September 1, 2026

Bangka Belitung, Lumbung Thorium yang Jadi Kunci Transisi Energi Indonesia

IMG-20260831-WA0056

Bangka Belitung tidak hanya menyimpan kejayaan timah, tetapi juga menjadi rumah bagi hamparan monasit melimpah yang menyimpan thorium sebagai komoditas energi masa depan. Mineral fosfat yang dulunya sering dianggap limbah sisa penambangan ini kini dilirik dunia karena kandungan bahan bakar nuklir hijaunya yang luar biasa.

Berbeda dengan uranium konvensional, thorium menawarkan alternatif energi yang jauh lebih bersih, sangat efisien, dan memiliki risiko radiasi yang minimal. Potensi raksasa yang tertidur di bawah tanah Negeri Serumpun Sebalai ini digadang-gadang mampu memasok kebutuhan listrik bersih skala besar bagi Indonesia untuk ratusan tahun ke depan.

Cadangan Thorium Berlimpah di Bumi Serumpun Sebalai

Hasil penelitian Badan Tenaga Nuklir Nasional pada 2009 menunjukkan bahwa seluas 400.000 hektare lahan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengandung kadar thorium sebesar 120.000 ton, uranium 24.000 ton, dan unsur logam tanah jarang sekitar 7.000.000 ton.

PT Timah Tbk sendiri mengaku memiliki potensi cadangan monasit sekitar 25.700 ton di wilayah Bangka, dengan sumber daya logam tanah jarang dalam bentuk mineral monasit lebih dari 186 ribu ton.

Thorium dan uranium di Pulau Bangka terutama ditemukan dalam mineral monasit, yang merupakan mineral ikutan dari proses penambangan timah aluvial. Monasit adalah mineral fosfat berwarna coklat kemerahan yang mengandung Logam Tanah Jarang seperti serium dan thorium.

Kekayaan ini membuat Bangka Belitung memiliki keunggulan dibandingkan daerah lain. “Salah satu potensi kita adalah lumbung energi yang berbasis thorium. Secara nasional thorium paling banyak itu disini,” ungkap Penjabat Gubernur Kepulauan Bangka Belitung.

Thorium untuk Energi Listrik Bebas Emisi

Thorium yang terkandung dalam logam tanah jarang dapat dioptimalkan menjadi sumber energi untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) menyatakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Thorium (PLTT) di Pulau Gelasa, Kabupaten Bangka Tengah, dapat menurunkan emisi karbon di Indonesia.

“Rencana pembangunan PLTT ini tentunya sejalan dengan program pemerintah pusat yang menginginkan zero emission 2060,” kata Plt Kepala Bapeten Sugeng Sumbarjo.

Ia menegaskan bahwa PLTT justru tidak menyumbangkan karbon, karena menghasilkan energi dari reaksi atom tanpa proses pembakaran. PLTT menjadi salah satu solusi paling potensial pengganti pembangkit batu bara karena tenaga thorium dianggap menjadi sumber energi listrik termurah oleh para ahli energi, selain tenaga matahari dan tenaga angin.

Investasi Rp17 Triliun untuk PLTT di Pulau Gelasa

PT ThorCon Power Indonesia telah menyiapkan dana investasi Rp17 triliun untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Thorium (PLTT) di Pulau Gelasa, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. ThorCon ingin berinvestasi mengembangkan dan membangun PLT Thorium 500 MW tanpa APBN, dan nantinya akan menjual listrik kepada PLN dengan kisaran harga yang kompetitif dengan batu bara.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga telah menjajaki kerja sama pembangunan PLTT untuk meningkatkan ketersediaan energi yang murah bagi masyarakat.

ThorCon sendiri telah memperoleh persetujuan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) untuk memulai evaluasi tapak di Pulau Kelasa. Bapeten bahkan telah melakukan verifikasi lapangan terhadap calon tapak pembangkit listrik tenaga nuklir Thorcon 500 di Pulau Kelasa pada Juli 2025.

Lebih Aman dari Uranium

Salah satu keunggulan thorium dibanding uranium adalah aspek keamanannya. Thorium tidak sama dengan uranium karena tidak bisa menjadi senjata. Pengayaan proses teknologinya juga berbeda, sehingga risikonya akan lebih terkendali dibandingkan uranium.

Chief Representative ThorCon International Pte. Ltd. Indonesia Representative Office, Bob S. Effendi, menegaskan bahwa teknologi PLTT yang akan dikembangkan ThorCon sangat aman karena tidak memiliki tekanan, berbeda dengan nuklir.

“Kami jamin aman, ini berbeda dengan nuklir yang memiliki tekanan, kalau thorium tidak memiliki tekanan,” katanya.

Stabilitas Geologi dan Lokasi Strategis

Langkah pemanfaatan harta karun hijau ini semakin diperkuat oleh kondisi geografis Kepulauan Bangka Belitung yang berada di zona relatif aman dari jalur gempa utama atau ring of fire. Faktor kestabilan geologi tersebut menjadikan wilayah ini sebagai lokasi paling strategis dan ideal untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir berbasis thorium generasi terbaru.

Melalui riset intensif dan rencana hilirisasi yang matang, optimalisasi monasit tidak hanya akan melepaskan ketergantungan Indonesia pada energi fosil, tetapi juga sekaligus memosisikan Bangka Belitung sebagai pionir transisi energi bersih dan ramah lingkungan di kancah global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *