Kapolri Terima Audiensi Direktur FBI, Perkuat Kerja Sama Pemberantasan Kejahatan Transnasional
Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo menerima audiensi Direktur Federal Bureau of Investigation (FBI) Amerika Serikat, Kash Patel, di Markas Besar Polri, Jakarta, Kamis (23/7). Pertemuan tersebut menjadi momentum penting bagi kedua lembaga untuk memperkuat kerja sama dalam menghadapi ancaman kejahatan transnasional yang semakin kompleks di era digital.
Dalam pertemuan yang berlangsung di Gedung Utama Mabes Polri tersebut, Kapolri menyampaikan apresiasi atas hubungan kerja sama yang telah terjalin dengan baik antara Polri dan FBI sejak tahun 2014. Kerja sama tersebut mencakup pertukaran informasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta dukungan terhadap berbagai upaya penegakan hukum. Hubungan kelembagaan ini telah memiliki landasan yang kuat melalui Letter of Intent tentang Kerja Sama Timbal Balik dalam Pengembangan Kapasitas serta Pencegahan dan Penanggulangan Kejahatan Transnasional yang ditandatangani pada 5 Juli 2019 dan telah diperpanjang hingga tahun 2029.
Kapolri menegaskan bahwa kerja sama internasional menjadi faktor penting dalam mendukung penegakan hukum di tengah dinamika global yang memunculkan berbagai bentuk kejahatan transnasional. “Di tengah dinamika global, berbagai jenis kejahatan terus berkembang, seperti kejahatan siber, terorisme, tindak pidana perdagangan orang, dan kejahatan lainnya. Oleh karena itu, kerja sama internasional menjadi faktor penting dalam mendukung penegakan hukum,” kata Sigit.
Pertemuan tersebut membahas sejumlah isu strategis, antara lain ancaman peredaran fentanyl dan bahan prekursor, penanganan jaringan scam compounds dan cyber-enabled fraud, penguatan kerja sama investigasi, serta pertukaran informasi intelijen. Kedua belah pihak juga membahas pengembangan kapasitas personel melalui berbagai program pelatihan yang diselenggarakan FBI, termasuk di FBI Academy. Hingga saat ini, sebanyak 286 personel Polri telah mengikuti berbagai program pengembangan kapasitas bersama FBI.
Selain itu, Polri dan FBI sepakat mempercepat penanganan buronan yang menjadi subjek Interpol Red Notice serta memperkuat mekanisme kerja sama dalam proses penegakan hukum lintas negara. Kapolri berharap kerja sama operasional dapat diperkuat melalui pertukaran intelijen secara cepat, identifikasi pelaku dan jaringan, pelacakan aliran dana, pemulihan aset, serta pembentukan mekanisme koordinasi yang lebih efektif.
Kapolri juga mendorong penguatan kerja sama dalam menghadapi ancaman terorisme serta pemanfaatan Jakarta Centre for Law Enforcement Cooperation sebagai pusat pendidikan dan pelatihan internasional yang telah melibatkan peserta dari 101 negara. Sementara itu, Direktur FBI Kash Patel menegaskan komitmen lembaganya untuk terus memperkuat kerja sama dengan Polri dalam pemberantasan terorisme, narkotika, kejahatan siber, serta berbagai bentuk kejahatan lintas negara lainnya melalui pendekatan yang lebih erat, konkret, dan berkelanjutan.
Sebelum bertemu dengan Kapolri, Direktur FBI Kash Patel juga melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Prabowo Subianto di kediaman Kertanegara, Jakarta, pada Rabu (22/7). Dalam pertemuan tersebut, Patel secara langsung menyerahkan sejumlah artefak budaya Indonesia yang diselundupkan secara ilegal ke Amerika Serikat sebagai bagian dari kerja sama repatriasi antara Pemerintah Indonesia dan FBI. Artefak tersebut berasal dari Papua, tepatnya merupakan warisan masyarakat Suku Dani, Suku Asmat, dan Suku Danau di kawasan Danau Sentani.
Kunjungan Direktur FBI ke Indonesia ini menegaskan bahwa Amerika Serikat memandang Indonesia sebagai mitra strategis dalam penegakan hukum internasional. Penguatan kerja sama antara Polri dan FBI diharapkan dapat menciptakan keamanan bagi masyarakat Indonesia dan dunia dengan bersama-sama menghadapi berbagai bentuk kejahatan modern yang semakin kompleks dan lintas negara.
