Harga Minyak Dunia Turun Tajam, Harapan Damai AS-Iran Tekan Brent ke Bawah US$100
harga-minyak-dunia-turun-as-iran-selat-hormuz-2026
Harga minyak dunia, Brent, WTI, AS Iran, Selat Hormuz, perang Timur Tengah, minyak global 2026
Harga minyak dunia turun tajam setelah pasar melihat peluang kesepakatan AS-Iran yang dapat membuka kembali Selat Hormuz. Brent kembali jatuh ke bawah US$100 per barel di tengah volatilitas tinggi.
ininih.com – Harga minyak dunia kembali turun tajam pada perdagangan Kamis, 7 Mei 2026 waktu Amerika Serikat, setelah pasar merespons meningkatnya optimisme terhadap potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dapat membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Berdasarkan data Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup di level US$100,06 per barel atau turun US$1,21 setara 1,2 persen. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 27 sen ke posisi US$94,81 per barel.
Penurunan ini melanjutkan tekanan besar sejak perdagangan Rabu, 6 Mei 2026, ketika Brent sempat anjlok hampir 8 persen ke level US$101,27 per barel dan WTI turun sekitar 7 persen ke US$95,08 per barel.
Pasar saat ini fokus pada perkembangan diplomasi antara Washington dan Teheran yang disebut semakin dekat menuju kesepakatan sementara untuk meredakan konflik di Timur Tengah.
Laporan sejumlah media internasional menyebut Amerika Serikat telah mengirim nota kesepahaman satu halaman kepada Iran melalui Pakistan sebagai mediator. Rancangan tersebut disebut mencakup pembukaan bertahap Selat Hormuz untuk pelayaran internasional.
Jika kesepakatan benar-benar tercapai, pasar memperkirakan tekanan harga minyak akan semakin besar dalam beberapa pekan ke depan.
“Jika kesepakatan benar-benar tercapai, harga Brent kemungkinan akan cepat kembali ke kisaran US$80 hingga US$90 per barel,” kata analis SEB Research, Ole Hvalbye.
Namun ia juga mengingatkan bahwa kegagalan negosiasi atau perubahan sikap Presiden Donald Trump yang kembali memilih opsi militer dapat membuat harga minyak melonjak di atas US$120 per barel.
Perdagangan minyak sepanjang Kamis berlangsung sangat liar dan penuh volatilitas. Pada sesi awal, harga Brent sempat jatuh lebih dari 3 persen ke level US$98,06 per barel akibat optimisme pasar terhadap kesepakatan AS-Iran.
Namun menjelang penutupan, harga kembali bergerak naik setelah muncul laporan Arab Saudi dan Kuwait membuka akses wilayah udara serta pangkalan militernya untuk mendukung operasi Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Situasi semakin panas setelah muncul laporan ledakan di Bandar Abbas, Iran, yang langsung memicu lonjakan harga pasca-penutupan perdagangan.
Dalam beberapa jam saja, harga minyak bergerak dari kenaikan sekitar 1 persen hingga sempat anjlok lebih dari 5 persen sebelum akhirnya memangkas pelemahan.
“Gejolak harga minyak hari ini sangat berkaitan dengan penilaian investor terkait perkembangan konflik di Timur Tengah,” ujar ahli strategi Citi AS, Scott Chronert.
Selain konflik Iran-AS, pasar juga diguncang kabar serangan terhadap kapal tanker China di dekat Selat Hormuz awal pekan ini. Serangan tersebut menjadi insiden pertama yang menyasar kapal minyak China di kawasan strategis tersebut sejak konflik memanas.
Di sisi lain, Iran dilaporkan memangkas produksi minyak sekitar 400 ribu barel per hari karena kapasitas penyimpanan yang mulai penuh akibat terganggunya distribusi ekspor.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital perdagangan energi dunia yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global. Karena itu, setiap perkembangan konflik di kawasan langsung mempengaruhi harga energi internasional.
Sepanjang April 2026, harga minyak bergerak ekstrem akibat perang dan isu gencatan senjata. Awal April Brent sempat menyentuh US$109 per barel, turun ke kisaran US$90-US$95 saat isu damai mencuat, lalu kembali melonjak hingga US$114 ketika konflik memanas di akhir bulan.
Kini pasar menunggu apakah diplomasi AS-Iran benar-benar menghasilkan kesepakatan atau justru kembali berubah menjadi eskalasi militer baru yang dapat mengguncang pasar energi global dalam waktu singkat.
