Defisit Dagang UE China Tembus Rp17 Triliun per Hari, Brussels Siapkan Langkah Balasan
Defisit dagang UE China Uni Eropa secara resmi memperingatkan bahwa hubungan perdagangannya dengan China telah berada di titik yang tidak berkelanjutan, seiring defisit perdagangan barang blok tersebut melonjak menjadi sekitar €360 miliar pada tahun 2025. Angka ini setara dengan kerugian sekitar €1 miliar atau lebih dari Rp17 triliun setiap harinya, memaksa Brussels untuk mempersiapkan berbagai instrumen pertahanan dagang guna melindungi industri dalam negerinya.
Komisaris Perdagangan Uni Eropa, Maros Sefcovic, mengungkapkan bahwa ekspor China ke Eropa melonjak sekitar 50 persen dalam lima tahun terakhir, sementara ekspor Uni Eropa ke China justru turun sekitar 30 persen. Situasi ini diperparah dengan fakta bahwa pada kuartal pertama 2026, surplus perdagangan Beijing dengan Uni Eropa telah mencapai $113 miliar, menandakan pelebaran defisit yang semakin tajam.
“China adalah mitra penting dan keterlibatan serta dialog akan terus berlanjut. Pada saat yang sama, keadaan hubungan perdagangan dan investasi saat ini tidak berkelanjutan,” demikian pernyataan resmi Komisi Eropa yang dikutip dari Channel News Asia. Angka yang mendorong urgensi ini sulit diabaikan. Defisit perdagangan barang UE-China mencapai sekitar €360 miliar pada 2025, meningkat tajam dari €312 miliar pada 2024. Bahkan, angka tersebut diproyeksikan terus melebar sepanjang 2026.
Komisaris Sefcovic menggambarkan situasi ini sebagai “titik balik” bagi Eropa, dengan memperingatkan meningkatnya risiko deindustrialisasi di wilayah-wilayah yang justru sedang berusaha membangun otonomi strategis. Ia mengidentifikasi empat kekhawatiran struktural: dominasi industri China yang terus tumbuh, defisit perdagangan yang melebar, menurunnya pangsa pasar ekspor Eropa, serta kontrol ekspor China atas bahan baku kritis.
Peralatan yang Dipertimbangkan Brussels
Brussels kini bersiap melampaui bahasa tegas menuju mekanisme pertahanan perdagangan nyata. Peralatan yang dipertimbangkan mencakup tarif, jaminan terhadap kelebihan kapasitas, dan apa yang disebut pejabat sebagai langkah “Beli Eropa”. Komisaris untuk Strategi Industri, Stéphane Séjourné, menyatakan perlunya pendekatan yang lebih tegas. “Saya pikir masih ada jalan menuju dialog konstruktif dengan China, tetapi kita tidak bisa membiarkan Eropa menjadi korban strategi predator yang menghancurkan industri kita. Alat baru, langkah-langkah baru, tekad politik baru diperlukan,” tegasnya.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengadakan perdebatan eksploratif dengan 26 komisaris lainnya untuk mengkaji berbagai alat kebijakan guna mengatasi ketidakseimbangan perdagangan yang berkembang. Prancis bersama beberapa negara anggota lainnya mendorong langkah-langkah yang lebih kuat untuk melindungi industri Eropa. Dalam pergeseran signifikan, Jerman yang secara tradisional memperingatkan tindakan yang dapat memprovokasi balasan dari Beijing, kini menunjukkan kesediaan lebih besar untuk mengambil tindakan yang lebih tegas terhadap lonjakan impor China.
Ancaman Balasan dari Beijing
China bereaksi cepat terhadap ancaman Brussels. Kementerian Perdagangan China, dalam pernyataannya pada Sabtu (30/5), memperingatkan bahwa jika Uni Eropa bersikeras secara sepihak memperkenalkan instrumen perdagangan baru dan mengadopsi pembatasan diskriminatif, China akan mengambil tindakan balasan yang tegas dan langkah-langkah efektif untuk menjaga kepentingannya. “Saluran komunikasi antara China dan Uni Eropa tetap terbuka. Kedua pihak sedang menjajaki kemungkinan membangun mekanisme konsultasi tentang perdagangan dan investasi,” tambah kementerian tersebut.
Beijing secara konsisten memandang Uni Eropa sebagai mitra penting. Pemerintah China berpendapat bahwa tindakan sepihak Uni Eropa diduga melanggar peraturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan akan menyebabkan kerugian besar terhadap hubungan ekonomi dan perdagangan China-UE, mengganggu rantai industri dan pasokan global, dan pada akhirnya membebani Eropa sendiri.
Meskipun China tidak menginginkan perang dagang dengan UE, Beijing telah menunjukkan kesiapannya untuk menargetkan sektor-sektor yang sensitif secara politis. Di masa lalu, China merespons tarif EV Eropa dengan meluncurkan penyelidikan terhadap produk-produk Eropa, termasuk brandy, cognac, daging babi, dan produk susu. Kamar Dagang China untuk Uni Eropa (CCCEU) dalam laporan terbarunya bahkan menyebut bahwa kebijakan proteksionis UE dapat membebani ekonomi Eropa hingga €367,8 miliar pada periode 2026-2030.
Sektor Paling Terdampak dan Dampak yang Lebih Luas
Sektor-sektor yang paling terpapar oleh ketidakseimbangan ini mencerminkan daftar industri yang dianggap Eropa sebagai strategis vital: kendaraan listrik, baterai, kimia, mesin, dan baja. Gelombang impor China yang meningkat—mulai dari kendaraan dan panel surya hingga pakaian dan barang manufaktur lainnya—telah memberikan tekanan yang semakin besar pada industri Eropa, yang menyebabkan penutupan pabrik dan kehilangan pekerjaan di seluruh blok.
China saat ini menyumbang sekitar 30 persen dari produksi industri global, dan angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 45 persen pada akhir dekade ini. Angka ini mencerminkan pergeseran dramatis dalam lanskap manufaktur global, yang semakin mengkhawatirkan para pembuat kebijakan Eropa.
Agenda Politik Mendatang
Diskusi tentang langkah-langkah perdagangan ini dijadwalkan akan menjadi agenda utama dalam pertemuan Dewan Eropa pada pertengahan Juni 2026. Para kepala negara G7 juga akan mengadakan pertemuan di Prancis pada 15-17 Juni, diikuti oleh pertemuan para pemimpin Uni Eropa di Brussels pada 18-19 Juni. Komisi Eropa menyatakan bahwa debat tersebut akan menjadi masukan untuk pekerjaan dalam beberapa minggu mendatang menjelang pembicaraan lebih lanjut tentang China dan ketidakseimbangan perdagangan.
Prospek ke Depan: Antara Perang Dagang dan Dialog
Uni Eropa menegaskan bahwa pendekatan utamanya tetap “menghilangkan risiko, bukan memisahkan diri” (de-risking, not decoupling), karena blok yang beranggotakan 27 negara itu ingin mempertahankan hubungan perdagangan dengan China sambil mengurangi ketergantungannya pada kekuatan ekonomi Asia tersebut. Namun, dengan defisit yang terus melebar dan tekanan politik domestik yang meningkat di negara-negara anggota, Brussels kemungkinan akan mengambil langkah-langkah yang lebih konkret dalam waktu dekat.
Analis memperingatkan bahwa ketegangan ini dapat berkembang menjadi perang dagang skala penuh jika kedua belah pihak tidak menemukan titik temu. Ekonom senior untuk kawasan Asia-Pasifik di Natixis, Alicia Garcia-Herrero, mengatakan bahwa defisit perdagangan tidak akan membaik dalam waktu dekat dan China tidak akan mengonsumsi produk Eropa, sehingga semua harapan untuk perbaikan mungkin hanya angan-angan.
Sementara Uni Eropa bersiap untuk mengambil tindakan yang lebih tegas, Beijing menyatakan siap untuk bernegosiasi tetapi juga siap membalas. Pertemuan-pertemuan puncak yang akan datang akan menjadi penentu apakah hubungan ekonomi terbesar di dunia ini akan menuju pada kerja sama yang lebih erat atau perang dagang yang merugikan kedua belah pihak. Apa yang jelas, dunia sedang menyaksikan pergeseran fundamental dalam tatanan perdagangan global yang akan membentuk kembali rantai pasokan dan aliansi ekonomi untuk tahun-tahun mendatang.
Internal Link:
“ketegangan perdagangan AS-China yang semakin memanas” — /geopolitik/trump-xi-summit-beijing-iran-taiwan-perdagangan-2026/
“dampak konflik global terhadap stabilitas ekonomi kawasan” — /ekonomi-global/ekonomi-timur-tengah-tekanan-konflik-energi-2026/
“krisis energi yang melanda Eropa akibat perang berkepanjangan” — /ekonomi-global/krisis-energi-eropa-dampak-perang-iran-imf-resesi/
“dinamika geopolitik yang mempengaruhi hubungan dagang antar negara besar” — /geopolitik/eropa-kemandirian-pertahanan-rearme-as-2026/
“strategi China dalam menghadapi tekanan ekonomi dari Barat” — /geopolitik/brics-fmm-new-delhi-iran-uae-selat-hormuz-2026/
