Mei 25, 2026

KONFLIK IRAN HANTAM LABA KORPORASI EROPA, SEKTOR MEWAH DAN OTOMOTIF PALING TERPUKUL

images

Ininih.com — Musim laporan keuangan kuartal pertama 2026 di Eropa mencatat pertumbuhan laba per saham tertinggi sejak Q1 2023, dengan angka blended mencapai 7 persen menurut analisis Barclays. Namun di balik angka agregat itu, tiga dari empat perusahaan Eropa mengaku terdampak konflik Iran — melalui pelemahan permintaan, gangguan rantai pasok, atau kenaikan biaya input. Pasar pun bereaksi dengan cara yang tidak biasa: perusahaan yang melampaui ekspektasi tidak mendapat penghargaan, sementara yang gagal dihukum lebih berat dari sebelumnya.

Energi Jadi Penyangga, Konsumen Jadi Korban

Angka pertumbuhan 7 persen menyembunyikan kesenjangan sektoral yang tajam. Sektor energi menjadi pendorong utama — harga minyak yang melonjak sejak eskalasi konflik di Selat Hormuz mendongkrak laba perusahaan seperti Shell hingga lebih dari 50 persen dibanding awal tahun. Semikonduktor dan infrastruktur ikut tumbuh, ditopang permintaan dari program kemandirian pertahanan Eropa dan ekspansi pusat data AI.

Di ujung berlawanan, sektor konsumen diskresioner mencatat penurunan laba lebih dari 12 persen — terburuk di seluruh indeks MSCI Europe. LVMH, Kering, dan Hermes memberi peringatan pelemahan permintaan; Hermes bahkan mengalami penurunan penjualan, sesuatu yang jarang terjadi pada merek selevel itu. Accor melaporkan hotel-hotelnya di Uni Emirat Arab — yang menyumbang 3 persen total kamar — terpukul berat akibat konflik. Stellantis dan Ferrari menghadapi tekanan ganda: pengiriman turun meski margin Ferrari masih bertahan. Tanpa kontribusi energi dan semikonduktor, kata Societe Generale, revisi laba Eropa secara keseluruhan akan negatif.

Kesenjangan dengan AS Bukan Soal Sementara

Yang lebih mengkhawatirkan adalah jarak yang terus melebar antara korporasi Eropa dan Amerika. Pertumbuhan EPS AS pada periode yang sama mencapai 27 persen — tertinggi sejak Q4 2021 — didorong ekosistem teknologi dan AI yang tidak memiliki padanan di Eropa. Tingkat perusahaan Eropa yang melampaui ekspektasi analis berada di bawah 50 persen, sementara AS melampaui 83 persen.

Goldman Sachs menaikkan proyeksi pertumbuhan laba Stoxx 600 untuk 2026 menjadi 10 persen, tetapi sekaligus memangkas proyeksi 2027 menjadi 5 persen — sinyal bahwa dorongan dari energi tidak akan bertahan lama. Bank of America memperingatkan potensi downside 8 persen untuk estimasi laba forward Stoxx 600 pada pertengahan 2026, jika harga energi tetap tinggi dan PMI terus melemah. PMI global sudah turun ke 50,6 pada Maret — level yang secara historis konsisten dengan gelombang pemangkasan laba korporasi.

Ujian Sesungguhnya Baru Dimulai

Q1 2026 bisa menjadi kuartal terakhir yang masih relatif terlindungi dari dampak penuh konflik Iran. Analis dari Societe Generale dan JPMorgan sepakat bahwa dampak terhadap rantai pasok, inflasi energi, dan kepercayaan konsumen baru akan terasa penuh pada laporan Q2 dan Q3. Konsensus pasar saat ini memperkirakan pertumbuhan laba Eropa setahun penuh mencapai 11 hingga 18 persen — angka yang mengimplikasikan lonjakan tajam di paruh kedua. Jika kondisi makro tidak berbalik, target itu hampir mustahil dicapai.

Ancaman tarif 25 persen Trump pada kendaraan dari Uni Eropa menambah tekanan pada sektor otomotif yang sudah tertekan. Di sisi lain, satu-satunya sektor yang tampaknya akan terus mendapat aliran dana segar adalah pertahanan — seiring dengan program rearmament Eropa senilai €800 miliar yang mulai mengalir ke kontrak-kontrak industri. Bagi korporasi Eropa lainnya, Q1 2026 bukan puncak pemulihan. Kemungkinan besar, ini hanya jeda sebelum tekanan yang lebih berat datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *