Juni 3, 2026

China Desak Hubungan Stabil usai Peringatan Keras AS

images (2)

China Desak Hubungan Stabil dengan Amerika Serikat dalam forum IISS Shangri-La Dialogue 2026 di Singapura. Permintaan itu disampaikan Mayor Jenderal PLA Meng Xiangqing sebagai respons langsung atas pernyataan Kepala Pentagon Pete Hegseth yang menyoroti ‘alarm’ penumpukan militer Beijing.

Meng Xiangqing yang mewakili China karena Menteri Pertahanan Li Shangfu tidak hadir, secara terbuka menyerukan agar AS membangun hubungan yang lebih konstruktif, strategis, dan stabil. Pidatonya pada Sabtu (30/5/2026) menjadi bantahan halus namun tegas atas nada peringatan yang dilontarkan Hegseth sehari sebelumnya.

“Stabilitas hubungan China dan Amerika Serikat tidak hanya penting bagi kedua negara, tetapi juga berpengaruh terhadap stabilitas kawasan serta perdamaian dunia,” ujar Meng. Ia mendorong kedua belah pihak untuk bekerja berdasarkan konsensus para pemimpin masing-masing dan memperkuat hubungan militer yang sehat, stabil, dan berkelanjutan.

Seruan itu muncul tepat setelah Pete Hegseth dalam pidato pembukaannya pada Jumat (29/5/2026) menyebut bahwa ancaman dari China bersifat nyata dan bisa terjadi segera. Kepala Pentagon itu menegaskan tidak ada alasan untuk menutup-nutupi fakta bahwa Beijing secara kredibel tengah mempersiapkan diri menggunakan kekuatan militer guna mengubah keseimbangan kekuatan di Indo-Pasifik.

Hegseth secara spesifik menyoroti pembangunan kemampuan militer China untuk menyerang Taiwan. Menurutnya, latihan militer Beijing tidak lagi bersifat simulasi, melainkan persiapan menghadapi situasi nyata. Ia juga mendorong sekutu-sekutu AS di kawasan untuk mempercepat transformasi pertahanan dan meningkatkan belanja militer.

Jangan salah paham, Amerika adalah negara Pasifik, dan kami bersikeras agar China menghormati posisi kami yang telah lama ada di kawasan ini,” tegas Hegseth. Washington akan lebih mengedepankan kemampuan tempur efektif dibanding sekadar demonstrasi kekuatan.

Dalam forum yang berlangsung 29–31 Mei 2026 tersebut, Meng Xiangqing tidak hanya merespons pernyataan Hegseth. Ia juga melontarkan kritik terhadap kebijakan pertahanan Australia dan Jepang. Menurutnya, kerja sama AUKUS yang mengembangkan kapal selam bertenaga nuklir untuk Australia merupakan langkah destabilisasi.

Lebih jauh, Meng menyoroti kekhawatiran atas kemungkinan perubahan prinsip non-nuklir Jepang. Ia menyebut bahwa wacana penempatan senjata nuklir sekutu di wilayah Jepang akan memperburuk ketegangan kawasan. Kondisi ini, kata Meng, terjadi saat kekuatan nuklir utama dunia sedang berada dalam kondisi tanpa perjanjian, tanpa mekanisme verifikasi, dan tanpa dialog memadai.

Peringatan Meng tentang meningkatnya risiko konflik nuklir global menjadi nada yang kontras dengan pendekatan ofensif Hegseth. Meski tidak bertemu langsung, kedua delegasi saling beradu argumen melalui pidato berurutan. China memilih diplomasi hati-hati, sementara AS mengedepankan kekuatan nyata.

Forum Shangri-La Dialogue tahun ini mencatat ketidakhadiran Menteri Pertahanan China. Namun China tetap menjadi pusat diskusi. Para analis menilai ketegangan yang terpapar di panggung Singapura mencerminkan memburuknya iklim kepercayaan antara dua militer terbesar dunia.

Dari sisi substansi, Hegseth menekankan strategi pencegahan melalui penolakan di sepanjang rantai pulau pertama. AS akan memperkuat postur pertahanan di Pasifik Barat dan mengandalkan aliansi nyata. Sementara itu, Meng terus mengulang narasi stabilitas bersama dan menghindari eskalasi.

Yang menarik, tidak ada satupun dari kedua belah pihak yang menyebut kemungkinan dialog militer langsung tingkat tinggi dalam waktu dekat. Padahal risiko gesekan di Laut China Selatan dan Selat Taiwan terus meningkat seiring dengan peningkatan patroli dan latihan bersama.

Para pengamat keamanan yang hadir di Singapura menilai bahwa meskipun retorika AS terdengar lebih keras, China tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur dari modernisasi militernya. Sebaliknya, Beijing justru memanfaatkan forum multilateral seperti Shangri-La untuk memproyeksikan citra sebagai kekuatan yang bertanggung jawab.

Analitis ke depan

Pernyataan yang saling berhadapan di Shangri-La Dialogue 2026 mengonfirmasi bahwa hubungan militer AS-China telah memasuki fase tanpa jaring pengaman. Tidak adanya perjanjian pengendalian senjata, mekanisme verifikasi, maupun dialog reguler menciptakan ruang kosong yang berbahaya. Risiko kesalahan perhitungan taktis, terutama jika terjadi insiden di laut atau udara, kini lebih tinggi dibanding lima tahun terakhir.

Ke depan, stabilitas kawasan Indo-Pasifik akan sangat bergantung pada apakah kedua belah pihak mampu membangun saluran komunikasi krisis yang efektif. China ingin hubungan yang stabil tetapi dengan syarat posisinya dihormati. AS ingin China mengubah perilaku militernya sebelum stabilitas bisa dicapai. Lingkaran setan ini, jika tidak dipecahkan, hanya akan menguntungkan kekuatan-kekuatan revisionis lainnya.

Bagi Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara, tekanan untuk tidak memilih kubu akan semakin berat. Seruan Hegseth agar sekutu meningkatkan belanja pertahanan adalah sinyal bahwa AS tidak akan lagi menanggung beban keamanan sendirian. Sementara itu, China terus menawarkan kerja sama ekonomi tanpa syarat politik yang mengikat. Dinamika ini memaksa setiap negara di kawasan untuk menghitung ulang postur keamanan mereka secara hati-hati.


Internal Link (minimal 5):

“KTT Trump-Xi di Beijing” — /geopolitik/trump-xi-summit-beijing-iran-taiwan-perdagangan-2026/
“ultimatum AS terhadap Iran” — /konflik-dunia/iran-ultimatum-as-proposal-14-poin-uranium-2026/
“kemandirian pertahanan Eropa” — /geopolitik/eropa-kemandirian-pertahanan-rearme-as-2026/
“gencatan senjata rapuh AS-Iran” — /konflik-dunia/gencatan-senjata-as-iran-rapuh-2026/
“krisis energi Eropa akibat perang” — /ekonomi-global/krisis-energi-eropa-dampak-perang-iran-imf-resesi/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *