Wall Street Melemah, Ketidakpastian AS-Iran Tekan Dow Jones Lebih dari 300 Poin
Wall Street Melemah, Ketidakpastian AS-Iran Tekan Dow Jones Lebih dari 300 Poin
wall-street-melemah-as-iran-harga-minyak-8-mei-2026
Wall Street, Dow Jones, Nasdaq, S&P 500, harga minyak dunia, AS Iran, saham teknologi, Intel, AMD, Nvidia, ekonomi global
Pasar saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Kamis (7/5/2026) waktu setempat di tengah ketidakpastian negosiasi damai antara AS dan Iran, serta fluktuasi tajam harga minyak dunia. Tekanan terbesar terjadi pada indeks Dow Jones yang turun lebih dari 300 poin setelah investor mulai mengurangi ekspektasi tercapainya kesepakatan cepat di Timur Tengah.
ininih.com – Tiga indeks utama Wall Street kompak ditutup di zona merah setelah sentimen geopolitik kembali membayangi pasar global. Ketidakpastian arah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran membuat investor memilih mengambil posisi aman meski sebelumnya pasar sempat menguat pada awal sesi perdagangan.
Berdasarkan data penutupan Kamis (7/5/2026), indeks Dow Jones Industrial Average turun 313,62 poin atau 0,63 persen ke level 49.596,97. Sementara indeks S&P 500 melemah 28,01 poin atau 0,38 persen ke posisi 7.337,11.
Nasdaq Composite ikut terkoreksi tipis sebesar 32,75 poin atau 0,13 persen ke level 25.806,20, meski masih relatif tertahan oleh penguatan saham teknologi besar seperti Nvidia dan Microsoft.
Pada awal perdagangan, pasar sebenarnya sempat bergerak positif setelah muncul laporan bahwa Iran sedang mengevaluasi proposal 14 poin dari AS terkait penghentian konflik dan pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz.
Namun optimisme tersebut memudar menjelang penutupan pasar setelah belum adanya keputusan resmi dari Teheran. Situasi semakin rumit setelah muncul laporan bahwa Iran tengah menyiapkan lembaga khusus untuk memungut pajak kapal yang melintas di Selat Hormuz.
“Semua orang sangat menantikan de-eskalasi antara Iran dan AS,” kata Manajer Portofolio GuideStone, Josh Chastant.
Ia menambahkan musim laporan laba perusahaan sejauh ini sebenarnya tergolong kuat, namun sentimen geopolitik membuat investor tetap berhati-hati.
Tekanan besar juga datang dari sektor teknologi, khususnya industri semikonduktor. Saham Intel dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing anjlok sekitar 3 persen dan memimpin pelemahan saham chip.
Indeks PHLX Semiconductor tercatat turun 2,7 persen setelah investor mulai khawatir terhadap rantai pasok chip AI generasi baru.
Saham Arm Holdings juga ikut tertekan meski perusahaan tersebut sebelumnya melaporkan proyeksi pendapatan yang cukup baik.
Di sisi lain, Nvidia dan Microsoft justru berhasil menguat hampir 2 persen sehingga membantu Nasdaq tidak jatuh lebih dalam.
Selain faktor geopolitik, harga minyak dunia yang masih bergerak tinggi ikut membebani sentimen pasar. Brent masih bertahan di sekitar US$100 per barel meski sebelumnya sempat terkoreksi tajam akibat harapan kesepakatan damai AS-Iran.
Kondisi ini menekan saham sektor transportasi dan logistik karena kekhawatiran biaya energi akan tetap mahal dalam jangka pendek.
Sektor material menjadi yang paling terpukul di S&P 500 dengan penurunan 1,83 persen, disusul sektor energi yang melemah 1,78 persen.
Data perdagangan menunjukkan aktivitas pasar meningkat cukup tinggi. Sebanyak 18,3 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, lebih tinggi dibanding rata-rata 20 hari perdagangan terakhir sebesar 17,5 miliar saham.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menjadi tekanan tambahan bagi pasar saham. Yield Treasury tenor 10 tahun naik ke level 4,38 persen dari sebelumnya 4,36 persen.
Tekanan tidak hanya terjadi di AS. Bursa saham Eropa juga ditutup melemah dengan indeks London turun 1,5 persen dan Paris terkoreksi 1,2 persen di tengah kekhawatiran yang sama terkait konflik Timur Tengah dan volatilitas harga energi.
Tag: Wall Street, Dow Jones, Nasdaq, S&P 500, AS Iran, harga minyak, Intel, AMD, Nvidia, ekonomi global, saham teknologi, Selat Hormuz
