CHINA PILIH TRUMP DARIPADA BRICS, ABSENNYA WANG YI DI NEW DELHI KIRIMKAN SINYAL GEOPOLITIK
Ininih.com — Ketika sebelas anggota BRICS berkumpul di New Delhi pada 14 Mei, China hadir hanya melalui Duta Besar Xu Feihong — bukan Menteri Luar Negeri Wang Yi yang sedang mendampingi Presiden Xi Jinping menerima kunjungan kenegaraan Donald Trump di Beijing. Beijing menyebut ini “benturan jadwal.” Analis membacanya sebagai sesuatu yang lebih bermakna: dalam momen ketika dua agenda besar beradu — KTT Trump-Xi dan BRICS FMM — China memilih Washington atas New Delhi. Itu bukan kebetulan logistik. Itu adalah pernyataan tentang di mana Beijing menempatkan pusat gravitasi diplomatiknya.
Ketika Hubungan Bilateral Mengalahkan Solidaritas Blok
Pilihan Beijing untuk memprioritaskan KTT Trump-Xi mencerminkan kalkulasi yang sudah lama menjadi karakteristik kebijakan luar negeri China: hubungan dengan AS, meski penuh gesekan, tetap merupakan variabel paling menentukan bagi keamanan ekonomi dan keamanan teknologi China. Perdagangan, pembatasan ekspor semikonduktor, isu Taiwan, dan stabilitas rantai pasok global semuanya bergantung pada hasil pertemuan bilateral yang tidak bisa didelegasikan ke level duta besar.
BRICS, sebaliknya, adalah forum di mana China sudah cukup mendominasi secara struktural bahkan tanpa kehadiran menteri. Sebagai ekonomi terbesar di blok itu dengan bobot yang tidak tertandingi anggota lain, Beijing tahu bahwa duta besar Xu Feihong cukup untuk mempertahankan posisi China tanpa kehilangan pengaruh jangka panjang. Sinyal yang dikirim berbeda dari substansi yang hilang.
Namun bagi anggota BRICS lain — terutama Iran dan Rusia yang hadir dengan menteri penuh dan membawa agenda konsolidasi poros anti-AS — ketidakhadiran Wang Yi meninggalkan kekosongan yang tidak bisa sepenuhnya diisi oleh duta besar. Koordinasi tentang posisi bersama terhadap konflik Asia Barat, desakan reformasi tata kelola global, dan mekanisme perdagangan alternatif semua membutuhkan otoritas politik di level menteri untuk menghasilkan komitmen yang bermakna.
Paradoks Kekuatan China di BRICS
Ketidakhadiran Wang Yi memperlihatkan paradoks fundamental dalam posisi China di BRICS: Beijing adalah anggota yang paling tidak bisa digantikan sekaligus yang paling bebas untuk tidak hadir, karena ukurannya sendiri menjamin relevansinya terlepas dari tingkat representasi. Negara-negara lain di blok itu tidak memiliki kemewahan yang sama.
Yang patut dicermati adalah reaksi India sebagai tuan rumah. New Delhi membutuhkan China untuk memberikan bobot pada BRICS sebagai forum yang kredibel — tetapi juga tidak bisa terlalu bergantung pada Beijing dalam upaya memposisikan India sebagai pemimpin Global South yang independen. Ketidakhadiran Wang Yi secara tidak langsung memberikan India lebih banyak ruang untuk membentuk narasi forum sesuai kepentingannya sendiri. Ironisnya, keputusan China yang memprioritaskan Trump justru memberi India peluang yang lebih besar untuk memimpin BRICS sesuai visinya — menuju September 2026 ketika KTT para pemimpin akan menentukan wajah blok ini untuk satu dekade ke depan.
- “BRICS FMM New Delhi krisis Asia Barat” — /geopolitik/brics-fmm-new-delhi-iran-uae-selat-hormuz-2026/
- “KTT Trump-Xi Beijing perdagangan Iran Taiwan” — /geopolitik/trump-xi-summit-beijing-iran-taiwan-perdagangan-2026/
- “Iran Rusia BRICS poros anti AS” — /geopolitik/iran-rusia-brics-fmm-poros-anti-as-2026/
- “Indonesia BRICS FMM Sugiono perdamaian” — /nasional/indonesia-brics-fmm-sugiono-perdamaian-2026/
- “kemandirian pertahanan Eropa €800 miliar” — /geopolitik/eropa-kemandirian-pertahanan-rearme-as-2026/
