IRAN DAN RUSIA GUNAKAN BRICS FMM SEBAGAI PANGGUNG PERLAWANAN TERHADAP TEKANAN AS
Ininih.com — Kehadiran Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi dan Menlu Rusia Sergey Lavrov di BRICS FMM New Delhi pada 14-15 Mei bukan sekadar kehadiran diplomatik rutin. Ini adalah manuver terkoordinasi dua negara yang sedang dalam posisi tertekan oleh Washington — Iran karena kebuntuan negosiasi nuklir dan blokade Selat Hormuz, Rusia karena perang Ukraina dan sanksi Barat — untuk menggunakan forum Global South terbesar di dunia sebagai panggung legitimasi alternatif. Araghchi secara eksplisit menyalahkan tuntutan AS sebagai penyebab utama gagalnya perundingan, sementara Lavrov menegaskan Rusia terus memasok hidrokarbon dan menjadikan kerja sama energi nuklir sebagai inti hubungan bilateral dengan India.
Koordinasi yang Dimulai di Moskow
Fondasi kehadiran bersama Iran-Rusia di New Delhi sudah diletakkan sebelumnya. Pada akhir April 2026, Araghchi terbang ke Moskow dan bertemu pejabat Rusia — pertemuan yang secara terbuka dikaitkan dengan kegagalan jalur diplomasi AS-Iran di Islamabad. Dari pertemuan itu lahir kesepakatan koordinasi tingkat tinggi: kedua negara akan bersama-sama mendorong penyelesaian konflik Asia Barat melalui jalur yang tidak didominasi Washington, sekaligus memperkuat poros yang oleh media Rusia disebut sebagai respons terhadap “hegemoni AS yang memudar.”
BRICS adalah kendaraan yang paling tersedia untuk tujuan itu. Blok ini mewakili 40 persen PDB global dan hampir separuh populasi dunia — legitimasi numerik yang cukup untuk mengklaim representasi Global South. Bagi Iran, forum ini juga menawarkan sesuatu yang lebih praktis: akses ke mekanisme New Development Bank dan jaringan perdagangan alternatif yang bisa membantu Teheran mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan berbasis dolar di tengah tekanan sanksi AS. Bagi Rusia, BRICS adalah bukti bahwa isolasi Barat tidak sama dengan isolasi global.https://ininih.com/brics-diuji-perpecahan-iran-uea-di-new-delhi-selat-hormuz-jadi-titik-api-krisis-energi-global/
Poros yang Memperumit Kalkulasi Washington
Penguatan koordinasi Iran-Rusia di forum multilateral menciptakan komplikasi strategis bagi AS yang melampaui dinamika bilateral. Selama ini Washington mengandalkan isolasi diplomatik sebagai instrumen tekanan — terhadap Iran melalui sanksi, terhadap Rusia melalui koalisi Barat. Ketika kedua negara itu hadir bersama di New Delhi dan secara aktif membangun narasi tatanan multipolar bersama anggota BRICS lainnya, efektivitas strategi isolasi itu dipertanyakan.
Kombinasi Rusia dan Iran sebagai produsen energi utama juga membuat koordinasi di BRICS menjadi variabel yang tidak bisa diabaikan dalam kalkulasi harga minyak dan gas global. Jika kebuntuan AS-Iran berlanjut dan Selat Hormuz tetap terganggu, kemampuan Iran-Rusia untuk mengarahkan aliran energi melalui jaringan BRICS — menghindari rute dan mekanisme yang dikontrol Barat — akan menjadi leverage yang semakin nyata. Pertanyaan yang tersisa adalah seberapa jauh India, sebagai tuan rumah dan ketua BRICS, bersedia memfasilitasi konsolidasi poros ini tanpa merusak hubungannya dengan Washington.
- “BRICS FMM New Delhi krisis Asia Barat” — /geopolitik/brics-fmm-new-delhi-iran-uae-selat-hormuz-2026/
- “Iran ultimatum AS proposal 14 poin” — /konflik-dunia/iran-ultimatum-as-proposal-14-poin-uranium-2026/
- “blokade Selat Hormuz krisis maritim” — /konflik-dunia/selat-hormuz-blokade-krisis-maritim-mei-2026/
- “KTT Trump-Xi Beijing perdagangan Iran Taiwan” — /geopolitik/trump-xi-summit-beijing-iran-taiwan-perdagangan-2026/
- “Islamic NATO Pakistan Saudi Turki Qatar” — /geopolitik/islamic-nato-pakistan-saudi-turki-qatar-aliansi-2026/
BRICS DIUJI PERPECAHAN IRAN-UEA DI NEW DELHI, SELAT HORMUZ JADI TITIK API KRISIS ENERGI GLOBAL
