Iran Klaim Hancurkan Radar THAAD dan Sistem Patriot AS dalam Serangan di Yordania
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim telah berhasil menghancurkan sebuah radar sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) milik Amerika Serikat dalam serangan terhadap pangkalan AS di Yordania pada Kamis (23/7). Serangan ini merupakan bagian dari eskalasi konflik yang semakin meningkat antara Iran dan AS di kawasan Timur Tengah.
IRGC dalam pernyataan resminya menyatakan bahwa serangan tersebut juga menargetkan dan menghancurkan satu sistem pertahanan udara Patriot dan satu radar C-RAM di lokasi yang sama. Selain itu, IRGC mengklaim telah membakar tangki bahan bakar serta menghancurkan gudang peralatan helikopter dan fasilitas perbaikan dan pemeliharaan helikopter di pangkalan tersebut.
Serangan di Yordania ini merupakan bagian dari serangkaian serangan balasan Iran atas serangan udara AS yang telah berlangsung selama 12 malam berturut-turut terhadap target-target militer di Iran. AS sebelumnya telah melancarkan serangan yang menargetkan kemampuan maritim Iran, fasilitas penyimpanan rudal dan drone, pos pengawasan pesisir, serta aset pertahanan udara Iran.
Secara terpisah, Angkatan Darat Iran juga mengumumkan fase ke-23 dari “Operasi Petir” yang mengklaim telah melancarkan serangan drone terhadap tiga pangkalan militer AS di Kuwait. Serangan tersebut menargetkan gudang amunisi dan logistik di Pangkalan Doha, tangki bahan bakar di Pangkalan Udara Ali Al Salem, dan gudang amunisi di Kamp Arifjan.
Klaim Iran mengenai kerusakan yang ditimbulkan belum dapat diverifikasi secara independen. Sejauh ini, belum ada konfirmasi resmi dari militer AS maupun pemerintah Yordania dan Kuwait mengenai serangan tersebut. Namun, Yordania sebelumnya telah mengklaim bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil menembak jatuh tiga rudal pada Kamis pagi, yang kemungkinan merupakan bagian dari serangan Iran.
Serangan Iran ini terjadi setelah AS melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam ke-12 berturut-turut. Komando Pusat AS menyatakan serangan tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang pelayaran komersial di Selat Hormuz. Iran telah merespons dengan meningkatkan serangan terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan, termasuk yang berada di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
Konflik antara AS dan Iran yang dimulai pada 28 Februari lalu telah memasuki bulan kelima dan menyebabkan puluhan korban jiwa di kedua belah pihak. Nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada Juni lalu gagal bertahan setelah AS menuduh Iran melanggar kesepakatan terkait Selat Hormuz. Sejak saat itu, eskalasi terus meningkat dengan serangan yang semakin intensif dari kedua belah pihak.
Serangan Iran terhadap radar THAAD dan sistem Patriot di Yordania menunjukkan bahwa Iran memiliki kemampuan untuk menargetkan sistem pertahanan udara canggih AS di kawasan tersebut. THAAD merupakan sistem pertahanan rudal yang dirancang untuk mencegat rudal balistik pada fase terminal, dan merupakan salah satu sistem pertahanan udara paling canggih yang dimiliki AS.
IRGC menyatakan bahwa serangan ini adalah “hak legal, religius, dan logis” untuk menargetkan agresor yang menyerang Iran. Dalam pernyataan yang ditujukan kepada rakyat Yordania dan Kuwait, IRGC menegaskan bahwa mereka menghormati kedaulatan kedua negara dan hanya menargetkan pasukan AS yang berada di wilayah mereka.
Serangan Iran terhadap sistem pertahanan udara AS di Yordania dan Kuwait ini semakin memperumit situasi keamanan di kawasan Timur Tengah. Dengan kedua belah pihak yang sama-sama enggan mundur dan terus meningkatkan serangan, risiko konflik yang lebih luas semakin meningkat. Dunia internasional terus mengamati dengan cemas perkembangan situasi ini, dan berbagai upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan masih terus berlangsung, meskipun hingga saat ini belum menunjukkan hasil yang signifikan. Iran menunjukkan bahwa mereka tidak akan tinggal diam dan memiliki kemampuan untuk menjangkau dan menghantam target-target strategis AS di negara-negara tetangga, sebuah sinyal yang jelas bahwa konflik ini telah melampaui batas-batas perbatasan Iran dan menjadi ancaman regional yang semakin luas. Dengan setiap serangan baru, stabilitas kawasan yang sudah rapuh semakin terancam, dan dunia menunggu langkah selanjutnya yang akan diambil oleh kedua belah pihak dalam konflik yang tampaknya tidak berkesudahan ini. Pertanyaan yang menggantung di udara adalah apakah ada jalan keluar diplomatik sebelum eskalasi ini mencapai titik yang tidak bisa kembali lagi.
