ZONA EURO CATAT PERTUMBUHAN TERLEMAH SEJAK 2022, INGGRIS BERSIAP HADAPI SUKU BUNGA LEBIH TINGGI
Ininih.com — Zona Euro mencatat pertumbuhan ekonomi hanya 0,1 persen secara kuartalan pada kuartal pertama 2026, dikonfirmasi melalui estimasi kedua yang dirilis Rabu 13 Mei — angka terlemah sejak pertengahan 2022. Inggris menyusul dengan rilis data serupa pada Kamis 14 Mei, dengan proyeksi pertumbuhan yang sama lemahnya di kisaran 0,1 persen. Di balik angka kembar yang suram ini, dua ekonomi terbesar Eropa justru bergerak ke arah kebijakan moneter yang berlawanan.
Manufaktur Jerman dan Prancis Seret Zona Euro ke Tepi
Perlambatan Zona Euro bukan fenomena merata. Sektor manufaktur Jerman dan Prancis — dua mesin utama kawasan — mencatat kelemahan yang menjadi beban terbesar pertumbuhan agregat. Harga energi yang tetap tinggi akibat konflik di Timur Tengah menggerus pendapatan riil rumah tangga: konsumen mengurangi belanja, sementara upah menyesuaikan jauh lebih lambat dari kenaikan harga. ECB sendiri memperingatkan bahwa guncangan energi sekelas 2022-2023 dapat memangkas pertumbuhan Zona Euro sebesar 0,4 poin persentase sekaligus mendorong inflasi naik 0,4 poin — sebuah kombinasi yang menciptakan kondisi stagflasi klasik.
Wakil Presiden ECB Luis de Guindos secara eksplisit menyerukan kehati-hatian terhadap pemangkasan suku bunga, dengan alasan inflasi masih di atas target 2 persen dan dinamika upah masih tidak pasti. Suku bunga deposito ECB bertahan di 2,15 persen sejak Juni 2025 dan belum ada sinyal perubahan dalam waktu dekat. Proyeksi pertumbuhan ECB untuk keseluruhan 2026 hanya 0,6 persen — turun dari proyeksi sebelumnya 1,1 persen. Barclays bahkan memperingatkan adanya risiko resesi teknis pada kuartal pertama ini jika revisi data akhir menunjukkan angka lebih buruk dari estimasi awal.
Inggris Melawan Arus dengan Ancaman Kenaikan Suku Bunga
Inggris menghadapi tekanan yang berbeda karakter. BNP Paribas memproyeksikan pertumbuhan tahunan Inggris 2026 hanya 0,7 persen — separuh dari angka 2025 yang mencapai 1,4 persen. Namun yang membedakan Inggris dari Zona Euro bukan pertumbuhannya yang lebih baik, melainkan inflasi yang jauh lebih tinggi: BNP Paribas memproyeksikan inflasi Inggris melonjak ke 3,6 persen pada 2026, jauh di atas target 2 persen Bank of England. Konsekuensinya, BNP Paribas memperkirakan Bank of England justru akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin sepanjang 2026 — bergerak berlawanan arah dengan ECB yang cenderung menahan diri.
Divergensi kebijakan ini memiliki implikasi langsung bagi nilai tukar. Pound sterling berpotensi menguat terhadap euro jika BoE menaikkan suku bunga sementara ECB menahan diri — sebuah skenario yang akan membebani eksportir Zona Euro dan memperlebar ketimpangan daya saing antara dua kawasan yang seharusnya menjadi mitra dagang terdekat.
Dua Angka, Satu Peringatan
Data PDB yang dirilis pekan ini menyampaikan satu pesan yang sama dari dua sisi berbeda: Eropa sedang bergerak menuju pertumbuhan yang terlalu lemah untuk menyerap guncangan berikutnya. Jika konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan inflasi AS ke 3,8 persen terus berlanjut dan mendorong harga energi lebih tinggi, Zona Euro — dengan proyeksi pertumbuhan hanya 0,6 persen setahun — nyaris tidak memiliki bantalan. ECB Economic Bulletin yang dirilis bersamaan pada Jumat 15 Mei akan menjadi ujian apakah bank sentral kawasan ini berani mengakui seberapa tipis ruang gerak yang tersisa, atau memilih narasi optimisme yang tidak lagi ditopang data
