September 1, 2026

Korban Tewas Banjir Nepal-Tibet Melonjak Jadi 586 Orang, Lebih dari 2.400 Hilang

IMG-20260830-WA0000

Jumlah korban tewas akibat banjir bandang dahsyat yang melanda perbatasan Nepal dan Tibet, China, pada Rabu (26/8/2026) melonjak menjadi 586 orang, sementara lebih dari 2.400 lainnya masih dinyatakan hilang. Tim penyelamat pun menemukan sejumlah jasad yang terseret arus hingga ke wilayah India.

Korban Tewas dan Hilang Terus Bertambah

Berdasarkan data terbaru yang dihimpun pada Sabtu (29/8), lonjakan korban terjadi secara signifikan. Di Nepal, otoritas penanggulangan bencana melaporkan sedikitnya 579 orang tewas. Sementara itu, di wilayah Tibet, China, jumlah korban jiwa dilaporkan mencapai 7 orang.

Jumlah orang hilang juga mengalami peningkatan drastis. Secara total, terdapat 2.478 orang yang masih belum ditemukan, dengan rincian 1.924 orang di Nepal dan 554 orang di Tibet. Di antara korban hilang tersebut, terdapat 933 pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Nepal serta 777 warga negara asing. Banyak dari warga asing ini adalah turis dan peziarah yang sedang dalam perjalanan menuju Gunung Kailash di Tibet.

Bencana Berantai dari Runtuhnya Gletser

Bencana ini dipicu oleh runtuhnya sebagian besar gletser di Taman Nasional Langtang, yang kemudian meluncur ke lembah Sungai Lhende Khola. Runtuhan gletser tersebut membawa jutaan meter kubik air, lumpur, es, dan batuan. Ahli geomorfologi mencatat bahwa aliran banjir ini bergerak dengan kecepatan ekstrem, melebihi 93 mil per jam (sekitar 150 km/jam) saat menghantam pos perbatasan Gyirong Port di Tibet hanya dalam 7,5 menit setelah gletser runtuh.

Kecepatan dan kekuatan air yang luar biasa ini menyebabkan kehancuran yang masif. Pos perbatasan hancur total, dan berbagai infrastruktur seperti pembangkit listrik, jalan, serta jembatan di sekitarnya rusak berat. Di sisi Nepal, militer berupaya mengevakuasi orang-orang yang terjebak di dalam terowongan proyek PLTA Trishuli 3A. Dua helikopter telah dikerahkan, namun upaya penyelamatan terkendala karena sulitnya menemukan titik masuk terowongan.

Upaya Pencarian Terhambat Ancaman Banjir Susulan

Operasi pencarian dan penyelamatan yang digencarkan tim darurat menghadapi hambatan besar akibat kekhawatiran akan banjir susulan. Luapan air yang membawa bongkahan es dan lumpur telah membentuk danau-danau besar yang menjadi ancaman langsung bagi para petugas. Polisi Nepal sempat mendesak tim penyelamat untuk segera berpindah ke lokasi yang aman setelah ada laporan bahwa “bendungan air kembali jebol di sisi Tibet”.

Di Tibet, otoritas China menghentikan sementara operasi penyelamatan di wilayah terdampak parah, Gyirong, karena risiko banjir susulan sebelum akhirnya ancaman tersebut dinyatakan mereda. Palang Merah Internasional memperkirakan bahwa sekitar 93.000 orang kemungkinan terdampak langsung oleh bencana ini dan memerlukan bantuan darurat mendesak. Proses pencarian korban yang masih hilang terus berlanjut di tengah medan yang sulit dan tertutup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *