Juli 19, 2026

Bupati Merangin Dukung Program B50, Sawit Jadi Pilar Kemandirian Energi Nasional

IMG_20260708_133523

Bupati Merangin, Muhammad Syukur, menyatakan dukungan penuh terhadap program B50, yakni campuran 50 persen biodiesel berbahan minyak sawit dan 50 persen solar, sebagai langkah memperkuat kemandirian energi nasional. Program B50 yang mulai diimplementasikan pada 1 Juli 2026 ini merupakan kelanjutan dari kebijakan mandatori biodiesel yang telah dimulai dengan B30 pada 2020 dan B35 pada 2023. Pengembangan biodiesel sawit diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil, menghemat devisa, dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor hilir.

Menurut Syukur, program tersebut tidak hanya bertujuan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil, tetapi juga mendorong hilirisasi industri sawit yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hilirisasi sawit melalui biodiesel diyakini dapat meningkatkan nilai tambah komoditas ini dan mengurangi ekspor CPO mentah yang selama ini mendominasi. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku industri agar sawit tidak hanya menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga menjadi penggerak pembangunan perkebunan yang berkelanjutan dan berpihak kepada rakyat.

Berdasarkan Sensus Pertanian 2023 Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi, terdapat sekitar 271 ribu pelaku usaha perkebunan sawit di Jambi. Luas perkebunan sawit mencapai hampir 1,2 juta hektare dengan produksi lebih dari 2,7 juta ton minyak kelapa sawit (CPO) sepanjang 2023. Angka ini menunjukkan potensi besar Jambi sebagai pemasok bahan baku biodiesel dan sekaligus menjadi tantangan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Syukur berharap pengembangan sektor sawit dapat menjadi instrumen peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan sekaligus menjawab tantangan global terkait keberlanjutan. Ke depannya, dukungan terhadap program B50 harus diiringi dengan penerapan praktik perkebunan sawit berkelanjutan, termasuk mengurangi deforestasi, melindungi lahan gambut, dan meningkatkan produktivitas tanpa perluasan lahan baru. Dengan demikian, industri sawit tidak hanya menjadi penyumbang devisa tetapi juga menjadi bagian dari solusi ketahanan energi dan pembangunan pedesaan yang inklusif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *