Singapura Peringatkan “Godzilla El Nino” 2026, ASEAN Terancam Kabut Asap dan Krisis Pangan
super-el-nino-asean-kabut-asap-2026
Super El Nino, Godzilla El Nino, ASEAN, Singapura, Grace Fu, kabut asap, kebakaran hutan, BMKG, WMO, perubahan iklim
Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Singapura, Grace Fu, memperingatkan ancaman “Godzilla El Nino” yang diprediksi melanda Asia Tenggara pada 2026. Kondisi cuaca ekstrem itu dinilai berpotensi memicu kebakaran hutan besar, kabut asap lintas batas, hingga krisis pangan dan energi di kawasan ASEAN.
ininih.com – Peringatan keras itu disampaikan Grace Fu dalam Singapore Dialogue on Sustainable World Resources ke-13 yang berlangsung di One Farrer Hotel, Singapura, Kamis (7/5/2026).
Dalam pidatonya, Grace Fu menyebut Asia Tenggara sedang menghadapi “perfect storm” atau badai sempurna akibat kombinasi perubahan iklim dan ketegangan geopolitik global yang dapat mengguncang sektor pangan dan energi kawasan.
“South-east Asia faces a perfect storm caused by a double whammy of geopolitical developments and climate change, which have severe implications for the region’s agri-commodity sector,” kata Grace Fu.
Ia menjelaskan sejumlah lembaga meteorologi dunia mulai memperingatkan potensi munculnya super El Nino atau yang disebutnya sebagai “Godzilla El Nino” pada paruh kedua 2026.
“A warmer-than-usual dry season is also expected in the coming months, with some meteorological agencies forecasting a super El Nino, or a ‘Godzilla El Nino’ cycle,” ujarnya.
Grace Fu mengutip prediksi World Meteorological Organization (WMO) yang menyatakan El Nino berpotensi terjadi pada periode Mei hingga Juli 2026 dengan intensitas yang sangat kuat.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat memperparah dampak perubahan iklim di Asia Tenggara, termasuk kekeringan panjang dan ancaman kebakaran hutan besar.
“The projected hotter and drier conditions later this year could trigger more intense land and forest fires and generate smoke haze,” kata Grace Fu.
Ia juga meminta negara-negara ASEAN meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kabut asap lintas batas yang diperkirakan meningkat selama musim kemarau 2026.
“We should remain vigilant to the heightened risks of haze this year, in view of the warmer-than-usual dry season prediction,” lanjutnya.
Peringatan itu muncul di tengah meningkatnya jumlah titik panas di kawasan Asia Tenggara. Bloomberg sebelumnya melaporkan lebih dari 800 titik panas terdeteksi di Indonesia dan Malaysia pada akhir Maret 2026, tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.
Singapura sendiri disebut telah mengalami beberapa pekan kondisi berkabut akibat kebakaran vegetasi dan titik panas di wilayah Johor, Malaysia, sejak awal tahun.
BMKG sebelumnya juga telah memperingatkan potensi El Nino pada 2026 yang dapat menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan lebih kering di Indonesia.
ASEAN Specialised Meteorological Centre bahkan memprediksi peningkatan titik panas signifikan mulai Juni ketika musim kemarau memasuki wilayah ASEAN bagian selatan.
Grace Fu juga mengaitkan ancaman El Nino dengan konflik geopolitik global, khususnya krisis Timur Tengah dan gangguan di Selat Hormuz.
Menurutnya, konflik tersebut telah memicu kenaikan harga pupuk, biaya pengiriman, serta tekanan besar terhadap sektor pertanian Asia Tenggara.
“If crop prices do not rise enough to offset these higher input and shipping costs, producer margins will be squeezed, raising the likelihood of lower fertiliser application and weaker yields,” tulis BMI dari Fitch Solutions.
Kondisi itu dinilai dapat memperparah inflasi pangan dan meningkatkan risiko kerawanan pangan di negara-negara yang bergantung pada impor.
Selain pangan, sektor energi juga terancam terdampak. Negara-negara ASEAN yang mengandalkan pembangkit listrik tenaga air diperkirakan menghadapi tekanan besar akibat berkurangnya debit air selama musim kering.
Gelombang panas juga diprediksi meningkatkan konsumsi listrik karena penggunaan pendingin ruangan yang melonjak.
Dalam forum tersebut, Grace Fu mendorong penguatan kerja sama regional melalui ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution untuk menghadapi ancaman kebakaran dan kabut asap lintas negara.
Ia juga mendorong pengembangan pupuk organik dan energi terbarukan guna mengurangi ketergantungan kawasan terhadap energi fosil dan rantai pasok global yang rentan terganggu.
Sementara itu, pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fiqri Ardiansyah, mengingatkan bahwa penggunaan api secara sembarangan dalam pembukaan lahan masih menjadi ancaman utama munculnya kabut asap di Indonesia.
“Akibatnya nanti akan terjadi kabut asap lagi dalam jangka waktu yang lama dan itu berdampak pada aktivitas sosial, aktivitas ekonomi, aktivitas penerbangan, serta kesehatan masyarakat,” kata Fiqri.
Ia meminta pemerintah memperkuat sistem peringatan dini, patroli kebakaran, perlindungan gambut, serta edukasi pembukaan lahan tanpa bakar sebelum musim kemarau mencapai puncaknya.
Kondisi saat ini juga mulai dibandingkan dengan El Nino 1997 yang menyebabkan kebakaran hutan besar dan kekeringan ekstrem di Indonesia.
Klimatolog Monash University, Peter van Rensch, menyebut anomali bawah laut saat ini memiliki pola yang mirip dengan kondisi menjelang El Nino 1997.
