EROPA ALIHKAN €800 MILIAR untuk Putus Ketergantungan Senjata dari Washington
Ininih.com — Uni Eropa bergerak membangun mesin perang sendiri setelah 80 tahun mengandalkan payung keamanan Amerika Serikat. Pemimpin dari dua ujung spektrum politik — Kanselir Jerman Friedrich Merz hingga PM Spanyol Pedro Sánchez — menyuarakan kesimpulan yang sama: ketergantungan pada Washington sudah tidak bisa dipertahankan. Program ReArm Europe senilai €800 miliar kini menjadi taruhan terbesar Eropa dalam sejarah pertahanannya.
Krisis Kepercayaan yang Mengubah Arsitektur Keamanan Eropa
Pergeseran ini bukan terjadi dalam semalam. Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 menjadi peringatan awal, tetapi kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih pada 2024 yang benar-benar memaksa Eropa bertindak. Trump secara terbuka meremehkan komitmen NATO, sementara kebijakan AS terhadap Iran memperlihatkan betapa rapuhnya konsensus transatlantik — Spanyol sampai melarang pangkalan AS di wilayahnya digunakan untuk operasi militer di Iran.
Puncaknya terjadi awal 2026: AS menarik 5.000 tentara dari Jerman, termasuk satuan Multi-Domain Task Force, dan membatalkan pengerahan sistem rudal jarak jauh Typhon yang berjangkauan 1.600 km. Jerman merespons dengan mengalihkan 92 persen dari anggaran pertahanan €83 miliar ke industri Eropa. Denmark, yang sebelumnya mengarahkan 79 persen pembelian senjata ke AS, kini memangkas angka itu menjadi 48 persen. Data terbaru menunjukkan 75 persen dana pengadaan senjata Uni Eropa masih mengalir ke luar blok — mayoritas ke AS — dan inilah yang ingin dibalik Brussel sebelum 2030.
Kesenjangan Rudal dan Jendela Kerentanan 4-6 Tahun
Di balik angka-angka anggaran yang besar, ada kenyataan teknis yang jauh lebih mengkhawatirkan. Setelah AS menarik sistem Typhon, Eropa tidak memiliki rudal darat dengan jangkauan lebih dari 500 km — sementara Rusia dapat menjangkau target Eropa Barat dari Kaliningrad tanpa harus menggeser satu pun pasukannya ke barat. Sistem pengganti Eropa, Taurus Neo berkangkauan 1.000 km dan ELSA yang menjangkau 2.000 km, baru akan siap pada 2030-an. Inilah yang para analis sebut sebagai “window of vulnerability” selama empat hingga enam tahun.
Di luar rudal, Eropa masih bergantung penuh pada AS untuk sistem peringatan dini berbasis satelit. Program Odin’s Eye II sedang dibangun, tetapi belum beroperasi. CSIS secara khusus memperingatkan bahwa konflik AS-Iran telah menguras cadangan rudal interceptor dengan laju yang tidak bisa segera diganti — dan jika krisis meletus serentak di Indo-Pasifik, Eropa hampir pasti tidak akan menerima pasokan interceptor dari Washington.
Di sisi industri, gambarannya lebih positif. Rheinmetall kini memproduksi 1,5 juta amunisi 155mm per tahun — melampaui kapasitas AS — dan membuka 16 fasilitas produksi baru. MBDA meningkatkan produksi rudal Mistral dari 10 unit per bulan sebelum 2022 menjadi 40 unit per bulan pada 2026. Leonardo Italia menambah 50 persen tenaga kerja hingga mencapai 64.000 karyawan.
Eropa Tanpa Jaring Pengaman
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah Eropa akan membangun pertahanan mandiri — tetapi apakah prosesnya cukup cepat. Rusia diprediksi akan menguji ambang batas Pasal 5 NATO dalam 24 bulan ke depan melalui provokasi “ambigu” di Baltik: sabotase kabel bawah laut, serangan siber terhadap infrastruktur energi, dan operasi pengaruh yang dirancang agar tidak cukup keras untuk memicu respons kolektif, tetapi cukup menyakitkan untuk memperlihatkan ketidakberdayaan Eropa.
Jika provokasi itu datang sebelum sistem rudal Eropa siap, sebelum 16 negara mencairkan dana SAFE, dan sebelum latihan militer “tanpa AS” yang mulai digelar sejak April 2026 menghasilkan doktrin operasional yang nyata — Eropa akan menghadapi ujian eksistensial tanpa jaring pengaman yang selama delapan dekade disediakan Washington. Dana €800 miliar bisa membeli banyak hal, tetapi tidak bisa membeli waktu.
