TRUMP DAN XI : DUA RAJA UTANG DUNIA, BEBAN US$57 TRILIUN BAYANGI MEJA PERUNDINGAN BEIJING
Ininih.com — Di balik agenda perdagangan dan geopolitik KTT Beijing 13-14 Mei, ada konteks fiskal yang jarang disebut secara eksplisit tetapi menentukan ruang gerak kedua pemimpin: AS memiliki utang pemerintah US38,3 triliun atau sekitar 123 persen dari PDB, sementara China menanggung utang pemerintah US18,7 triliun dengan total utang — termasuk sektor swasta — mencapai sekitar 298 persen dari PDB.
Dua raja utang dunia duduk di meja yang sama, masing-masing membawa beban yang membatasi seberapa jauh mereka bisa berkompromi tanpa memicu reaksi pasar terhadap keberlanjutan fiskal negaranya.
Ketika Utang Menjadi Konteks Diam-Diam
Institut Keuangan Internasional (IIF) mencatat bahwa utang global melonjak sekitar US$29 triliun hanya dalam satu tahun terakhir — laju yang mencerminkan belanja darurat dari pandemi, konflik, dan transisi energi yang belum selesai dibayar. AS dan China bersama-sama menyumbang porsi terbesar dari angka itu.
Setiap kebijakan yang lahir dari KTT Beijing akan dibaca pasar bukan hanya dari substansi diplomatiknya, tetapi dari implikasi fiskalnya: apakah kesepakatan ini menambah beban belanja, mempersempit ruang defisit, atau sebaliknya membuka jalur pembiayaan baru.
Tekanan ini paling nyata pada AS. Biaya perang Iran sudah mencapai US$29 miliar dan terus naik. Defisit anggaran federal melebar. The Fed tidak bisa memangkas suku bunga karena inflasi 3,8 persen yang dipicu konflik energi.
Dalam kondisi itu, setiap dolar yang dikeluarkan untuk komitmen baru — baik paket senjata Taiwan, subsidi industri dalam negeri, maupun operasi militer lanjutan — adalah dolar yang semakin mahal untuk dibiayai. China menghadapi versi berbeda dari masalah yang sama: deflasi, krisis properti yang belum tuntas, dan ketergantungan pada stimulus untuk menopang pertumbuhan yang mulai kehilangan momentum.
Risiko yang Tidak Bisa Didelegasikan
Kedua negara kini berada dalam situasi di mana pilihan kebijakan domestik mereka memiliki eksternalitas global yang tidak proporsional. Jika AS menaikkan defisit untuk mendanai belanja militer dan industri tanpa reformasi struktural, yield obligasi AS akan naik dan menekan biaya pembiayaan negara berkembang di seluruh dunia.
Jika China membiarkan utang sektor swastanya terus menggelembung tanpa restrukturisasi serius, koreksi yang terjadi tidak akan berhenti di batas wilayahnya.
IMF dan IIF akan terus memantau rasio utang-PDB dan defisit fiskal kedua negara sebagai indikator utama stabilitas keuangan global. KTT Beijing bisa menghasilkan gestur stabilisasi yang menenangkan pasar dalam jangka pendek — pembelian Boeing, forum perdagangan, komitmen rare earth.
Tetapi selama kedua negara tidak menunjukkan komitmen nyata terhadap keberlanjutan fiskal jangka menengah, setiap kesepakatan yang lahir dari Beijing hanyalah pereda sementara di atas fondasi utang yang terus mengeras. Pasar tahu itu, bahkan jika kedua pemimpin memilih untuk tidak mengatakannya secara terbuka.
