Israel Rebut Kastel Beaufort di Lebanon, Invasi Terdalam Sejak 26 Tahun
Militer Israel mengumumkan telah merebut Kastel Beaufort, benteng bersejarah peninggalan Perang Salib di Lebanon selatan, pada Minggu (31/5/2026), menjadikannya invasi terdalam pasukan Israel ke wilayah Lebanon dalam lebih dari 26 tahun. Penguasaan benteng berusia 900 tahun yang berada di ketinggian strategis ini menandai eskalasi signifikan dalam konflik melawan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.

Operasi Militer Skala Besar
Dalam operasi yang berlangsung beberapa hari itu, pasukan Israel tidak hanya merebut Kastel Beaufort, tetapi juga seluruh area Beaufort Ridge yang merupakan titik pengamatan vital menghadap sebagian besar wilayah Lebanon selatan dan Israel utara. Juru bicara militer Israel mengonfirmasi bahwa pasukan darat telah memasuki area Beaufort Ridge dan Wadi Saluki setelah mendapat dukungan serangan udara, artileri, dan tank yang masif.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa operasi ini dilakukan atas instruksi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan telah melintasi Sungai Litani—garis yang selama beberapa dekade menjadi batas tidak resmi operasi militer Israel di Lebanon selatan.
“Empat puluh empat tahun setelah Pertempuran Beaufort yang heroik, dan pada hari yang memperingati para prajurit yang gugur dalam Perang Lebanon Pertama (1982), pasukan kami telah kembali ke puncak Beaufort dan sekali lagi mengibarkan bendera Israel di sana,” tulis Katz di saluran Telegram-nya.
Netanyahu dalam pernyataan video menyebut perebutan ini sebagai “perubahan dramatis” dalam kebijakan Israel. “Hari ini, kami kembali ke Beaufort dengan cara yang berbeda. Kami kembali bersatu, bertekad, dan lebih kuat dari sebelumnya,” ujar Netanyahu.
Nilai Strategis dan Simbolis Kastel Beaufort
Kastil yang dikenal dalam bahasa Arab sebagai Qalaat al-Shaqif ini memiliki nilai strategis luar biasa karena posisinya di puncak bukit yang menghadap wilayah luas di perbatasan Israel-Lebanon.
Sejak pertama kali direbut Israel pada 1982, benteng ini sempat dikuasai selama pendudukan Israel di Lebanon selatan hingga penarikan pasukan pada tahun 2000. UNESCO sendiri mendeskripsikannya sebagai “salah satu benteng era Perang Salib yang paling terawat di Timur Dekat.”
Dari posisi ini, pasukan Israel kini dapat memantau pergerakan Hizbullah di sebagian besar Lebanon selatan, termasuk Kota Nabatiyeh yang merupakan benteng utama kelompok tersebut.
Mohanad Hage Ali, senior fellow di Carnegie Middle East Center, mengatakan kepada The Guardian: “Israel bertujuan merebut titik-titik strategis dengan mengendalikan posisi yang sama yang dulu digunakan IDF untuk menguasai wilayah pendudukan sebelum penarikan tahun 2000.”
Dampak Kemanusiaan dan Eskalasi
Operasi yang diperluas hingga melintasi Sungai Litani ini telah memicu kekhawatiran kemanusiaan serius. Militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi massal bagi warga Lebanon yang tinggal di selatan Sungai Zahrani, sekitar 40 kilometer dari perbatasan.
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menuduh Israel menerapkan “kebijakan bumi hangus dan hukuman kolektif” di Lebanon selatan. “Israel menghancurkan kota-kota dan desa-desa serta memaksa penduduknya mengungsi,” tegas Salam dalam pernyataannya.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa total korban tewas di Lebanon sejak konflik dimulai pada 2 Maret 2026 telah mencapai 3.371 jiwa, dengan lebih dari 10.129 orang terluka.
Korban dan Serangan Balasan Hizbullah
Di tengah keberhasilan merebut kastil, Israel juga mengumumkan satu tentaranya tewas akibat serangan drone eksplosif Hizbullah di Lebanon selatan pada Sabtu malam. Sersan Staf Michael Tyukin, 21 tahun, menjadi korban ke-25 dari pihak Israel sejak eskalasi Maret lalu.
Hizbullah sendiri melancarkan serangan roket dan drone masif ke wilayah utara Israel sebagai respons. Pada Sabtu (30/5), kelompok tersebut dilaporkan menembakkan lebih dari 25 proyektil ke arah Israel, memicu sirene serangan udara di kota Karmiel dan Safed untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata April.
Respon Internasional dan Prospek ke Depan
Prancis telah meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB menyusul eskalasi ini. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menyatakan: “Tidak ada yang bisa membenarkan kelanjutan operasi militer Israel di Lebanon dan pendudukan yang semakin dalam atas wilayah Lebanon.”
Meskipun gencatan senjata antara Israel dan Lebanon secara resmi mulai berlaku pada 17 April lalu, kesepakatan yang dimediasi AS itu tidak pernah benar-benar dipatuhi oleh kedua belah pihak. Putaran keempat negosiasi antara delegasi Israel dan Lebanon dijadwalkan berlangsung di Washington pekan ini.
Para analis memperingatkan bahwa pendudukan kembali Kastel Beaufort dapat menjadi awal dari aneksasi virtual Lebanon selatan. “Mengingat tingkat kehancuran di zona kuning, kemungkinannya berkisar antara penolakan kembalinya penduduk hingga aneksasi/pemukiman seperti yang terjadi di Tepi Barat,” ujar Mohanad Hage Ali.
Ke depan, apakah Israel benar-benar akan mempertahankan benteng ini sebagai bagian dari “zona keamanan” permanen atau hanya menggunakannya sebagai alat tawar dalam negosiasi masih harus dilihat. Yang pasti, dengan Netanyahu yang bertekad memperdalam dan memperluas cengkeraman di wilayah yang sebelumnya dikuasai Hizbullah, Lebanon selatan kembali menjadi medan pertempuran yang akan menentukan peta geopolitik kawasan untuk tahun-tahun mendatang.
Internal Link:
“perang Gaza yang telah berlangsung sejak Oktober 2023” — /konflik-dunia/gaza-lebanon-gencatan-dilanggar-2026/
“krisis kemanusiaan di Lebanon” — /konflik-dunia/wabah-penyakit-penampungan-lebanon-2026/
“konflik yang melibatkan Iran dan AS di kawasan” — /konflik-dunia/iran-ultimatum-as-proposal-14-poin-uranium-2026/
“dampak ekonomi dari konflik di Timur Tengah” — /ekonomi-global/ekonomi-timur-tengah-tekanan-konflik-energi-2026/
“dinamika geopolitik yang melibatkan negara-negara besar” — /geopolitik/trump-xi-summit-beijing-iran-taiwan-perdagangan-2026/
