Drone Israel Hantam Khan Younis, Tiga Warga Palestina Tewas di Tengah Gencatan Senjata yang Rapuh
Ininih.com – Dua serangan udara Israel yang terpisah menewaskan tiga warga Palestina di Jalur Gaza pada 11 hingga 12 Mei 2026. Salah satu serangan menggunakan drone dan menargetkan sebuah kendaraan di kota Khan Younis, selatan Gaza. IDF mengonfirmasi melakukan serangan terhadap dua orang yang disebut sebagai anggota otoritas keamanan internal Hamas, sementara Kementerian Kesehatan Gaza merilis angka tiga korban tewas dari dua insiden dalam 12 jam. Serangan ini terjadi di tengah gencatan senjata yang secara resmi masih berlaku sejak 19 Januari 2025 — namun sudah berkali-kali dilanggar oleh kedua belah pihak sejak ditandatangani.
Gencatan Senjata 15 Bulan, Darah Belum Berhenti
Gencatan senjata Israel-Hamas yang mulai berlaku Januari 2025 mengakhiri perang besar yang menewaskan lebih dari 45.000 warga Palestina dan 1.200 warga Israel sejak Oktober 2023. Namun “gencatan senjata” dalam konteks Gaza tidak pernah benar-benar berarti diam. Puluhan insiden pelanggaran telah dilaporkan sejak Februari 2025 — serangan Israel terhadap kelompok yang mendekati pagar perbatasan, peluncuran roket sporadis dari Gaza, dan operasi-operasi terbatas yang masing-masing pihak klaim sebagai respons defensif.
Serangan 12 Mei bukan anomali. Ini adalah bagian dari pola yang sudah berlangsung lebih dari setahun — gencatan senjata yang cukup kuat untuk mencegah perang total, tetapi terlalu lemah untuk menghentikan pertumpahan darah harian.
IDF menyatakan serangan dilakukan untuk “mencegah serangan yang direncanakan terhadap pasukan di perbatasan.” Hamas belum mengeluarkan pernyataan resmi, namun sumber internal yang dikutip media Palestina menyebut serangan ini sebagai “pelanggaran serius” dan menyatakan Hamas sedang mengevaluasi respons. Mesir sebagai mediator utama sudah bergerak menghubungi kedua pihak untuk mencegah eskalasi — langkah yang sudah menjadi refleks diplomatik setiap kali insiden seperti ini terjadi.
Gaza di Tengah Tiga Lapis Tekanan
Yang membuat insiden ini lebih dari sekadar berita korban harian adalah konteksnya yang berlapis. Gaza tidak berdiri sendiri dalam peta konflik Timur Tengah saat ini.
Di utara, Israel sedang mengintensifkan operasi melawan Hizbullah di Lebanon selatan — mengklaim menewaskan lebih dari 30 militan dan menyerang 70 lokasi dalam sepekan terakhir. Di timur laut, negosiasi AS-Iran yang berjalan di tempat membuat Teheran memiliki insentif untuk mengaktifkan proksi-proksinya kapan saja tekanan diplomatik memuncak. Hamas, sebagai salah satu kelompok dalam jaringan proksi Iran, tidak sepenuhnya lepas dari kalkulasi itu.
Artinya setiap serangan Israel di Gaza bukan hanya soal Gaza. Setiap roket Hamas yang mungkin diluncurkan sebagai balasan bukan hanya soal Gaza. Semua berpotensi menjadi bagian dari rantai eskalasi yang ujungnya jauh lebih besar dari sebuah kendaraan yang hangus di Khan Younis.
Rekonstruksi Terhenti, 1,7 Juta Masih Mengungsi
Di balik angka-angka militer, kondisi sipil Gaza tetap menjadi bencana yang berjalan lambat. Kerusakan akibat perang 2023-2025 diperkirakan mencapai US$18 hingga 20 miliar. Tujuh puluh persen dari 2,4 juta penduduk Gaza — sekitar 1,7 juta orang — masih berstatus pengungsi dan bergantung pada bantuan UNRWA yang pendanaannya selalu berada di ambang kekurangan. Tingkat pengangguran menyentuh 45 hingga 50 persen. Blokade Israel dan Mesir masih membatasi ketat arus barang masuk dan keluar.
Rekonstruksi nyaris tidak bisa berjalan dalam kondisi seperti ini. Setiap serangan baru bukan hanya menambah korban — ia juga menambah kerusakan yang harus diperbaiki, menambah trauma yang harus disembuhkan, dan menambah waktu yang harus dilewati sebelum Gaza bisa kembali ke sesuatu yang menyerupai normalitas.
Netanyahu berada di bawah tekanan konstan dari partai-partai sayap kanan koalisinya yang menuntut operasi lebih besar dan lebih keras terhadap Hamas. Setiap insiden seperti ini memperkuat suara mereka di dalam kabinet. Sebaliknya, Mesir dan Qatar akan terus bekerja di balik layar untuk memastikan gencatan senjata tidak runtuh sepenuhnya — karena runtuhnya gencatan senjata Gaza, di tengah eskalasi di Lebanon dan krisis Selat Hormuz, adalah skenario yang tidak ada satu pun aktor regional yang siap menanggungnya sepenuhnya.
