September 1, 2026

Karhutla Gunung Semeru: Ketika Api Melumat Habitat, Satwa Liar Terancam

IMG-20260831-WA0058

Api masih berkobar di lereng Gunung Semeru. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus meluas dari hari ke hari, mengancam tidak hanya vegetasi dan jalur pendakian, tetapi juga habitat satwa liar yang selama ini berlindung di balik hutan lebat.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, luas kawasan TNBTS yang terdampak sudah mencapai 592 hektare. Jumlah tersebut berisiko terus bertambah mengingat api masih terus berkobar di sejumlah titik. Sebelumnya, luas area terdampak sempat tercatat 160 hektare pada 29 Agustus, kemudian melonjak menjadi 290 hektare pada 30 Agustus, sebelum akhirnya mencapai 592 hektare pada 31 Agustus.

Kebakaran yang terjadi di lereng Gunung Semeru sudah berlangsung sejak Rabu (26/8/2026). Titik api pertama kali muncul di Blok Ranu Kembang dan terus menjalar hingga berdampak ke berbagai lokasi.

Tujuh Titik Api dan Medan Sulit Dijangkau

Hingga Sabtu (29/8), petugas gabungan mendeteksi sedikitnya tujuh titik api yang tersebar di sejumlah lokasi. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Lumajang Yudhi Cahyono menyebutkan titik api berada di Ledok Bedor, Blok Jantur, Blok Ranukembang, daerah Ayak-Ayak, Watu Rejeng, Ranu Kumbolo, dan Puncak Trisula.

Pada Senin (31/8), Kepala BPBD Kabupaten Lumajang Isnugroho melaporkan titik api saat ini berada di jalur pendakian Gunung Semeru, mulai dari Pos 1 hingga Pos 4. Balai Besar TNBTS juga mencatat ada tiga titik api di lereng Gunung Semeru, meliputi Blok Cemoro Kandang, sekitar Pos 1 pendakian, dan Gunung Kukusan.

Salah satu kawasan yang ikut terdampak adalah Danau Ranu Kumbolo, destinasi favorit para pendaki. Kabag Tata Usaha BBTNBTS Bambang Suryono menyampaikan bahwa Danau Ranu Kumbolo dan Tanjakan Cinta yang sebelumnya terdampak kebakaran saat ini sudah terpantau padam. Namun, upaya pemadaman masih terus dilakukan di titik-titik api lainnya.

Karakter kawasan yang berbukit dan terdapat titik api di lokasi sulit dijangkau membuat penanganan membutuhkan kombinasi metode. Kepala BPBD Kabupaten Lumajang Isnugroho mengakui keterbatasan alat dan medan yang sulit dijangkau petugas darat membuat proses pemadaman tidak bisa efektif.

Water Bombing dan Pemadaman Manual

Untuk menjangkau titik api yang sulit diakses melalui jalur darat, dua helikopter bantuan BPBD Jawa Timur dikerahkan melakukan water bombing. Helikopter PK-DAP milik BPBD Jatim diarahkan ke kawasan Blok Ayak-Ayak dan Bangunan Cilik, Desa Ranupani, Kecamatan Senduro.

Kepala Seksi PTN Wilayah III TNBTS Agus Kusuma Negara mengatakan terdapat dua lanskap yang mengalami kebakaran secara masif di sejumlah titik. “Yang satu berada di Ayak-Ayak, kedua ada di Bangunan Cilik. Upaya yang dilakukan dengan berkolaborasi dengan bantuan water bombing dari BPBD Jatim,” katanya.

Operasi water bombing sempat dihentikan pada Jumat (28/8) siang karena angin yang cukup kencang, sehingga helikopter kembali ke Abd. Rahman Saleh untuk standby. Selain operasi udara, petugas TNBTS bersama BPBD Lumajang, masyarakat, dan unsur gabungan terus melakukan pemadaman manual. Penanganan dilakukan dengan membuat sekat bakar serta memadamkan api menggunakan peralatan yang dapat dibawa ke lokasi.

Satwa Liar Terancam: Habitat yang Hangus dan Jalan Hidup yang Terputus

Di balik kepulan asap dan luas lahan yang terbakar, ada kehidupan lain yang ikut dipertaruhkan. Karhutla yang semakin meluas mengancam habitat satwa liar yang dilindungi di kawasan TNBTS.

Api telah membakar sejumlah jenis vegetasi di area Ayek-Ayek dan Pangonan Cilik. Di antaranya tanaman rumput malelo yang merupakan flora endemik sekaligus habitat berbagai fauna, seperti macan kumbang, rusa, hingga burung puyuh. Karhutla juga menghanguskan tanaman cemara gunung dan akasia di area Semeru.

Hutan yang hangus berarti hilangnya vegetasi, sumber pakan, tempat berlindung, dan ruang jelajah. Satwa yang berhasil menyelamatkan diri pun bisa terdorong keluar dari habitatnya dan menghadapi ancaman baru ketika memasuki wilayah manusia.

Kebakaran di savana tidak hanya berdampak pada vegetasi, tetapi juga mengancam keberadaan satwa liar yang hidup di kawasan konservasi. Beberapa satwa endemik yang masih dalam fase berkembang biak seperti anakan burung dan telur yang berada di sarang disebut turut menjadi korban karena tidak mampu menyelamatkan diri dari cepatnya pergerakan api.

Penutupan Jalur Pendakian dan Upaya Jangka Panjang

Balai Besar TNBTS telah melakukan penutupan total aktivitas wisata pendakian Gunung Semeru. Masyarakat diimbau tidak memasuki kawasan terdampak dan mengikuti informasi resmi dari pengelola TNBTS.

Sementara itu, helikopter water bombing yang sebelumnya mendukung penanganan karhutla di kawasan Semeru telah dialihkan untuk membantu penanganan kebakaran di wilayah Kalimantan. Hal ini membuat pengendalian kebakaran di Semeru mengandalkan pemantauan darat dan peran serta masyarakat.

Karhutla di kawasan konservasi tidak boleh dilihat hanya sebagai persoalan api dan luas lahan yang terbakar. Setiap hektare hutan yang diselamatkan berarti menyelamatkan bagian dari ekosistem. Api mungkin bisa dipadamkan dalam hitungan jam atau hari. Tetapi untuk mengembalikan hutan dan habitat yang rusak, alam membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.

Hingga kini, petugas gabungan dari TNBTS, BPBD Lumajang, TNI-Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan relawan terus berjibaku mengendalikan kobaran. Namun, dengan luas lahan yang terus bertambah dan medan yang sulit, perjuangan menyelamatkan Semeru dari kepungan api masih panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *