Juli 18, 2026

Empat Pemuda Indonesia Unjuk Gigi di Serve BRICS 2026, Kemenpora Perkuat Diplomasi Global

unnamed

Empat delegasi pemuda terbaik Indonesia dari berbagai daerah turut ambil bagian dalam ajang internasional Serve BRICS 2026 yang digelar secara hibrida pada 29 April 2026. Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) berpartisipasi dalam forum global yang mengusung tema “Volunteering for a Better Tomorrow” ini sebagai wadah strategis memperkuat kontribusi pemuda Indonesia dalam gerakan sosial dan pembangunan global berbasis kerelawanan.

Forum yang dilaksanakan secara luring di kantor Kemenpora RI serta daring ini menghubungkan peserta dari 11 negara. Indonesia mengirimkan empat perwakilan pemuda dari latar belakang daerah dan pengalaman yang beragam: Muhammad Achdan Tharis dari Bireuen, Aceh; Sofian Hadi asal Lombok, Nusa Tenggara Barat yang kini berdomisili di Kediri; Muhammad Radika Afwa Bimalaksa dari Malang, Jawa Timur; serta Fithriyyah, dokter muda asal Pontianak, Kalimantan Barat yang tengah menempuh studi di New Jersey, Amerika Serikat. Keempatnya lolos dari total 126 pendaftar dalam proses seleksi ketat berbasis dokumen, mulai dari profil kegiatan kesukarelawanan, sertifikat, hingga kemampuan bahasa Inggris.

Serve BRICS 2026 menjadi forum partisipatif yang mendorong peralihan dari dialog menuju kontribusi nyata melalui diskusi panel terstruktur dan pertukaran pengetahuan, guna menghasilkan dampak terukur dan berkelanjutan dalam kerja sama pemuda BRICS di bawah keketuaan India. Kegiatan ini dibuka dengan sesi Country Showcase di mana delegasi Indonesia menampilkan video yang menggambarkan aktivitas kerelawanan masing-masing. Dalam forum tersebut, Indonesia menjadi satu-satunya negara yang menampilkan video presentasi dan perkenalan delegasi sebagai bentuk penguatan identitas dan diplomasi pemuda di tingkat global.

Setiap delegasi membawa isu spesifik sesuai latar belakang dan pengalaman mereka. Achdan mengangkat isu manajemen bencana berbasis komunitas, menyoroti pengalaman Aceh mulai dari tsunami 2004 hingga inovasi mitigasi banjir bandang Aceh 2025. Ia menegaskan bahwa ketangguhan masyarakat tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat. “Pemuda tidak hanya menjadi tenaga bantuan, tetapi juga harus menjadi bagian dari perumusan kebijakan di tingkat akar rumput,” ujarnya.

Fithriyyah membawa isu kerelawanan dalam lingkungan hidup dan berbagi cerita tentang partisipasinya dalam komunitas lingkungan di Pontianak sejak 2015. Sofian Hadi dan Radika Afwa juga turut aktif dalam diskusi kelompok lintas negara, merumuskan solusi berbasis volunteerism untuk berbagai isu global.

Selama kegiatan, para peserta dibagi ke dalam kelompok lintas negara untuk mendiskusikan isu global serta merumuskan solusi. Dari keseluruhan peserta, delegasi Indonesia yang diwakili oleh Achdan dan Fithriyyah terpilih untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok di hadapan seluruh peserta forum, menjadi bukti kapasitas dan kontribusi aktif pemuda Indonesia. Fithriyyah juga dipercaya menjadi juru bicara kelompoknya.

Forum ini menekankan pentingnya peran pemuda dalam mendorong perubahan sosial melalui kegiatan kerelawanan, kolaborasi lintas negara, serta kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan. Partisipasi Indonesia menegaskan komitmen Kemenpora dalam mendorong pemuda Indonesia terlibat aktif dalam diplomasi global serta menjadi agen perubahan yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Keberhasilan empat delegasi Indonesia tampil di panggung Serve BRICS 2026 menunjukkan bahwa pemuda Indonesia memiliki kapasitas dan kualitas yang diakui di tingkat internasional. Dengan tema yang relevan dengan tantangan global saat ini, forum ini membuka peluang bagi pemuda Indonesia untuk memperluas jejaring global dan terlibat dalam diplomasi internasional berbasis aksi nyata.

Ke depan, Kemenpora diharapkan terus membuka ruang partisipasi bagi generasi muda melalui program-program seleksi yang lebih masif dan terstruktur. Seperti yang disampaikan Achdan, “Jangan pernah meragukan kekuatan suara kita. Bawa ketulusan dan gagasan ke meja diplomasi, karena dunia sedang menunggu kontribusi nyata dari pemuda Indonesia”. Dengan konsistensi dan komitmen, pemuda Indonesia akan semakin diperhitungkan sebagai aktor kunci dalam membentuk agenda kerja sama internasional yang inklusif dan berdampak luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *