John Pilger: Jurnalis yang Membongkar Propaganda Barat dari Dalam
Ininih.com – John Pilger meninggal pada Desember 2023, tapi warisannya tetap menjadi salah satu tubuh jurnalisme paling tidak nyaman yang pernah diproduksi dalam bahasa Inggris. Selama lebih dari lima dekade, jurnalis investigasi Australia-Inggris ini — kontributor BBC, ITV, Guardian, dan New Statesman, pemenang puluhan penghargaan internasional — mengerjakan satu proyek besar yang tidak pernah selesai: membongkar cara negara-negara demokrasi mengelola kebenaran melalui media. Bukan dengan sensor. Tapi dengan narasi.
Imperium Tidak Butuh Larangan, Cukup Narasi
Pilger membangun argumen sentralnya sejak awal 1970-an dan tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Imperium modern, menurutnya, tidak berkuasa lewat penjajahan langsung. Ia berkuasa lewat media, bahasa, ketakutan, dan seleksi informasi. Sensor modern tidak melarang kebenaran — ia menguburnya di bawah banjir narasi lain yang lebih mudah dicerna dan lebih nyaman bagi kepentingan yang berkuasa.
Ini bukan teori konspirasi. Ini adalah pengamatan yang dibangun dari puluhan tahun kerja lapangan di Vietnam, Kamboja, Timor Timur, Irak, Afghanistan, dan Australia sendiri. Pilger tidak datang dengan kesimpulan lebih dulu. Ia datang dengan kamera dan pertanyaan, dan kesimpulannya lahir dari apa yang ia temukan.
Pola yang ia identifikasi berulang di hampir setiap konflik yang ia liput: Barat menciptakan kondisi yang melahirkan kekerasan, lalu mengutuk kekerasan itu tanpa pernah menyebut kondisi yang menciptakannya. Genosida Kamboja tidak bisa dilepaskan dari pemboman AS yang menghancurkan struktur sosial negara itu sebelum Khmer Merah berkuasa. Tapi narasi Barat hanya menyimpan “monster lokal” — bukan akar sebabnya.
Australia: Laboratorium Genosida Sunyi
Tidak ada yang membuat Pilger lebih dibenci di negara asalnya sendiri daripada caranya membicarakan Australia. Ia tidak berbicara tentang Australia sebagai negara dengan masalah — ia berbicara tentang Australia sebagai laboratorium genosida sunyi yang berhasil karena tidak pernah disebut demikian.
Pencurian anak-anak Aborigin yang berlangsung selama puluhan tahun, kekerasan negara yang disangkal secara sistematis, narasi nasional yang membangun identitas di atas penghapusan sejarah — semua ini Pilger dokumentasikan dengan detail yang membuat orang tidak bisa menolaknya hanya dengan mengatakan “itu sudah masa lalu.” Bagi Pilger, yang membuat kejahatan historis tetap hidup bukan waktu, tapi impunitas yang diwariskan melalui diam.
Elite Australia menyebutnya tidak patriotik. Bagi Pilger, patriotisme yang membutuhkan keheningan atas kejahatan adalah patriotisme yang melindungi pelaku, bukan korban.
Perang sebagai Industri, Media sebagai Bagian Darinya
Ketika AS menginvasi Irak dengan argumen senjata pemusnah massal, Pilger adalah salah satu suara paling keras yang menolak narasi itu — bukan setelahnya, tapi sebelum dan selama invasi berlangsung. Ia menunjukkan bahwa media tidak sekadar salah dalam meliput klaim WMD. Media secara aktif menjadi alat legitimasi perang, mengemas kebohongan dalam bahasa yang terdengar masuk akal, dan memilih narasumber yang akan mengonfirmasi apa yang sudah diputuskan oleh kekuasaan.
Ia menolak framing “War on Terror” dan menyebutnya dengan nama yang lebih tepat secara historis: perang untuk mempertahankan dominasi global. Bukan karena ia membela terorisme, tapi karena ia melihat bahwa label “terorisme” dalam penggunaan politiknya lebih sering berfungsi sebagai alat untuk menutup pertanyaan daripada menjawabnya.
Pola yang sama ia terapkan pada demonisasi China dan Rusia. Bukan untuk membela rezim Beijing atau Moskow — Pilger tidak pernah memiliki ilusi tentang karakter kedua pemerintahan itu — tapi untuk menunjukkan bahwa imperium selalu membutuhkan musuh. Musuh yang diproduksi secara naratif membenarkan anggaran militer yang terus membengkak dan kontrol domestik yang terus meningkat. Ia menyebutnya manufactured enemy doctrine.
Assange dan Pengadilan terhadap Jurnalisme
Tidak ada kasus yang lebih personal bagi Pilger di tahun-tahun terakhir hidupnya daripada Julian Assange. Pilger adalah salah satu pembela paling konsisten dan paling keras bagi pendiri WikiLeaks itu — hadir di persidangan, menulis tanpa henti, dan menolak narasi bahwa Assange adalah pelarian dari keadilan.
Bagi Pilger, kasus Assange adalah sesuatu yang jauh lebih besar dari satu orang. Ia menyebutnya pengadilan terhadap jurnalisme itu sendiri. Assange tidak dihukum karena berbohong. Ia dihukum karena membuktikan kebenaran dengan dokumen — dan kebenaran yang ia buktikan adalah bahwa pemerintah demokratis melakukan hal-hal yang mereka tidak akui di depan publik mereka sendiri.
Warisan yang Tidak Viral tapi Tidak Bisa Dihapus
Pilger memilih jalan yang tidak menguntungkan secara komersial. Di era klip pendek dan engagement metrics, ia tetap membuat dokumenter panjang yang membutuhkan kesabaran dan kemauan untuk tidak nyaman. Ia tidak pernah kaya dari pekerjaannya. Ia menolak kenyamanan posisi akademik yang ditawarkan kepadanya.
Ia tahu kebenaran tidak viral. Tapi ia juga tahu bahwa kebenaran yang tidak dituliskan tidak hanya menghilang — ia digantikan oleh versi lain yang lebih menguntungkan bagi yang berkuasa.
John Pilger bukan anti-Barat. Ia adalah anti-kemunafikan, anti-kebohongan terstruktur, dan anti-media yang lupa bahwa fungsi utamanya bukan untuk menjelaskan dunia kepada kekuasaan, tapi untuk menjelaskan kekuasaan kepada dunia. Jika Robert Fisk adalah saksi medan perang, maka Pilger adalah pembedah cara publik diajarkan untuk memahami medan perang itu. Dan itu, bagi kekuasaan, jauh lebih berbahaya.
Internal link:
- “propaganda media dalam perang” — /konflik-dunia/trump-tolak-respons-iran-gencatan-senjata/
- “imperialisme dan dominasi global” — /tokoh-kekuasaan-elit-global/john-d-rockefeller-cetak-biru-kekuasaan/
- “konflik Timur Tengah dan narasi Barat” — /konflik-dunia/israel-tewaskan-militan-hizbullah-lebanon-selatan-2026/
