Spanyol Minta Bantuan UE untuk Memproses Ribuan Migran di Ceuta
Spanyol secara resmi meminta bantuan Uni Eropa untuk menangani ribuan migran yang masih berada di Ceuta, eksklave Spanyol di Afrika Utara, hampir sebulan setelah puluhan ribu orang menerobos perbatasan dari Maroko. Permintaan tersebut diajukan Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska kepada Komisi Eropa pada Jumat (28/8/2026) .
Ribuan Migran Masih Bertahan di Ceuta
Otoritas setempat memperkirakan antara 5.000 hingga 8.000 orang masih berada di Ceuta setelah setidaknya 72.000 orang menyeberang dari Maroko pada 30 Juli lalu . Dalam peristiwa tersebut, 82 migran tewas di sisi perbatasan Spanyol, sementara 14 kematian tambahan dikonfirmasi oleh Maroko .
Marlaska mengirimkan surat permintaan kepada Beate Gminder, Direktur Jenderal Komisi Eropa untuk Migrasi dan Urusan Dalam Negeri, untuk mendapatkan bantuan dari Frontex guna melakukan penyaringan terhadap migran yang berada di wilayah tersebut secara ilegal .
Bantuan yang Diminta Spanyol
Dalam permintaannya, Spanyol meminta tambahan 10 petugas dari Frontex untuk membantu proses penyaringan migran . Selain itu, Spanyol juga meminta bantuan Europol dan Badan Uni Eropa untuk Suaka (EUAA) untuk “memperkuat perangkat yang disiapkan untuk mengelola penanganan triase dan pemrosesan berkas pribadi para imigran yang masih berada di Ceuta secara tidak teratur” .
Spanyol juga meminta perpanjangan Operasi Minerva, inisiatif bersama antara polisi Spanyol dan Frontex, hingga 2 September 2026 . Karena keterbatasan ruang di Ceuta, proses triase diperkirakan akan dilakukan secara elektronik .
Ketegangan Meningkat di Ceuta
Permintaan bantuan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Ceuta setelah serangkaian protes oleh warga setempat yang menuntut para migran pergi . Tenda-tenda yang digunakan migran di Pantai Trampolin, tempat banyak dari mereka berkemah, diserang dan dibakar .
Pada Kamis (27/8), dua belas migran ditangkap setelah melempari kendaraan militer dengan batu, melukai satu tentara dan empat migran . Sebelas migran kemudian dideportasi dari Ceuta . Dua penangkapan tambahan dilakukan setelah migran menyerang seorang petugas polisi .
Ceuta di Ambang Keruntuhan
Majelis Ceuta secara bulat meminta pemerintah pusat untuk bertindak “segera dan tanpa penundaan lebih lanjut”, dengan alasan kota tersebut berada dalam “situasi ekstrem, di ambang keruntuhan” . Presiden Ceuta Juan Vivas memperingatkan, “Ceuta telah kehilangan cara hidup dan ketenangannya. Kami tidak punya banyak waktu untuk mencegah bencana” .
Deklarasi institusional yang disetujui menyerukan kembalinya para migran ke negara asal mereka “sesuai dengan hukum” dan mendukung hak warga untuk berdemonstrasi selama dilakukan “secara damai dan tertib” .
Respons Uni Eropa
Komisioner Migrasi Uni Eropa, Magnus Brunner, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima permintaan bantuan tambahan dari Spanyol dan saat ini sedang menganalisisnya . Uni Eropa disebut telah mulai bekerja untuk menawarkan penguatan dari Frontex dan Europol guna mengatasi situasi yang masih “kompleks” di Ceuta .
Krisis migran di Ceuta menjadi ujian berat bagi kebijakan imigrasi Spanyol dan solidaritas Uni Eropa dalam menghadapi lonjakan migrasi yang tidak terduga.
