Puan Dorong Pemerintah Tingkatkan Kesiapsiagaan Nasional, Aktivitas Gunung Anak Krakatau Masih Fluktuatif
Ketua DPR RI Puan Maharani mendorong pemerintah melakukan kesiapsiagaan nasional demi keselamatan masyarakat menyusul kembali aktifnya Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Puan menegaskan bahwa kesiapsiagaan nasional dalam kebencanaan harus ditingkatkan menghadapi peningkatan aktivitas gunung api tersebut, dengan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama.
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Status Level III atau Siaga. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat Gunung Anak Krakatau telah mengalami 19 kali erupsi sepanjang periode Juni hingga Juli 2026. Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Suwarno menyatakan aktivitas gunung api tersebut masih fluktuatif, sehingga pemantauan dilakukan selama 24 jam penuh.
Puan mengatakan pemerintah perlu menjadikan peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau sebagai momentum untuk mengevaluasi kesiapan nasional dalam menghadapi potensi bencana vulkanik, khususnya di kawasan pesisir Selat Sunda yang memiliki sejarah kerawanan tinggi. Evaluasi tidak hanya mencakup pemantauan aktivitas gunung api, tetapi juga efektivitas sistem peringatan dini, kesiapan jalur evakuasi, koordinasi antarinstansi, kapasitas pemerintah daerah, hingga kesiapan masyarakat dalam merespons informasi kebencanaan.
Peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang menunjukkan intensitas erupsi lebih tinggi menjadi pengingat bahwa Indonesia sebagai negara yang berada di kawasan cincin api dunia harus terus memperkuat sistem mitigasi bencana secara menyeluruh. Puan menegaskan ancaman bencana geologi memang tidak dapat dicegah, tetapi dampaknya dapat diminimalkan apabila seluruh sistem kesiapsiagaan nasional bekerja secara cepat, terintegrasi, dan berbasis informasi ilmiah.
PVMBG mencatat aktivitas kegempaan dan hembusan masih terekam oleh alat pemantau, menjadi indikator bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih berlangsung. Masyarakat, wisatawan, maupun nelayan diimbau tidak beraktivitas dalam radius yang telah direkomendasikan oleh otoritas vulkanologi. Radius yang direkomendasikan adalah dua kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
Puan juga menekankan pentingnya memastikan informasi resmi dari PVMBG, BMKG, BNPB, dan pemerintah daerah tersampaikan secara cepat, konsisten, dan mudah dipahami masyarakat. Hal ini penting agar tidak menimbulkan kepanikan maupun ruang bagi penyebaran informasi yang tidak terverifikasi. Kecepatan penyampaian informasi menjadi bagian penting dari perlindungan masyarakat, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah pesisir maupun pelaku aktivitas pelayaran di sekitar Selat Sunda.
Selain itu, Puan meminta perhatian khusus terhadap kelompok rentan agar proses evakuasi dapat dilakukan lebih cepat dan efektif apabila terjadi kondisi darurat. Ia juga memastikan DPR RI akan mengawal kesiapsiagaan pemerintah menghadapi ancaman bencana vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau, terutama dalam hal penguatan sistem pemantauan gunung api, modernisasi teknologi peringatan dini, peningkatan kapasitas pemerintah daerah, serta edukasi kebencanaan kepada masyarakat.
Badan Geologi resmi menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada Jumat, 3 Juli 2026. Kenaikan status ini dipicu oleh peningkatan aktivitas vulkanik yang mencapai puncaknya ketika Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada Kamis, 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB dengan tinggi kolom abu teramati 200 meter di atas puncak atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut.
Meski aktivitas vulkanik meningkat dalam beberapa hari terakhir, status gunung tersebut masih berada pada Level III atau Siaga. PVMBG menyebut bahwa Gunung Anak Krakatau saat ini masih dalam kategori yang dapat dipantau dengan penerapan langkah mitigasi sesuai rekomendasi yang telah dikeluarkan. Masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi dan hanya mengacu pada informasi resmi yang disampaikan oleh lembaga berwenang.
Indonesia yang terletak di kawasan cincin api dunia memang menghadapi ancaman bencana geologi yang tidak dapat dicegah. Namun seperti yang ditekankan Puan, dampaknya dapat diminimalkan dengan sistem kesiapsiagaan yang kuat dan respons cepat. Setiap peringatan harus direspons dengan kesiapsiagaan dan bukan kepanikan. Semoga masyarakat tetap waspada, mengikuti informasi dari sumber resmi, dan kita semua senantiasa terlindungi dari segala potensi bencana.
