Wing Udara 2 Puspenerbal Gelar Latihan Terbang Malam, Libatkan Enam Skuadron dan KRI Prabu Siliwangi-321
TNI Angkatan Laut melalui Wing Udara 2 Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) melaksanakan latihan terbang malam sebagai bagian dari program pembinaan kemampuan penerbangan guna meningkatkan kesiapsiagaan operasional dan profesionalisme prajurit udara dalam menghadapi berbagai tantangan penugasan, Rabu (22/7). Latihan ini menjadi agenda rutin yang dirancang untuk memastikan setiap prajurit udara tetap memiliki kemampuan terbaik dalam menjalankan tugas di segala kondisi, termasuk saat operasi malam hari yang memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi.
Latihan tersebut melibatkan jajaran Wing Udara 2, yakni Skuadron Udara 100, Skuadron Udara 200, Skuadron Udara 400, Skuadron Udara 600, dan Skuadron Udara 800. Selain itu, latihan juga didukung unsur KRI Prabu Siliwangi-321 dari Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Koarmada II sebagai bentuk sinergi dan interoperabilitas antara unsur udara dan kapal perang dalam mendukung pelaksanaan operasi TNI Angkatan Laut. Keterlibatan kapal perang dalam latihan ini menjadi penting untuk menguji koordinasi antara pesawat dan kapal dalam berbagai skenario operasi.
Pelaksanaan latihan terbang malam memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi karena menuntut kemampuan navigasi, komunikasi, serta koordinasi yang presisi di tengah keterbatasan jarak pandang. Kondisi gelap dan minimnya referensi visual membuat para penerbang harus mengandalkan instrumen dan sistem navigasi yang canggih untuk menjaga arah dan ketinggian. Oleh karena itu, latihan ini menjadi sarana untuk menguji kesiapan personel, alutsista, serta efektivitas prosedur operasi terpadu antara unsur udara dan unsur laut. Setiap manuver yang dilakukan diuji ketepatannya melalui simulasi dan evaluasi berlapis.
Pesawat-pesawat yang terlibat dalam latihan ini menjalankan berbagai skenario, mulai dari patroli udara, pengintaian, hingga latihan pencegatan dan serangan taktis di malam hari. Seluruh rangkaian latihan dirancang untuk menguji kemampuan personel dalam mengoperasikan alutsista di bawah tekanan dan memastikan bahwa prosedur keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Komunikasi antara pesawat dan KRI Prabu Siliwangi-321 terus berlangsung intensif sepanjang latihan, menunjukkan tingkat koordinasi yang tinggi antara kedua unsur.
Komandan Wing Udara 2, Kolonel Laut (P) Oscar Johanes Novie, menegaskan bahwa latihan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun profesionalisme prajurit udara yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi dinamika operasi modern. Menurutnya, kemampuan terbang malam menjadi salah satu indikator utama kesiapan operasional satuan udara yang harus terus dipelihara melalui latihan yang terencana, berkesinambungan, dan tetap mengedepankan aspek keselamatan penerbangan. Tanpa latihan yang rutin, kemampuan teknis dan ketajaman insting para penerbang dapat menurun seiring waktu.
Dalam latihan ini, para penerbang juga dilatih untuk bekerja sama dengan awak kapal perang dalam operasi amfibi dan dukungan logistik. Keterampilan ini sangat penting mengingat TNI AL sering terlibat dalam operasi gabungan yang memerlukan koordinasi lintas matra. Dengan memahami taktik dan prosedur masing-masing unsur, sinergi antara udara dan laut dapat berjalan lebih efektif dan efisien.
Kesiapsiagaan operasional juga mencakup kemampuan untuk merespons ancaman dengan cepat. Latihan terbang malam membantu mempersiapkan personel terhadap berbagai situasi darurat, seperti kondisi cuaca buruk, kegagalan sistem, atau operasi penyelamatan di laut. Keahlian dalam menghadapi situasi tak terduga menjadi salah satu aset berharga yang terus diasah melalui kegiatan seperti ini.
Kegiatan ini sejalan dengan arahan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali agar seluruh prajurit TNI Angkatan Laut senantiasa meningkatkan profesionalisme, kesiapan operasional, dan interoperabilitas antarsatuan melalui latihan yang berkelanjutan. Dengan semangat terus belajar dan berlatih, setiap prajurit udara diharapkan mampu menjaga keunggulan dan kesiapan tempur, kapan pun dan di mana pun mereka dibutuhkan. Malam itu, langit Surabaya menjadi saksi dari kerja keras dan pengabdian para prajurit yang tak kenal lelah menjaga kedaulatan negara dari udara.
