Haaland Jalani Diet 6.000 Kalori Berbasis Pangan Lokal, Cita-cita Pensiun Jadi Petani
Erling Haaland, mesin gol Norwegia yang kini menjadi salah satu sorotan utama Piala Dunia 2026, membuktikan bahwa performa kelas dunia tidak hanya dibangun dari latihan keras di lapangan. Di balik tubuhnya yang kuat dan siap bertanding, ada asupan pangan berkualitas yang menjadi sumber energi dan nutrisi.
Pemain berusia 25 tahun itu menjalani diet harian yang mencapai sekitar 6.000 kalori, hampir dua kali lipat asupan orang dewasa pada umumnya. Namun yang membedakan Haaland dari kebanyakan atlet lain adalah komitmennya terhadap makanan utuh, alami, dan diproduksi secara lokal. Ia sepenuhnya menghindari makanan olahan, gula rafinasi, dan suplemen protein kemasan.
Menu harian Haaland mencerminkan kerja panjang dari rantai pertanian dan peternakan. Ia mengonsumsi jantung sapi, hati sapi, steak Tomahawk, madu mentah, kakap, asparagus, nasi goreng telur, dan susu dalam jumlah besar. “Kamu tidak makan ini, tapi saya peduli dengan tubuh saya,” ujar Haaland dalam film dokumenter ‘Haaland: The Big Decision’, seraya menegaskan bahwa kualitas makanan adalah segalanya.
Haaland secara khusus menyoroti pentingnya mengonsumsi makanan yang diproduksi secara lokal. “Saya pikir yang terpenting adalah mengonsumsi makanan berkualitas dan, jika memungkinkan, diproduksi secara lokal,” jelasnya. Ia bahkan membedakan secara tegas antara daging dari restoran cepat saji dengan daging sapi dari sapi yang merumput di padang rumput lokal.
Salah satu bahan makanan favorit Haaland adalah susu mentah yang ia peroleh langsung dari sebuah peternakan di Cheshire, Inggris. Ia menyebut susu sebagai “superfood” yang baik untuk lambung, kulit, tulang, dan otot. Setiap pagi ia minum segelas susu mentah dan segelas lagi setelah latihan.
Kunjungannya ke peternakan setempat untuk membeli susu dan madu menjadi bagian dari rutinitas yang ia dokumentasikan di kanal YouTube-nya. Peternakan yang ia kunjungi, Greenoaks Farm, memelihara 16 sapi perah yang memproduksi hingga 200 liter susu per hari dengan sistem di mana anak sapi tetap bersama induknya hingga masa sapih. Model peternakan ini menekankan kesejahteraan hewan dan ketertelusuran produk, dua nilai yang sangat dihargai Haaland.
Di balik tubuh atletis dan ketatnya jadwal pertandingan, Haaland memiliki mimpi yang jauh dari gemerlap stadion. Ia bercita-cita pensiun dari sepak bola untuk menjadi petani di kampung halamannya, Bryne, Norwegia. “Saya ingin setelah pensiun memiliki sebuah peternakan kecil. Saya tidak tahu di mana, tapi saya cukup yakin akan memelihara beberapa hewan,” ungkapnya.
Bagi Haaland, berada di peternakan adalah cara untuk “mematikan otak sepak bola”-nya dan melepas penat. “Saya suka melakukan banyak hal untuk mematikan otak sepak bola saya, salah satunya adalah berada di peternakan, mengemudikan traktor, atau memberi makan sapi,” katanya. Impiannya bukan sekadar memiliki lahan, tetapi menjalani hari-hari sebagai petani sungguhan, mengemudikan traktor, memberi makan ternak, dan merawat padang rumput.
Kisah Haaland adalah pengingat bahwa pangan berkualitas yang dikonsumsi atlet-atlet terbaik dunia lahir dari proses panjang yang melibatkan banyak tangan. Ada petani yang menanam, peternak yang merawat, serta seluruh rantai pertanian yang memastikan pangan tersedia dan berkualitas. Dari pertanian, lahirlah energi bagi para atlet untuk bergerak, berprestasi, dan menaklukkan panggung dunia. Haaland sendiri, dengan segala pencapaiannya di lapangan hijau, telah menunjukkan bahwa menghargai makanan dari peternakan dan pertanian lokal bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan bagian dari fondasi kesuksesan seorang juara.
