Juni 3, 2026

Drone Bawah Laut Inggris Dikirim ke Selat Hormuz di Tengah Krisis Ranjau Iran

0b8c66a0-6c73-4da0-8f25-85c3a1c386bb

Drone bawah laut Inggris canggih buatan VideoRay resmi dikerahkan ke kawasan Selat Hormuz untuk berjaga dari ancaman ranjau Iran yang dapat meledak kapan saja. Kapal induk RFA Lyme Bay telah meninggalkan Gibraltar menuju Timur Tengah dengan membawa dua unit sistem Defender-Viper, sebuah pesawat nirawak bawah laut kendali jarak jauh yang dirancang khusus untuk misi pencarian, identifikasi, hingga penghancuran ranjau di kedalaman laut.

Menurut laporan Express, sistem Defender-Viper merupakan senjata baru andalan Angkatan Laut Kerajaan Inggris untuk menghadapi ancaman bawah laut di jalur pelayaran tersibuk dunia. Drone ini dapat dioperasikan secara manual dari sebuah laptop atau secara otonom berdasarkan koordinat yang sudah diprogram sebelumnya. Dalam satu siklus operasi, drone yang membawa muatan ledakan terarah (shaped charge) ini akan menempelkan Viper ke badan ranjau, mundur ke jarak aman, lalu meledakkannya dari jauh. Kekuatan ledakannya diklaim mampu menembus baja setebal lebih dari satu meter.

Yang menarik, teknologi yang sama telah terbukti efektif di medan perang Ukraina. Kini, Defender-Viper menjadi pusat perhatian karena dipasangkan di kapal RFA Lyme Bay yang telah beralih fungsi menjadi mothership untuk operasi penanggulangan ranjau. Sebanyak 12 personel mission team khusus telah menjalani pelatihan intensif untuk menguasai sistem ini, setelah sebelumnya mendapatkan pembelajaran cepat (crash course) selama beberapa pekan.

Kehadiran drone bawah laut ini bukan tanpa alasan. Selat Hormuz saat ini menjadi titik konflik paling panas antara Amerika Serikat dan Iran. Pada 28 Mei, Iran dan AS terlibat kontak senjata setelah Iran menyerang empat kapal AS yang mencoba menyelinap masuk ke selat tersebut. Sebagai balasan, AS meluncurkan serangan udara ke pangkalan armada drone Iran di dekat pelabuhan Bandar Abbas.

Ketegangan semakin memuncak ketika Iran mengancam akan menutup sepenuhnya Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia setiap hari. Hal ini merespons operasi militer Israel yang terus memperluas wilayah serangan di Lebanon selatan. Kantor berita Tasnim yang terafiliasi Garda Revolusi Iran bahkan melaporkan bahwa Teheran telah menghentikan semua komunikasi diplomatik dengan AS di semua kanal——termasuk melalui mediator——karena “aksi militer rezim Zionis” dianggap melanggar klausul gencatan senjata.

Di tengah situasi eksplosif inilah Inggris memutuskan mengirim Defender-Viper. Kapal perusak HMS Dragon dan jet tempur Typhoon juga ikut disiagakan untuk mendukung misi multinasional yang dipimpin AS. Namun yang menarik, meskipun ancaman ranjau dianggap serius, AS sendiri dilaporkan belum menemukan bukti konkrete keberadaan ranjau di selat tersebut.

Keputusan Inggris ini langsung mempengaruhi pasar energi global. Harga minyak mentah Brent naik 4,2 persen menjadi 94,98 dolar AS per barel pada perdagangan Senin (1/6/2026) setelah Iran mengancam memblokade selat tersebut. WTI AS juga ikut melesat 5,5 persen menjadi 92,16 dolar AS per barel. Analis memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan dapat menguras persediaan minyak komersial global yang bisa memicu lonjakan harga lebih lanjut.

Analitis ke depan

Pengiriman Defender-Viper bukanlah sekadar langkah defensif Inggris, melainkan sinyal tegas bahwa gangguan terhadap jalur minyak global akan dihadapi dengan kekuatan militer gabungan. Jika Iran benar-benar menutup Selat Hormuz, operasi pembersihan ranjau dengan drone canggih seperti Defender-Viper akan menjadi tulang punggung upaya pembukaan jalur tersebut. Keunggulan utama drone adalah kemampuannya mengidentifikasi ranjau dalam kondisi jarak pandang nol melalui sonar canggih, sesuatu yang tidak bisa dilakukan penyelam manusia.

Namun, ancaman Iran untuk membuka front baru di Selat Bab el-Mandeb menunjukkan bahwa ketegangan tidak akan berhenti di Hormuz. Ini berarti kapal-kapal komersial akan terus menghadapi risiko serangan di berbagai titik. Inggris, AS, dan sekutunya harus mempersiapkan operasional yang lebih luas, yang pada akhirnya akan semakin menaikkan biaya logistik global dan tekanan inflasi.

Bagi Indonesia, krisis di Selat Hormuz berarti lonjakan harga minyak dunia yang segera merambat ke harga BBM domestik. Jika konflik berkepanjangan, subsidi energi akan membengkak lagi seperti yang terjadi pada awal krisis. Ini adalah saat yang tepat bagi pemerintah untuk mempercepat program hilirisasi energi terbarukan serta mencari sumber minyak alternatif yang tidak bergantung pada jalur Timur Tengah.


Internal Link :

“Iran hentikan negosiasi dengan AS, gencatan di Lebanon jadi prasyarat” — /konflik-dunia/iran-hentikan-negosiasi-as-israel-serang-lebanon-2026/
“Trump murka ke Netanyahu: ‘Kamu Gila, Semua Orang Membencimu'” — /konflik-dunia/trump-murka-netanyahu-lebanon-gila-batal-serang/
“130 konflik aktif dunia di 2026, tertinggi dalam sejarah modern” — /geopolitik/130-konflik-aktif-dunia-wef-2026/
“harga minyak Juni 2026 sentuh USD126, OPEC+ tambah produksi” — /ekonomi-global/harga-minyak-juni-2026-opec-tambah-produksi/
“ekonomi global di ujung uji di tengah pergeseran kekuatan dunia” — /ekonomi-global/ekonomi-global-di-ujung-uji-2026/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *