Agustus 24, 2026

Dua Teknologi Canggih Ini Siap Perkuat Pengelolaan Laut Sawu

IMG-20260819-WA0086

Bagaimana cara mengawasi kawasan konservasi perairan seluas jutaan hektare dengan efektif? Pembahasan ini menjadi fokus utama dalam forum “Sinergi Biru untuk Taman Nasional Perairan Laut Sawu” yang diselenggarakan di Kupang pada Rabu (12/8). Melalui program Global Ocean Innovation Challenge (GOIC), dua teknologi canggih diperkenalkan untuk menjawab tantangan pemantauan dan pengelolaan ekosistem laut tersebut.

Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu di Nusa Tenggara Timur mencakup wilayah seluas 3,35 juta hektare yang kaya akan keanekaragaman hayati serta menjadi koridor migrasi penting bagi mamalia laut. Mengingat luasnya bentang perairan ini, pengelolaan konvensional memerlukan dukungan perangkat modern agar pengawasan dapat berjalan optimal.

Dua perusahaan teknologi global terpilih untuk menguji perangkat mereka di TNP Laut Sawu. Perusahaan asal Amerika Serikat, Havoc, menerjunkan Autonomous Surface Vessel (ASV), yakni kapal nirawak yang dirancang untuk memperluas daya jangkau pemantauan permukaan laut. Perangkat ini dipusatkan untuk uji coba di area Pulau Sabu.

Sementara itu, blueOASIS dari Portugal membawa stasiun pemantauan suara bawah air berbasis kecerdasan buatan. Teknologi ini berfungsi mendeteksi keberadaan mamalia laut sekaligus merekam aktivitas pemanfaatan kawasan. Pengujian stasiun akuistik ini dilakukan di empat lokasi strategis, yaitu Pulau Batek, Pulau Ndao, Pulau Salura, dan Pulau Sabu.

Program GOIC sendiri merupakan inisiatif kolaboratif yang dikembangkan oleh The Nature Conservancy (TNC), Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), dan Newlab untuk mendorong penerapan solusi inovatif terhadap tantangan kelautan. Integrasi Teknologi dan Pendekatan Masyarakat menjadi kunci keberhasilan program ini.

Penerapan inovasi ini tidak dimaksudkan untuk menggeser tata cara pengawasan yang sudah ada. Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Kupang, Imam Fauzi, menegaskan pentingnya penyelarasan alat baru dengan sistem lokal. “Teknologi bukan mengganti sistem pengelolaan yang sudah berjalan, tetapi menjadi alat untuk memperkuatnya,” ujar Imam Fauzi. Ia menambahkan bahwa uji coba ini diharapkan memberi gambaran konkret mengenai penggunaan teknologi di lapangan guna menentukan bentuk pemanfaatan yang paling sesuai.

Penguatan data hasil pemantauan digital ini diyakini bakal memperjelas arah kebijakan strategis kawasan. Direktur Konservasi Ekosistem Kementerian Kelautan dan Perikanan, Firdaus Agung, menjelaskan bahwa pengujian di Laut Sawu krusial untuk mengukur manfaat nyata bagi tata kelola perairan. Dengan integrasi teknologi dan pendekatan berbasis masyarakat, diharapkan pengelolaan TNP Laut Sawu dapat menjadi model bagi kawasan konservasi lainnya di Indonesia. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta menjadi kunci untuk menjaga kelestarian laut dan keanekaragaman hayati untuk generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *