Kebijakan America First Mulai Menggeser Pengaruh Uni Eropa di Balkan Barat
Di enam negara Balkan Barat yang bukan anggota Uni Eropa, kebijakan America First mulai menghalau pengaruh Brussels dari kawasan tersebut . Bergesernya pendekatan AS dari agenda demokrasi dan perluasan institusi menuju kepentingan ekonomi dan energi transaksional telah menciptakan perpecahan dalam konsensus Barat yang sebelumnya terjalin selama beberapa dekade .
Perubahan fundamental ini terjadi setelah terpilihnya kembali Donald Trump sebagai Presiden AS pada Januari 2025. Laporan Departemen Luar Negeri AS kini secara tegas menyatakan bahwa “era pembangunan bangsa yang dipimpin AS telah berakhir” . Sebagai gantinya, Washington mengejar “pengembalian langsung” bagi perusahaan-perusahaan AS melalui proyek infrastruktur dan energi . Hal ini kontras dengan pendekatan Uni Eropa yang masih berbasis aturan dan prosedur aksesi yang panjang .
Fokus utama AS saat ini adalah dominasi energi, khususnya penggantian gas alam Rusia dengan Liquefied Natural Gas (LNG) AS di Eropa . Balkan Barat dipandang sebagai jalur transit strategis untuk mendistribusikan LNG AS ke Eropa Tengah dan Timur . Proyek-proyek seperti Koridor Gas Vertikal dan Interkoneksi Gas Selatan dari Kroasia ke Bosnia dan Herzegovina menjadi prioritas . Sejumlah perusahaan dengan koneksi ke lingkaran Trump terlibat, seperti AAFS Infrastructure and Energy LLC dalam proyek pipa gas senilai €1,5 miliar di Bosnia yang diberikan secara langsung tanpa proses tender .
Ketegangan antara AS dan UE semakin nyata. Di Bosnia dan Herzegovina, UE mengancam mencabut pendanaan jika aturan pengadaan dilanggar dalam proyek pipa . AS bahkan mendesak pengunduran diri Pejabat Tinggi Internasional di Bosnia untuk memuluskan proyek energi yang kontroversial . Sementara itu, pemimpin regional seperti Presiden Serbia Aleksandar Vučić secara terbuka merangkul kebijakan Trump, menyatakan Serbia memahami visi AS dan menawarkan hubungan yang dapat menjadi aset bagi stabilitas Eropa . Imbasnya, keputusan AS mencabut sanksi terhadap pemimpin Republika Srpska yang pro-Rusia, Milorad Dodik, menambah kerumitan dengan mendorong ambisi separatis dan ketidakstabilan .
Situasi ini menandai titik balik di mana AS dan UE tidak lagi terkoordinasi melalui forum Quint, melainkan saling bersaing untuk pengaruh ekonomi dan geopolitik di kawasan yang masih rapuh pasca-konflik. Masyarakat Balkan Barat pun kini berada di antara dua agenda yang berbeda.
