PERANG IRAN RUGIKAN EROPA 300 MILIAR EURO, IMF PERINGATKAN RESESI DENGAN INFLASI 5 PERSEN
Ininih.com — Konflik AS-Iran yang pecah pada 28 Februari 2026 telah menghantam Eropa dengan biaya yang terus membengkak: dari 25 miliar euro dalam 54 hari pertama, angka kerugian energi kumulatif melonjak ke 300 miliar euro pada awal Mei — atau sekitar 500 juta euro per hari. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut kondisi ini dengan kalimat yang menggambarkan absurditasnya: Eropa membayar miliaran euro ekstra tanpa mendapatkan satu molekul energi tambahan pun. IMF memperingatkan bahwa jika guncangan ini berlanjut, Uni Eropa bisa mendekati resesi dengan inflasi mendekati 5 persen.
Selat Hormuz Tutup, Eropa Bayar Harga Tertinggi
Ketergantungan Eropa pada impor energi dari kawasan Teluk menjadikannya pihak yang paling terpukul di luar zona konflik langsung. Penutupan Selat Hormuz memutus jalur vital LNG dan minyak mentah, mendorong harga gas alam TTF Eropa ke €46,84 per MWh dan minyak Brent ke US$107,56 per barel. Harga energi industri di Uni Eropa kini dua kali lipat dibanding Amerika Serikat — sebuah kesenjangan yang menurut IMF dapat memicu deindustrialisasi, karena industri padat energi akan terdorong merelokasi operasi ke luar kawasan.
Komisaris Energi UE Dan Jørgensen tidak menyembunyikan beratnya situasi: bahkan dalam skenario paling optimis, pasar energi “tidak memuaskan” dan harga LNG global tidak akan stabil setidaknya selama dua tahun ke depan. Yang lebih mendesak, Jørgensen memperingatkan pada 23 April bahwa krisis pasokan bahan bakar pesawat dapat terjadi dalam enam minggu — berarti jatuh tempo sekitar awal Juni 2026. Komisaris Iklim UE Wopke Hoekstra menambahkan peringatan yang sama kerasnya: bahkan jika konflik berhenti hari ini, dampaknya akan terasa selama berbulan-bulan, karena kerusakan pada fasilitas energi kawasan Teluk membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan.
Bursa Lesu, Penerbangan dan Barang Mewah Jadi Korban Pertama
Di pasar keuangan, saham Eropa masih diperdagangkan sekitar 4 persen di bawah level sebelum konflik pecah, tertinggal jauh dari pasar global lain yang sempat bangkit berkat optimisme teknologi AI. Sektor perjalanan dan rekreasi mencatat penurunan 7 persen sejak awal tahun, sementara saham barang mewah dan penerbangan terpukul paling berat — kombinasi dari lonjakan biaya avtur dan melemahnya permintaan konsumen yang kepercayaan dirinya tergerus oleh ketidakpastian geopolitik. Analis Raymond James Jeremy Batstone-Carr mencatat bahwa pasar mulai menerima kenaikan harga energi sebagai kondisi yang akan berlangsung cukup lama, bukan gangguan sementara.
ECB kini terjepit di antara dua tekanan yang berlawanan. IMF memproyeksikan tiga kali kenaikan suku bunga kumulatif sebesar 50 basis poin hingga akhir 2026, dengan kenaikan pertama 25 basis poin diprakirakan pada Juni. Namun dengan pertumbuhan Zona Euro yang hanya 0,1 persen per kuartal, setiap kenaikan suku bunga berisiko mematikan pertumbuhan yang sudah hampir tidak berdetak.
Eropa di Persimpangan Tanpa Jalan Mudah
Kepala Departemen Eropa IMF Alfred Kammer menegaskan tidak ada negara Eropa yang akan luput dari dampak konflik ini. Dalam skenario guncangan pasokan yang berkelanjutan, proyeksi IMF menempatkan inflasi Zona Euro mendekati 5 persen — dari angka saat ini 2,6 persen — sementara pertumbuhan bisa terpeleset ke zona resesi. Negara dengan utang tinggi seperti Italia dan Prancis nyaris tidak memiliki ruang fiskal untuk memperlebar defisit demi paket bantuan energi bagi rakyat.
Von der Leyen menyerukan percepatan adopsi energi alternatif, tetapi transisi energi tidak bisa diselesaikan dalam hitungan bulan. Eropa kini berada di persimpangan yang tidak menawarkan jalan mudah: menahan suku bunga berarti membiarkan inflasi menggerus daya beli, menaikkan suku bunga berarti mencekik pertumbuhan yang sudah hampir tidak berdetak. Satu-satunya variabel yang bisa mengubah kalkulasi ini adalah berakhirnya konflik di Timur Tengah — dan itu bukan sesuatu yang ada di tangan Brussel.
