Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Tembus US$105 dan Inflasi Global Kembali Mengancam
Ininih.com – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang pecah pada akhir Februari 2026 telah mengubah lanskap energi global secara mendasar. Harga minyak Brent mencapai US105,20 per barel pada 11 Mei, naik 3,8 persen dalam sehari, sementara minyak mentah AS menyentuh US99,30 per barel dengan kenaikan 4 persen.
Di balik angka-angka itu, IMF telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi hanya 3,1 persen — perlambatan yang disebut sebagai akibat dari gangguan pasokan energi terbesar dalam hampir lima dekade terakhir.
20 Persen Pasokan Energi Dunia Terhambat
Selat Hormuz adalah jalur tempat sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia mengalir setiap harinya. Sejak Iran menutupnya pada akhir Februari, gangguan itu tidak pernah sepenuhnya pulih.
Goldman Sachs memperingatkan cadangan minyak global kini berada di titik terendah dalam delapan tahun. Harga yang naik bukan sekadar angka di layar perdagangan — ia adalah tekanan nyata yang dirasakan oleh setiap perusahaan yang bergantung pada energi dan setiap keluarga yang membayar tagihan bahan bakar.
Dampaknya tidak merata. Perusahaan minyak dan gas global meraup keuntungan rekor di tengah lonjakan harga. Sebaliknya, maskapai penerbangan memotong rute karena biaya bahan bakar meledak.
Perusahaan barang konsumen seperti Whirlpool melaporkan kondisi setingkat resesi di pasar AS. Sektor manufaktur di Eropa dan Asia Timur menghadapi tekanan biaya input yang belum pernah terjadi dalam satu generasi.
IMF memperingatkan bahwa ketidakseimbangan ini menciptakan risiko stagflasi — pertumbuhan stagnan disertai inflasi tinggi — yang paling akut dirasakan oleh Eropa yang masih rentan setelah krisis energi pasca-invasi Rusia ke Ukraina. Belanja pertahanan global yang rata-rata naik 2,7 persen dari PDB turut memperburuk situasi karena dana yang seharusnya mengalir ke transisi energi hijau dan modernisasi digital kini dialihkan ke anggaran militer.
AI Mania Menutupi Kerusakan di Bawah Permukaan
Di tengah semua tekanan itu, Wall Street justru mencetak rekor. S&P 500 ditutup di 7.412,84 pada 11 Mei — rekor penutupan tertinggi baru. Nasdaq menyentuh 26.274,13. Sektor semikonduktor melonjak 2,6 persen dalam sehari.
Yang menggerakkan pasar adalah euforia kecerdasan buatan. Dalam earnings call perusahaan-perusahaan besar, AI disebut dua kali lebih sering daripada Iran. Nigel Green, CEO deVere Group, menyebut fenomena ini sebagai “anestesi finansial” — AI mania yang membuat investor mati rasa terhadap kerusakan ekonomi yang sesungguhnya sedang berlangsung di bawah permukaan.
Sejak konflik pecah awal 2026, perusahaan publik terbesar dunia telah menambah nilai pasar lebih dari US$5,4 triliun, dengan perusahaan semikonduktor menyumbang porsi terbesar.
Sementara itu, investor legendaris Michael Burry — yang terkenal memprediksi krisis 2008 — memperingatkan bahwa reli saham teknologi saat ini tidak berkelanjutan dan berisiko berakhir dengan koreksi tajam.
Divergensi antara pasar keuangan dan ekonomi riil ini bukan hanya anomali statistik. Ia adalah sinyal bahwa pasar sedang mengharga ulang dunia berdasarkan masa depan AI yang belum tentu tiba — sementara perang energi yang sedang berlangsung sudah pasti meninggalkan luka pada pertumbuhan, pada rantai pasok, dan pada daya beli miliaran orang yang tidak memiliki portofolio saham teknologi.
Musim Dingin 2026 sebagai Ujian Berikutnya
Jika negosiasi AS-Iran gagal menghasilkan kesepakatan dalam beberapa pekan ke depan, Eropa akan memasuki musim dingin 2026-2027 dalam kondisi yang sangat rentan.
Cadangan gas yang belum terisi penuh, harga energi yang tinggi, dan tekanan inflasi yang belum mereda adalah kombinasi yang dapat memicu gelombang protes sosial di negara-negara dengan subsidi energi yang sudah dicabut atau dikurangi.
Bank sentral di seluruh dunia yang sudah hampir selesai menurunkan suku bunga kini menghadapi dilema baru: menurunkan suku bunga untuk merangsang pertumbuhan berisiko memperparah inflasi, sementara mempertahankan suku bunga tinggi akan semakin menghambat pemulihan ekonomi yang sudah melambat. Tidak ada pilihan yang mudah — dan semua jalan menuju solusi melewati satu titik yang sama: Selat Hormuz.
