China Kerahkan PLA dan Tim Penyelamat ke Gyirong, 558 Orang Hilang
Otoritas China mengerahkan kekuatan penyelamatan dari berbagai unsur setelah tanah longsor besar yang berasal dari wilayah Nepal menerjang kawasan Gyirong Port, di perbatasan China-Nepal, wilayah otonom Xizang. Operasi penyelamatan dilakukan dalam kondisi yang sangat sulit. Hujan masih berlangsung, medan pegunungan sangat terjal dan sempit, sementara ancaman longsor serta banjir susulan masih membayangi kawasan bencana.
Korban dan Korban Hilang
Hingga Kamis (27/8), tiga orang dikonfirmasi meninggal dunia, dua orang berhasil diselamatkan, sementara 558 orang masih dinyatakan hilang. Dari jumlah tersebut, 260 merupakan warga negara asing.
Pengerahan PLA dan Tim Penyelamat
Operasi tidak hanya melibatkan petugas pemadam dan penyelamat sipil. China mengerahkan unsur People’s Liberation Army (PLA), tim teknik, operator telekomunikasi, tenaga darurat serta organisasi bantuan. Pesawat, kendaraan berat, drone, alat pendeteksi korban dan perangkat komunikasi satelit dikirim menuju lokasi.
Salah satu unsur yang dikerahkan adalah kelompok pengarah dari Western Theater Command PLA, yang diterbangkan menggunakan pesawat angkut Y-20 untuk membantu mengoordinasikan operasi bantuan di wilayah terdampak. Tim teknik juga membawa drone, stasiun komunikasi satelit dan pemindai laser 3D untuk memetakan kondisi medan serta memeriksa potensi bahaya di bagian hulu.
Ancaman Danau Bendungan Alami
Salah satu kekhawatiran terbesar berada di bagian hulu sungai. Kementerian Sumber Daya Air China menyebut telah terbentuk danau bendungan alami atau barrier lake di sekitar pertemuan Sungai Chhochen Khola dan Purepu Tsangpo di Nepal. Pada Kamis pagi, volume airnya diperkirakan mencapai sekitar 2 juta meter kubik dan danau tersebut telah mulai meluap.
Pemerintah China memperkirakan tambahan sekitar 3 juta meter kubik air dapat masuk dalam tiga hari berikutnya. Kondisi tersebut membuat kemungkinan jebolnya bendungan alami menjadi salah satu risiko utama bagi operasi penyelamatan.
Bencana Bermula dari Sisi Nepal
Tanah longsor besar terjadi di sisi Nepal dari kawasan perbatasan Himalaya. Material lumpur dan batu kemudian masuk ke aliran sungai dan menyebabkan banjir bandang yang berdampak hingga wilayah Gyirong di Xizang. Situasi di Nepal sendiri jauh lebih luas. Banjir dan longsoran di kawasan perbatasan telah menyebabkan korban jiwa dan orang hilang dalam jumlah besar, sementara operasi pencarian dilakukan secara bersamaan di kedua sisi perbatasan.
Berpacu dengan Waktu
Yang membuat operasi semakin berat adalah kombinasi hujan, medan pegunungan, akses yang rusak dan ancaman bencana kedua. Tim penyelamat harus bergerak cepat untuk menemukan korban yang kemungkinan masih hidup, tetapi pada saat yang sama tidak bisa sembarangan memasuki wilayah yang belum dinyatakan aman.
Pengerahan pesawat, pasukan, alat berat, drone, sistem komunikasi dan tim teknik menunjukkan bahwa operasi di Gyirong bukan lagi sekadar pencarian lokal, melainkan telah menjadi operasi penyelamatan berskala besar. Data korban masih terus bergerak karena operasi pencarian berlangsung, bahkan penyebab geologis dan dampak keseluruhan di Nepal masih terus diperbarui oleh pihak berwenang.
