Mei 25, 2026

Ketika Netanyahu Tak Lagi Menyembunyikan Mimpi Israel Raya

AFP__20250926__76VR8ZM__v1__HighRes__UnDiplomacyUnga-1024x640

ininih.com


Ada momen dalam sejarah ketika seorang pemimpin berhenti berpura-pura.

Januari 2026. Seorang presenter televisi Israel di i24 News menyerahkan sebuah jimat kepada Benjamin Netanyahu — sebuah amulet bergambar peta “Tanah yang Dijanjikan.” Lalu ia bertanya: apakah Perdana Menteri merasa terhubung dengan visi Israel Raya?

Netanyahu tidak ragu. Tidak berkelit. Tidak memberi jawaban diplomatik yang biasa dikeluarkan para pemimpin ketika pertanyaan sensitif menghampiri mereka di depan kamera.

“Sangat terhubung,” jawabnya. Ia bahkan menambahkan bahwa dirinya sedang menjalankan “misi historis dan spiritual.”https://ininih.com/wacana-israel-raya-kembali-menguat-picu-kekhawatiran-global/

Dua kata itu — very much — berguncang ke seluruh kawasan Timur Tengah lebih keras dari banyak rudal yang pernah diluncurkan.


Bukan Pertama Kali, Tapi Kali Ini Berbeda

Gagasan Israel Raya bukan barang baru. Theodor Herzl, pendiri Zionisme modern, sudah menuliskan impian tentang negara Yahudi yang membentang dari Sungai Nil di barat hingga Sungai Efrat di timur — mencakup wilayah yang kini menjadi Palestina, Lebanon, Suriah, Yordania, bahkan sebagian Irak dan Turki selatan.

Selama puluhan tahun, gagasan itu hidup di ruang-ruang tertutup: dalam khotbah para rabi garis keras, dalam rapat-rapat kelompok pemukim Tepi Barat, dalam imajinasi para nasionalis religius yang menyebut diri mereka sebagai pelanjut mandat ilahi.

Tidak pernah jadi kebijakan resmi. Tidak pernah diakui terbuka dari podium kekuasaan.

Sampai sekarang.

Yang membedakan pernyataan Netanyahu di Januari 2026 bukan isinya — tapi siapa yang mengatakannya dan di mana posisinya saat ini. Netanyahu bukan aktivis pinggiran. Ia Perdana Menteri Israel, pemimpin koalisi paling kanan dalam sejarah negara itu, yang duduk berkuasa didampingi Bezalel Smotrich sebagai Menteri Keuangan dan Itamar Ben Gvir sebagai Menteri Keamanan Nasional — dua tokoh yang bertahun-tahun terang-terangan memperjuangkan ekspansi territorial Israel.


Ketika Retorika Bertemu Realita

Pernyataan Netanyahu bukan berdiri sendiri di ruang hampa. Ia datang di tengah rentetan kebijakan yang, bila dilihat bersama-sama, membentuk sebuah pola yang sulit diabaikan.

Februari 2026: Israel mencabut aturan puluhan tahun yang melarang warga Yahudi membeli tanah langsung di Tepi Barat. Smotrich menyebutnya sebagai langkah untuk “menyamakan status Tepi Barat dengan wilayah Israel lainnya.” Lebih dari 500.000 pemukim Israel kini bermukim di antara tiga juta warga Palestina di sana.

Maret 2026: Israel kembali menyerang Lebanon setelah gencatan senjata 15 bulan sebelumnya runtuh. Pasukan Israel bergerak hingga ke Sungai Litani — 30 kilometer dari perbatasan — dan menyebutnya “zona bebas Hizbullah.”

April 2026: Smotrich dalam sebuah pidato di pembukaan pemukiman baru menyatakan Israel akan memperluas perbatasannya ke Gaza, Lebanon hingga Litani, dan Suriah. Ia menyebut Tepi Barat sebagai “tahap diplomatik terakhir yang akan sepenuhnya menghilangkan gagasan negara Palestina.”

Bukan wacana. Bukan teori konspirasi. Ini pernyataan pejabat aktif pemerintah Israel yang disampaikan di depan publik, dikutip oleh Reuters dan Middle East Monitor.


Dunia Bereaksi, Kawasan Bergolak

Reaksi datang dari berbagai penjuru.

Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengecam pernyataan-pernyataan tersebut sebagai perpanjangan dari “retorika ekstremisme dan pengabaian kedaulatan negara.” Liga Arab menyebut langkah-langkah Israel sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas regional.

Menlu Turki Hakan Fidan berbicara paling to the point: “Masalah terbesar di kawasan adalah ekspansionisme Israel. Tujuannya ada dua — memperluas wilayah, dan menjaga negara-negara tetangga tetap lemah dan terpecah.”

DPR RI pun bereaksi. Wakil Ketua Komisi I, Sukamta, menyebut pernyataan Duta Besar AS Mike Huckabee yang senada dengan narasi Israel Raya sebagai sesuatu yang “berpotensi menimbulkan preseden normatif yang berbahaya.”

Mesir bersuara paling keras di antara negara-negara Arab langsung yang disebut dalam peta Israel Raya: “Kami tidak akan membiarkan ilusi tentang Israel Raya mewujud menjadi kenyataan,” tegas Menlu Mesir Badr Abdelatty.


Mimpi yang Berbahaya

Dalam sejarah modern, ada banyak pemimpin yang menggabungkan mandat agama dengan ambisi territorial. Hasilnya hampir selalu sama: konflik berkepanjangan, penderitaan sipil yang meluas, dan destabilisasi kawasan yang memakan waktu puluhan tahun untuk dipulihkan.

Yang berbeda dari situasi sekarang adalah konteks geopolitiknya. Israel beroperasi di bawah payung Amerika Serikat yang dipimpin Trump — pemerintahan yang menunjuk Mike Huckabee, seorang tokoh yang secara terbuka berempati dengan narasi alkitabiah atas wilayah Israel, sebagai duta besar.

“Sangat terhubung,” kata Netanyahu.

Dua kata. Dampaknya bisa berlangsung satu generasi.


Wacana “Israel Raya” Kembali Menguat, Picu Kekhawatiran Global

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *