Mei 25, 2026

Sri Lanka Lacak Dana Korupsi US$2,5 Juta ke Rekening Bank di Amerika Serikat

jakarta-april-182023brick-wall-painted-600nw-2290547249

Ininih.com – Komisi Penyuapan dan Korupsi Sri Lanka atau CIABOC mengumumkan pada 11 Mei 2026 bahwa penyidik telah berhasil mengidentifikasi perusahaan cangkang yang digunakan untuk menggelapkan dana hibah pembangunan infrastruktur senilai US$2,5 juta. Dana tersebut ditransfer melalui yurisdiksi offshore ke dua rekening bank di negara bagian Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya.

Pengungkapan ini merupakan hasil penyelidikan lintas negara selama dua belas bulan yang melibatkan mekanisme Mutual Legal Assistance Treaty antara Sri Lanka dan AS — dan menjadi salah satu upaya pemulihan aset paling signifikan yang dilakukan Kolombo sejak kebangkrutan ekonomi 2022.

Dana Rakyat, Rekening Asing
Jalur penggelapannya mengikuti pola yang sudah sangat dikenal dalam kasus pencucian uang internasional. Dana hibah pembangunan infrastruktur dari pinjaman asing masuk ke sistem keuangan Sri Lanka, kemudian dialihkan ke perusahaan cangkang yang terdaftar di yurisdiksi offshore — kemungkinan Panama, British Virgin Islands, atau Cayman Islands berdasarkan pola umum kasus serupa.

Dari sana, dana mengalir ke dua rekening bank di AS yang menjadi tujuan akhir.
Identitas perusahaan cangkang dan pemilik rekening belum dirilis ke publik karena proses hukum masih berjalan.

CIABOC menyatakan pengumuman nama akan dilakukan setelah proses pembekuan aset di AS aman — langkah pencegahan penting agar pelaku tidak sempat memindahkan dana ke yurisdiksi lain sebelum dibekukan.

Menteri Kehakiman Sri Lanka berjanji menuntut pelaku dan memulihkan seluruh dana. Pejabat anonim Departemen Kehakiman AS yang dikutip media menyatakan DOJ memfasilitasi permintaan bantuan hukum Sri Lanka sesuai prosedur MLAT — konfirmasi tidak langsung bahwa Washington sudah bergerak.

Setiap Dolar Penting
Angka US2,5 juta mungkin terdengar kecil dalam skala global. Tapi bagi Sri Lanka yang masih menanggung utang luar negeri sekitar US40 hingga 50 miliar pasca-default 2022, setiap dolar yang berhasil dipulihkan memiliki nilai yang jauh melampaui nominalnya — ia adalah bukti bahwa pemerintah serius memberantas korupsi, dan itu penting untuk menjaga kepercayaan IMF yang masih mengawasi jalannya program pemulihan ekonomi senilai US$3 miliar.

IMF melalui sumber tidak resmi menyatakan mendukung upaya Sri Lanka memperkuat tata kelola dan pemulihan aset. Sinyal itu bukan sekadar basa-basi — program pemulihan IMF sangat bergantung pada komitmen pemerintah terhadap reformasi, dan kasus ini adalah salah satu indikator paling nyata dari komitmen tersebut.

Kasus ini juga menjadi preseden penting bagi negara berkembang lain. MLAT Sri Lanka-AS berhasil melacak dana yang sudah berpindah melalui setidaknya dua lapisan yurisdiksi — yurisdiksi offshore dan sistem perbankan AS.
Jika proses pembekuan dan pengembalian aset berjalan sampai tuntas, ini akan memperkuat argumen bahwa mekanisme kerja sama hukum internasional bisa efektif bahkan untuk kasus dengan nilai yang relatif kecil.

Risiko terbesar yang tersisa adalah politik. Jika identitas tersangka terhubung dengan tokoh berpengaruh di dalam negeri Sri Lanka, tekanan untuk menghentikan atau memperlambat penyelidikan akan sangat besar. CIABOC harus menunjukkan bahwa proses ini tidak bisa dihentikan oleh kepentingan politik — dan pemerintah Sri Lanka harus membuktikan bahwa komitmen reformasinya bukan sekadar retorika untuk menyenangkan IMF.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *