Respons Bencana Nasional (NDRF) dan Pasukan Respons Bencana Negara Bagian (SDRF) dikerahkan untuk membantu operasi penyelamatan. Petugas pemadam harus menerobos dinding belakang gedung untuk mengeluarkan jenazah, sementara 14 ambulans dikerahkan di lokasi untuk mengevakuasi korban.

Sebanyak 22 orang dibawa ke Pusat Trauma Rumah Sakit King George’s Medical University (KGMU). Dari jumlah tersebut, 15 orang dinyatakan meninggal dunia saat tiba di rumah sakit, sementara tujuh lainnya dirawat dengan luka-luka. Dua orang di antaranya dilaporkan dalam kondisi kritis akibat luka parah setelah melompat dari gedung dan mendarat di pagar besi. Empat korban lainnya dalam kondisi stabil dan masih menjalani perawatan intensif.

Wakil Kepala Menteri Uttar Pradesh, Brajesh Pathak, yang berada di lokasi untuk memantau operasi penyelamatan, mengonfirmasi jumlah korban jiwa dengan mata berkaca-kaca. “Mereka adalah anak-anak kami. Ini adalah insiden yang sangat tragis,” ujarnya. Ia juga memerintahkan penyelidikan tingkat tinggi untuk menentukan penyebab kebakaran dan memastikan langkah-langkah pencegahan di masa depan. Kepala Menteri Uttar Pradesh Yogi Adityanath, yang sedang dalam kunjungan ke Aligarh, langsung membatalkan seluruh jadwalnya dan kembali ke Lucknow untuk memantau operasi penyelamatan.

Perdana Menteri Narendra Modi menyampaikan duka mendalam atas tragedi ini dan mengumumkan bantuan sebesar 2 lakh rupee (sekitar Rp38 juta) bagi keluarga korban yang meninggal dan 50.000 rupee (sekitar Rp9,5 juta) bagi korban luka. Presiden Droupadi Murmu dan Wakil Presiden juga menyampaikan belasungkawa. Insiden ini terjadi beberapa minggu setelah kebakaran di sebuah restoran di Delhi Selatan yang menewaskan lebih dari 20 orang, memicu pertanyaan baru tentang kepatuhan keselamatan kebakaran di gedung-gedung komersial.

Tragedi di Lucknow pada 22 Juni 2026 menjadi pengingat pahit akan pentingnya standar keselamatan kebakaran yang ketat di gedung-gedung komersial dan pusat pelatihan. Keberadaan toko hewan dengan bahan mudah terbakar di lantai dasar, serta kurangnya jalur evakuasi yang memadai di lantai atas, menjadi faktor yang memperparah korban jiwa. Investigasi awal menunjukkan bahwa gedung tersebut hanya memiliki satu tangga darurat dan tidak memiliki izin keselamatan kebakaran (No Objection Certificate/NOC) yang valid.

Ke depan, pemerintah India diharapkan dapat menegakkan regulasi keselamatan kebakaran secara lebih ketat, termasuk pemeriksaan rutin terhadap fasilitas yang menampung banyak orang, serta memastikan ketersediaan alat pemadam api dan jalur evakuasi yang jelas di setiap gedung bertingkat. Selain itu, edukasi tentang prosedur evakuasi darurat bagi para pelajar dan pekerja juga menjadi langkah penting untuk mencegah tragedi serupa terulang di masa mendatang. Kasus ini juga menyoroti perlunya pengawasan yang lebih ketat terhadap bangunan-bangunan yang beroperasi tanpa izin keselamatan yang lengkap, terutama yang digunakan sebagai tempat pendidikan dan pelatihan bagi anak-anak dan remaja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *