Hamas Setuju Disarmament di Gaza, Israel Belum Beri Respons Resmi
Kelompok Hamas secara resmi menyetujui sebuah peta jalan baru yang didukung oleh Amerika Serikat, yang mengatur pelucutan senjata mereka dan penyerahan pemerintahan Gaza kepada sebuah otoritas Palestina yang baru . Kesepakatan ini merupakan tonggak penting dalam upaya mengakhiri perang di Gaza yang telah berlangsung hampir tiga tahun .
Pengumuman ini disampaikan oleh Presiden AS Donald Trump, yang menyebutnya sebagai “langkah monumental menuju perdamaian dan keamanan abadi” . Seorang pejabat senior Hamas juga mengkonfirmasi kesepakatan tersebut kepada BBC, namun Israel masih belum memberikan komentar resmi .
Peta jalan ini merupakan bagian dari Rencana 20 Poin Trump untuk mengakhiri perang Gaza . Berikut adalah rincian utama dari kesepakatan yang diusulkan:
· Pelucutan Senjata Hamas: Hamas berkomitmen untuk menyerahkan senjata beratnya dan membongkar jaringan terowongan bawah tanah . Proses ini akan dilakukan secara bertahap, dimulai dengan kelompok-kelompok bersenjata kecil, sementara pembongkaran infrastruktur militer Hamas akan memakan waktu yang lebih lama dan akan diverifikasi . Senjata akan disimpan di bawah pengawasan Komite Nasional Palestina dan tidak akan diserahkan kepada Israel .
· Penarikan Pasukan Israel: Sebagai imbalan atas pelucutan senjata, pasukan Israel akan menarik diri dari Gaza secara bertahap . Namun, seorang pejabat Israel menyatakan bahwa tidak akan ada penarikan sebelum Hamas benar-benar dilucuti dan Gaza didemiliterisasi sepenuhnya .
· Pemerintahan Baru: Otoritas baru, yang dikenal sebagai Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (NCAG), akan mengambil alih pemerintahan sipil di Gaza . Kelompok ini terdiri dari teknokrat independen, dan Hamas telah setuju untuk menyerahkan kekuasaan kepada mereka .
· Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF): Sebuah Pasukan Stabilisasi Internasional akan dikerahkan untuk bekerja sama dengan kepolisian Palestina yang baru dalam mengamankan Gaza .
· Proses Bertahap dan Verifikasi: Implementasi perjanjian akan dilakukan dalam fase-fase yang terstruktur, dengan setiap langkah diverifikasi secara independen. Pejabat AS menyatakan bahwa rencana ini dibangun di atas “rasa saling percaya nol” dan tidak ada pihak yang akan melanjutkan ke fase berikutnya sampai pihak lain memenuhi komitmennya .
Meskipun ada kesepakatan, masih ada sejumlah ketidakpastian. Selain Israel yang belum memberikan respons, tantangan utama adalah mekanisme pelucutan senjata dan penarikan pasukan, yang masih belum jelas. Juga, pertanyaan mengenai siapa yang akan menguasai senjata dan bagaimana mekanisme verifikasi akan bekerja masih menjadi tanda tanya besar . Meski ada skeptisisme, para pejabat yang terlibat menggambarkan ini sebagai “terobosan bersejarah” dan menekankan bahwa fokus utama sekarang adalah pada implementasi .
