September 1, 2026

Kementan Dorong Inovasi Pakan untuk Perkuat Keberhasilan Reproduksi Ternak

IMG-20260828-WA0047

Keberhasilan inseminasi buatan (IB) tidak hanya ditentukan oleh kualitas semen dan keterampilan inseminator, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi tubuh, kesehatan reproduksi, serta kecukupan nutrisi ternak. Karena itu, penguatan manajemen pakan menjadi bagian penting dalam meningkatkan keberhasilan reproduksi sekaligus mempercepat peningkatan populasi dan produktivitas ternak nasional.

Pesan tersebut mengemuka dalam Webinar Pakan Nasional Seri ke-9 bertema “Optimalisasi Nutrisi Pakan untuk Keberhasilan Inseminasi Buatan” yang diselenggarakan Kementerian Pertanian melalui Direktorat Pakan bekerja sama dengan Balai Inseminasi Buatan Lembang dan Perpustakaan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Nutrisi Seimbang Kunci Reproduksi

Direktur Pakan Kementerian Pertanian, Tri Melasari, mengatakan keberhasilan IB tidak hanya bergantung pada kualitas semen beku, tetapi juga keterampilan inseminator, tata laksana reproduksi, status nutrisi, dan kondisi tubuh ternak. Menurutnya, pemberian pakan yang hanya memenuhi kebutuhan hidup dasar belum cukup untuk mendukung fungsi reproduksi secara optimal.

“Kalau pakannya hanya untuk bertahan hidup saja, fungsi reproduksinya akan terganggu. Pakan dengan kandungan energi, protein, mineral, vitamin, dan zat nutrien lainnya yang sesuai kebutuhan akan mendukung kesehatan dan performa reproduksi,” ujar Tri Melasari.

Tri Melasari menekankan, webinar tersebut tidak boleh berhenti pada pertukaran pengetahuan, tetapi harus menghasilkan penerapan nyata di lapangan. Karena itu, ia mendorong inovasi di bidang pakan, termasuk pemanfaatan bahan pakan lokal dan teknologi pengolahan pakan, untuk terus dikembangkan dan dibagikan antardaerah.

“Saya menantang teman-teman di daerah maupun di pusat untuk menyampaikan dan mengembangkan inovasi pakan yang memiliki nilai tambah. Inovasi tersebut tidak harus selalu membutuhkan teknologi yang besar, tetapi bagaimana bahan pakan lokal dan metode pengolahan dapat meningkatkan kandungan nutrisi, efisiensi, dan memberikan manfaat nyata bagi peternak,” katanya.

Indikator Keberhasilan Inseminasi Buatan

Mansyur, Tim Ahli Pakan Kementerian Pertanian sekaligus Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, menjelaskan bahwa keberhasilan IB dapat diukur melalui sejumlah indikator, antara lain Non Return Rate (NRR), Service per Conception (S/C), Conception Rate, angka kelahiran, jarak beranak, dan days open.

Menurut Mansyur, pencapaian indikator tersebut sangat dipengaruhi oleh kualitas semen, keterampilan inseminator, ketepatan deteksi estrus, kesehatan reproduksi, serta manajemen dan kondisi tubuh ternak. Nutrisi memiliki pengaruh langsung terhadap hormon reproduksi, kesehatan ternak, dan keberhasilan kebuntingan. Kekurangan nutrisi dapat menghambat ekspresi hormonal dan tanda estrus. Sebaliknya, pemberian protein yang berlebihan dapat meningkatkan kadar Blood Urea Nitrogen (BUN) yang berpotensi mengganggu lingkungan reproduksi dan perkembangan embrio.

“Intinya adalah bagaimana kita menciptakan nutrisi yang seimbang. Salah satu indikator sederhana yang dapat kita gunakan adalah Body Condition Score atau BCS. Kalau BCS ideal, kita mempunyai dasar yang lebih baik untuk mendukung keberhasilan reproduksi dan IB,” jelas Mansyur.

Ia juga mendorong peternak untuk memperhatikan kebutuhan nutrisi sesuai dengan fase reproduksi. Sebelum IB, kondisi tubuh ternak perlu dipersiapkan melalui perbaikan asupan energi apabila BCS belum ideal. Sementara setelah IB, kecukupan mineral seperti zinc dan selenium serta vitamin E perlu diperhatikan untuk mendukung imunitas dan menjaga kondisi lingkungan reproduksi.

Peran Balai Inseminasi Buatan Lembang

Kepala Balai Inseminasi Buatan Lembang, Gun Gun Gunara, menegaskan bahwa kualitas genetik yang diperoleh melalui IB harus didukung manajemen pemeliharaan yang baik agar dapat diekspresikan secara optimal. Menurut Gun Gun, faktor genetik dan lingkungan merupakan satu kesatuan yang menentukan produktivitas ternak.

“Keberhasilan IB tidak hanya ditentukan oleh semen beku. Ketepatan pelaksanaan, kondisi fisiologis dan reproduksi indukan, nutrisi dan kesehatan ternak, manajemen, serta kualitas pakan merupakan bagian yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan,” ujar Gun Gun.

Gun Gun menjelaskan, BIB Lembang terus mendukung peningkatan mutu genetik ternak melalui produksi semen beku berkualitas dan penerapan teknologi reproduksi. Melalui teknologi IB, potensi genetik pejantan unggul dapat disebarluaskan secara lebih efisien ke berbagai wilayah Indonesia. Teknologi tersebut juga membantu mengatur perkawinan dan menghindari inbreeding atau perkawinan antarter­nak yang masih memiliki hubungan kekerabatan sangat dekat.

Menurutnya, penguatan teknologi reproduksi harus berjalan beriringan dengan perbaikan pakan dan manajemen pemeliharaan. Kombinasi ketiganya akan mempercepat peningkatan populasi dan produktivitas ternak, khususnya dalam mendukung pemenuhan kebutuhan daging dan susu di dalam negeri.

Melalui Webinar Pakan Nasional Seri ke-9, Kementerian Pertanian mendorong sinergi antara pengelolaan pakan, teknologi reproduksi, kesehatan hewan, dan peningkatan mutu genetik sebagai bagian dari strategi pembangunan peternakan nasional. Penerapan nutrisi yang tepat di tingkat peternak diharapkan dapat meningkatkan efisiensi reproduksi, memperkuat produktivitas ternak, serta memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan peternak dan pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *