BRICS DIUJI PERPECAHAN IRAN-UEA DI NEW DELHI, SELAT HORMUZ JADI TITIK API KRISIS ENERGI GLOBAL
Ininih.com — India membuka pertemuan Menteri Luar Negeri BRICS di New Delhi pada 14 Mei 2026 dengan beban yang tidak ringan: menyatukan 11 negara anggota yang memiliki posisi berseberangan dalam konflik paling mengguncang dunia saat ini. Kehadiran Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi — kunjungan tingkat tinggi pertama Teheran ke India sejak perang AS-Israel meletus pada 28 Februari — duduk semeja dengan wakil UEA yang berada di kubu berlawanan menjadikan forum ini ujian paling berat bagi kohesi BRICS sejak blok itu diperluas menjadi 11 anggota. Di atas semua itu, China hadir hanya melalui duta besarnya karena Wang Yi harus mendampingi kunjungan Trump di Beijing — sinyal politik yang tidak bisa diabaikan.
Satu Selat, Sebelas Kepentingan
Selat Hormuz adalah alasan mengapa BRICS FMM kali ini lebih dari sekadar pertemuan diplomatik rutin. Sekitar 20 persen minyak global dan sebagian besar LNG dunia melewati jalur sempit itu — dan sejak Iran memblokadenya, lebih dari 20.000 pelaut terdampar dan lebih dari 2.000 kapal komersial terjebak dalam berbagai pembatasan navigasi. India, yang bergantung pada impor minyak melalui Selat Hormuz, memiliki kepentingan langsung yang membuat pertemuan bilateral Jaishankar dengan Araghchi menjadi agenda paling substantif: pengamanan pergerakan kapal India yang masih terjebak di kawasan itu.
Rusia hadir dengan narasi yang lebih nyaman — Menlu Sergey Lavrov menegaskan Moskow terus memasok hidrokarbon dan menjadikan kerja sama energi nuklir sebagai inti hubungan bilateral dengan India. Indonesia datang dengan posisi yang lebih idealis: Menlu Sugiono mendorong BRICS menjadi kekuatan aktif penegak hukum internasional dan sistem perdagangan multilateral yang adil, bukan platform polarisasi. Namun di balik pernyataan-pernyataan itu, fakta paling keras tetaplah bahwa pertemuan wakil menteri sebulan sebelumnya gagal menghasilkan pernyataan bersama — tersandung pada perbedaan mendasar antara Iran yang ingin BRICS mengutuk AS-Israel, dan UEA yang berada di pihak berlawanan dalam konflik yang sama.
India di Persimpangan Empat Kepentingan
Tidak ada negara yang posisinya lebih rumit dari India dalam forum ini. Sebagai ketua BRICS 2026, New Delhi harus mengelola empat kepentingan yang saling menarik secara bersamaan: hubungan dengan Iran yang merupakan mitra energi dan pintu masuk ke Asia Tengah melalui pelabuhan Chabahar, hubungan dengan UEA dan Arab Saudi sebagai sumber investasi utama dan rumah bagi diaspora India terbesar, kemitraan strategis dengan AS dalam kerangka Quad dan Indo-Pasifik, serta ambisi India sendiri untuk memposisikan diri sebagai pemimpin Global South yang tidak memihak blok manapun. Setiap kalimat dalam pernyataan ketua yang akan dirilis Jaishankar akan dibaca sekaligus oleh Washington, Teheran, Riyadh, dan Abu Dhabi.
Ketidakhadiran Wang Yi menambah dimensi tersendiri. Beijing memilih mendampingi Trump daripada hadir di forum yang secara nominal merupakan salah satu platform multilateral terpenting China — sebuah keputusan yang mencerminkan prioritas strategis Beijing: hubungan bilateral dengan AS lebih mendesak untuk dikelola saat ini daripada solidaritas BRICS di forum New Delhi. Bagi negara-negara yang berharap BRICS menjadi penyeimbang tatanan global pimpinan AS, absennya menteri China adalah pengingat bahwa bahkan anggota terkuat blok ini belum sepenuhnya memutus kalkulasinya dari Washington.
Relevansi yang Harus Dibuktikan di September
BRICS kini mewakili sekitar 49,5 persen populasi global, 40 persen PDB dunia, dan 26 persen perdagangan global — angka yang secara nominal menjadikannya kekuatan yang tidak bisa diabaikan. Tetapi angka agregat tidak otomatis diterjemahkan menjadi kekuatan politik jika di dalam blok itu Iran dan UEA tidak bisa menyepakati satu kalimat tentang konflik yang sedang berlangsung. FMM New Delhi adalah pemanasan untuk KTT para pemimpin BRICS di India pada September 2026 — dan jika forum tingkat menteri ini gagal menghasilkan pernyataan bersama yang bermakna, preseden itu akan membayangi KTT September dengan pertanyaan yang lebih keras: apakah BRICS relevan ketika dunia benar-benar membutuhkannya, atau hanya kuat di atas kertas ketika krisis tidak menyentuh kepentingan anggotanya secara langsung?
