Mei 25, 2026

Iran Serang Kapal Perang AS di Selat Hormuz, Washington Balas Hantam Fasilitas Militer Teheran

69fbf29ac65f4-as-tangguhkan-aktivitas-di-selat-hormuz_siap

iran-vs-as-selat-hormuz-serangan-rudal-8-mei-2026

Iran AS, Selat Hormuz, USS Truxtun, CENTCOM, IRGC, rudal Iran, perang Timur Tengah, harga minyak dunia, Project Freedom

Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas setelah Iran dan Amerika Serikat saling melancarkan serangan militer pada Kamis (7/5/2026) hingga Jumat dini hari (8/5/2026). Iran mengklaim berhasil merusak kapal perang AS menggunakan rudal dan drone, sementara Washington membantah dan menyatakan seluruh serangan berhasil dicegat sebelum akhirnya membalas dengan menghantam fasilitas militer Iran.

ininih.com – Bentrokan terbaru antara Iran dan Amerika Serikat di Selat Hormuz memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas Timur Tengah dan jalur perdagangan minyak global. Insiden ini terjadi hanya beberapa hari sebelum AS meluncurkan operasi besar pengawalan kapal dagang bertajuk “Project Freedom”.

Berdasarkan kronologi berbagai laporan internasional, eskalasi dimulai pada Rabu (6/5/2026) ketika AS mengumumkan telah melumpuhkan kapal tanker Iran menggunakan jet tempur F-18 dengan menyerang bagian kemudi kapal di sekitar perairan Teluk.

Situasi semakin memanas pada Kamis (7/5/2026) saat tiga kapal perusak berpeluru kendali milik AS, yakni USS Truxtun (DDG 103), USS Rafael Peralta (DDG 115), dan USS Mason (DDG 87), melintasi Selat Hormuz menuju Teluk Oman.

Iran kemudian melancarkan serangan balasan pada Kamis malam menggunakan rudal balistik, rudal anti-kapal, drone peledak, serta kapal cepat bersenjata yang menargetkan armada AS tersebut.

Juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya Iran menyatakan serangan itu dilakukan sebagai respons atas tindakan AS terhadap kapal tanker Iran di dekat Jask dan Fujairah, Uni Emirat Arab.

“Militer Iran segera dan sebagai pembalasan menyerang kapal militer Amerika di sebelah timur Selat Hormuz dan selatan pelabuhan Chabahar, menyebabkan kerusakan signifikan pada kapal tersebut,” demikian pernyataan pihak Iran.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga mengklaim operasi tersebut merupakan “serangan gabungan besar dan presisi tinggi” menggunakan kombinasi rudal jelajah anti-kapal, rudal balistik, dan drone.

Menurut Iran, kapal-kapal AS mengalami kerusakan berat dan terpaksa mundur ke arah Laut Oman.

Namun klaim tersebut langsung dibantah oleh Komando Pusat Militer AS (CENTCOM).

Dalam pernyataannya, CENTCOM menyebut kapal perang AS sedang melakukan transit normal di jalur pelayaran internasional sebelum mendapat serangan yang disebut “tidak beralasan”.

“Iranian forces launched multiple missiles, drones and small boats as USS Truxtun (DDG 103), USS Rafael Peralta (DDG 115), and USS Mason (DDG 87) transited the international sea passage. No U.S. assets were struck,” tulis CENTCOM.

AS menyatakan seluruh rudal dan drone Iran berhasil dicegat sebelum mengenai target.

Sebagai balasan, Washington meluncurkan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas militer Iran pada Jumat dini hari (8/5/2026).

Target serangan meliputi lokasi peluncuran rudal dan drone, pusat komando dan kendali, serta fasilitas intelijen dan pengintaian Iran.

Ledakan kemudian dilaporkan terdengar di Bandar Abbas, Pulau Qeshm, Minab, hingga Teheran pada Jumat pagi.

CENTCOM menegaskan operasi tersebut dilakukan sebagai tindakan membela diri dan bukan untuk memicu perang terbuka.

“U.S. forces intercepted unprovoked Iranian attacks and responded with self-defense strikes. CENTCOM does not seek escalation but remains positioned and ready to protect American forces,” tulis pernyataan resmi mereka.

Di tengah situasi ini, Iran kembali mengeluarkan ancaman keras terhadap seluruh pasukan asing yang mencoba memasuki Selat Hormuz.

“Kami memperingatkan bahwa setiap pasukan bersenjata asing, terutama AS yang agresif, akan diserang jika mereka berniat mendekati dan memasuki Selat Hormuz,” kata Kepala Komando Gabungan Militer Iran Ali Abdollahi.

Ketegangan tersebut juga berdampak langsung terhadap perdagangan global. Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia dilaporkan masih mengalami gangguan berat.

Iran disebut telah memblokir sebagian besar pengiriman dari Teluk selama lebih dari dua bulan, menyebabkan ratusan kapal dan sekitar 20.000 pelaut terjebak di kawasan.

Sementara itu, harga minyak dunia tetap bergerak sangat fluktuatif di kisaran US$100 per barel akibat kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan perang regional lebih luas.

AS sendiri dikabarkan akan segera menjalankan operasi “Project Freedom”, yakni misi pengawalan kapal dagang di Selat Hormuz dengan melibatkan sekitar 15.000 personel militer, lebih dari 100 pesawat, kapal perang, dan drone.

Ketegangan semakin sensitif setelah sebuah kapal tanker milik China dilaporkan diserang di dekat Selat Hormuz awal pekan ini, menandai pertama kalinya kapal minyak China menjadi target sejak konflik memanas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *