Sebulan Pasca-Krisis Migran, Ceuta Masih Berjuang Mengatasi Ratusan Migran yang Bertahan
Lebih dari sebulan setelah gelombang masuknya lebih dari 70.000 migran ke Ceuta, eksklave Spanyol di Afrika Utara, situasi di kota tersebut masih jauh dari kata normal. Ribuan migran masih bertahan di jalanan, menunggu keputusan suaka, transfer ke pusat penampungan, atau proses pemulangan.
Ribuan Migran Masih Bertahan
Gelombang penyeberangan besar-besaran yang terjadi pada 30 dan 31 Juli 2026 lalu melibatkan lebih dari 72.000 migran ilegal yang menerobos perbatasan Maroko menuju Ceuta. Meskipun sebagian besar telah kembali ke Maroko, diperkirakan sekitar 5.000 migran masih bertahan di Ceuta hingga akhir Agustus.
Jumlah ini lebih tinggi dari klaim awal pemerintah Spanyol yang menyebut sekitar 2.500 migran masih berada di Ceuta. Sementara itu, pihak Maroko memperkirakan sekitar 40.000 orang telah memasuki Ceuta.
Tantangan Akomodasi Terus Berlanjut
Salah satu tantangan terbesar adalah menyediakan tempat tinggal bagi para migran yang tersisa. Pada 20 Agustus, otoritas Spanyol mengerahkan sekitar 700 petugas untuk membongkar kamp-kamp darurat di Playa del Trampolín, pantai yang selama tiga minggu menjadi tempat tinggal bagi ratusan migran, sebagian besar dari Afrika Sub-Sahara.
Sekitar 1.700 migran dipindahkan dari pantai tersebut ke pusat penampungan sementara. Pemerintah Spanyol telah mengaktifkan 1.800 tempat penampungan dan terus menambah kapasitasnya. Namun, beberapa migran dilaporkan kembali ke pantai karena khawatir pemindahan tersebut merupakan langkah awal untuk dikembalikan ke Maroko.
Upaya Pemrosesan dan Pemulangan
Otoritas Spanyol telah membuka pusat penampungan sementara di Loma Margarita dan El Embolsamiento, serta berencana menggunakan fasilitas di dekat perbatasan Tarajal sebagai tempat pemrosesan sementara bagi migran yang menjalani prosedur identifikasi dan pemulangan.
Pemerintah Spanyol juga telah menyetujui rancangan reformasi undang-undang imigrasi dan suaka untuk mempercepat prosedur perbatasan pasca-krisis Ceuta. Sejak 10 Agustus, lebih dari 3.200 migran telah kembali ke Maroko melalui program pemulangan sukarela.
Bantuan Uni Eropa
Menghadapi krisis yang berkepanjangan, Spanyol secara resmi meminta bantuan darurat dari Uni Eropa. Madrid meminta dukungan Frontex (Badan Penjaga Perbatasan dan Pantai Eropa) dan Europol untuk membantu proses identifikasi dan pemeriksaan migran yang masih berada di Ceuta.
Komisi Eropa menyatakan sedang menilai permintaan bantuan darurat Spanyol yang mencapai hingga 115 juta euro. Uni Eropa juga telah meningkatkan bantuan kemanusiaan untuk Ceuta menjadi 44,5 juta euro.
Situasi yang Masih Kompleks
Satu bulan setelah krisis, Ceuta masih berada dalam keadaan tegang. Presiden Ceuta, Juan Vivas, sebelumnya menyatakan kota tersebut berada “di ambang kehancuran”. Sementara itu, warga setempat mengeluhkan ketidaknyamanan dan ketegangan yang masih berlanjut.
Dengan ribuan migran yang masih menunggu keputusan nasib mereka, tantangan bagi Spanyol dan Uni Eropa untuk menemukan solusi jangka panjang bagi krisis migran di Ceuta masih jauh dari selesai.
