Dua Pendaki Tewas di Gunung Piramid, APGI Desak Pengelolaan Profesional dan Pendakian Berizin
Dua pendaki, yakni Maliya Finda (51) asal Surabaya dan Irfan Nazrul Laili (35) warga Desa Traktakan, Bondowoso, ditemukan meninggal dunia di Puncak Gunung Piramid. Tim SAR gabungan berhasil menyelesaikan evakuasi kedua jenazah pada Rabu (5/8). Ketua APGI DPC Bondowoso sekaligus anggota Wanadri, Jangkar, mengungkapkan bahwa Gunung Piramid memiliki karakteristik jalur pendakian teknis yang memerlukan keahlian dan peralatan khusus.
Gunung Piramid yang terletak di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) ini memiliki ketinggian sekitar 2.600 meter di atas permukaan laut dan dikenal dengan jalur pendakian yang ekstrem. Medan yang curam, bebatuan tajam, dan kondisi cuaca yang tidak menentu menjadikan gunung ini salah satu yang paling berbahaya di Jawa Timur.
APGI (Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia) DPC Bondowoso mendesak pengelolaan yang lebih profesional terhadap aktivitas pendakian di Gunung Piramid. Mereka meminta agar setiap pendakian dilakukan dengan izin resmi dan didampingi oleh pemandu yang berpengalaman, mengingat tingkat kesulitan dan risiko yang tinggi.
Selain itu, APGI juga menyoroti pentingnya sosialisasi tentang keselamatan pendakian dan pemahaman mengenai karakteristik jalur sebelum melakukan pendakian. Banyak pendaki yang tidak memperhitungkan risiko dan kurang persiapan fisik serta perlengkapan yang memadai.
Tim SAR gabungan yang terlibat dalam evakuasi menghadapi kesulitan karena medan yang terjal dan cuaca buruk. Proses evakuasi memakan waktu berhari-hari dan membutuhkan koordinasi yang baik antara berbagai pihak.
Kematian dua pendaki ini menjadi pengingat bahwa pendakian gunung, terutama di jalur ekstrem, memerlukan persiapan yang matang dan kesadaran akan risiko yang ada. Pendaki diimbau untuk tidak meremehkan tantangan alam dan selalu mematuhi aturan serta rekomendasi dari pihak pengelola.
APGI berharap adanya regulasi yang lebih ketat dan pengawasan yang lebih baik terhadap aktivitas pendakian di Gunung Piramid. Hal ini penting untuk mencegah terjadinya kecelakaan serupa dan melindungi keselamatan para pendaki. Masyarakat dan para pendaki diimbau untuk selalu mengutamakan keselamatan dan mematuhi semua ketentuan yang berlaku. Dengan pengelolaan yang lebih baik, Gunung Piramid dapat tetap menjadi destinasi pendakian yang menantang namun aman bagi para pecinta alam. Sinergi antara pihak pengelola, pemandu, dan pendaki menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan pendakian yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Masyarakat diimbau untuk selalu menghormati alam dan menjaga keselamatan selama beraktivitas di gunung. Pemerintah dan komunitas pendaki diharapkan terus meningkatkan kesadaran dan edukasi tentang keselamatan pendakian. Dengan demikian, risiko kecelakaan dapat diminimalkan dan kegiatan pendakian dapat dinikmati dengan aman dan bertanggung jawab.
