72.000 Tewas di Gaza, Gencatan Senjata Dilanggar 2.000 Kali, Bantuan Hanya 36 Persen
72.000 tewas di Gaza sejak Oktober 2023 — angka yang terus bertambah setiap hari meski gencatan senjata secara resmi sudah berlaku sejak 10 Oktober 2025, dan negosiasi fase kedua perdamaian masih buntu tanpa tanda-tanda terobosan.
Angka yang Terus Bertambah
Kementerian Kesehatan Gaza pada 28 Mei 2026 mencatat setidaknya 72.819 warga Palestina tewas sejak perang dimulai — termasuk 20.179 anak-anak. Sebanyak 172.827 lainnya terluka. Angka itu sudah melampaui 72.000 sejak November 2025, dan terus merayap naik bahkan setelah gencatan senjata diberlakukan. Sejak gencatan mulai berlaku, sekitar 910 orang tewas dan lebih dari 2.700 terluka dalam berbagai insiden kekerasan — menjadikan “gencatan senjata” ini salah satu yang paling banyak dilanggar dalam sejarah konflik modern.
Kehancuran fisik Gaza tidak bisa dipisahkan dari angka-angka ini. Sekitar 80% bangunan di Gaza rusak atau hancur total. Biaya rekonstruksi diperkirakan mencapai US$70 miliar — sebuah angka yang oleh peneliti Brookings Institution disebut “tidak ada bandingannya dalam sejarah modern.” Lebih dari satu juta warga masih tidak memiliki tempat tinggal permanen, hidup di tenda-tenda dan reruntuhan.
Lebih dari 2.000 Pelanggaran, Hanya 36% Bantuan Masuk
Kantor Media Pemerintah Gaza mendokumentasikan lebih dari 2.073 pelanggaran gencatan senjata oleh Israel antara Oktober 2025 dan Maret 2026 saja — termasuk 921 kali penembakan terhadap warga sipil, 1.109 kali pemboman dan serangan artileri, serta 273 kali penghancuran properti warga. Dalam 227 hari gencatan, hanya segelintir hari yang benar-benar bebas dari laporan serangan atau korban jiwa.

Blokade bantuan kemanusiaan memperburuk gambaran itu secara dramatis. Sejak gencatan dimulai hingga 27 Mei 2026, hanya 49.973 truk yang berhasil masuk Gaza dari 135.600 yang seharusnya dijatah — hanya 36 persen. Israel memberlakukan pemeriksaan ketat yang memperlambat pengiriman secara signifikan, sekaligus memblokir masuknya makanan bergizi seperti daging, susu, dan sayuran. Yang diizinkan masuk justru produk tidak bergizi — camilan, cokelat, keripik, dan minuman ringan. Rumah Sakit Martir Al-Aqsa pada akhir Mei mengumumkan seluruh generatornya berhenti berfungsi, menempatkan unit dialisis, perawatan neonatal, ICU, dan layanan laboratorium dalam risiko penutupan total.
Netanyahu dan Target 70 Persen
Di atas semua itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada akhir Mei secara terbuka mengumumkan bahwa pasukan Israel kini menguasai sekitar 60-64% wilayah Gaza — naik dari sekitar 52% saat gencatan dimulai — dan menetapkan target berikutnya di 70%. Kerangka gencatan senjata yang ditandatangani pada Oktober 2025 hanya mengalokasikan sekitar 53% kontrol bagi Israel. Pernyataan Netanyahu adalah pengakuan terbuka bahwa Israel bergerak melampaui batas yang disepakati.
Pada 15 Mei, Israel membunuh Izz al-Din al-Haddad, pemimpin Hamas di Jalur Gaza, dalam serangan udara di kawasan Rimal, Gaza City. Sehari sebelumnya, Hamas mengkonfirmasi putra negosiator utamanya tewas dalam serangan terpisah. Dalam iklim seperti ini, pembicaraan tentang fase kedua perdamaian bukan sekadar stagnan — ia berjalan di medan yang terus dibom.
Hamas dan Kebuntuan Fase Kedua
Juru bicara Hamas Hazem Qassem menyatakan bahwa komunikasi dengan mediator internasional terus berlangsung untuk mencapai pendekatan yang “masuk akal dan dapat diterima” dalam transisi ke fase kedua. Namun ia menegaskan bahwa Israel yang bertanggung jawab atas kebuntuan ini. “Israel berbalik melawan kesepakatan,” katanya, merujuk pada ekspansi militer dan pernyataan Netanyahu yang terus melampaui kerangka gencatan.
Fase kedua dari rencana perdamaian yang digagas AS seharusnya mencakup penarikan lebih lanjut pasukan Israel dan penempatan pasukan stabilisasi internasional untuk memfasilitasi masuknya bantuan dan material rekonstruksi. Namun perdebatan tentang komposisi, komando, dan aturan keterlibatan pasukan internasional itu masih belum selesai, sementara mediator Mesir, Qatar, dan Turki terus berupaya menjembatani perbedaan yang menganga.
Rencana respons kemanusiaan PBB yang membutuhkan US$4,06 miliar untuk mendukung hampir tiga juta orang di Gaza dan Tepi Barat baru terdanai sekitar 13 persen. Wakil Koordinator Khusus PBB untuk Timur Tengah dalam pengarahan di Dewan Keamanan pada 21 Mei memperingatkan bahwa momentum awal yang sempat terbangun setelah gencatan sudah digantikan oleh kekerasan sehari-hari yang tidak kunjung berhenti.
Yang sesungguhnya sedang terjadi di Gaza bukanlah gencatan senjata dalam pengertian yang biasa dipahami. Ia adalah sesuatu yang oleh banyak analis disebut “neither war nor peace” — bukan perang penuh, bukan perdamaian sungguhan. Serangan terus terjadi, bantuan terus diblokir, rekonstruksi tidak dimulai, dan setiap hari yang berlalu menambah satu baris lagi ke daftar korban yang sudah melampaui 72.000 jiwa. Angka itu bukan sekadar statistik — ia adalah akumulasi dari dua setengah tahun kekerasan yang belum juga menemukan ujungnya.
Internal link:
- “protes Gaza Eropa Netanyahu 70 persen” — /konflik-dunia/protes-gaza-eropa-netanyahu-70-persen/
- “PBB masukkan Israel daftar hitam” — /konflik-dunia/pbb-masukkan-israel-daftar-hitam-2026/
- “konflik Gaza Lebanon gencatan dilanggar” — /konflik-dunia/gaza-lebanon-gencatan-dilanggar-2026/
- “ekonomi Timur Tengah tekanan konflik energi” — /ekonomi-global/ekonomi-timur-tengah-tekanan-konflik-energi-2026/
- “pengungsi Lebanon generasi terbuang” — /konflik-dunia/pengungsi-lebanon-generasi-terbuang-2026/
