Guterres Peringatkan Spiral Kematian: Perang Ukraina Lepas Kendali
Perang Ukraina lepas kendali — kalimat itu bukan retorika, melainkan peringatan resmi dari Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres di hadapan Dewan Keamanan PBB di New York, 28 Mei lalu, menyusul gelombang serangan udara Rusia terbesar sejak invasi penuh skala dimulai pada Februari 2022.
Tiga Hari yang Mengubah Eskalasi Menjadi Kata “Baru”
Serangan itu dimulai pada malam 23-24 Mei. Rusia mengerahkan sekitar 90 rudal jarak jauh dan 600 drone serang dalam satu malam — menghantam Kyiv selama lebih dari tujuh jam tanpa henti, merusak puluhan gedung hunian, bangunan pemerintah, dan situs budaya. Di antara senjata yang digunakan adalah rudal balistik jarak menengah Oreshnik — yang menghantam kota Bila Tserkva di Ukraina tengah, menempatkan senjata yang diklaim tidak bisa dicegat itu ke dalam pertempuran aktif di luar uji coba pertamanya pada November 2024.

Serangan tidak berhenti di situ. Gelombang kedua dan ketiga menyusul pada 25 dan 26 Mei, dengan serangan drone pada 26 Mei dilaporkan sebagai serangan drone tunggal paling masif sepanjang perang penuh skala ini. Fasilitas PBB di Kyiv juga terdampak serpihan, meski tidak ada staf PBB yang terluka. Dalam 10 hari, Dewan Keamanan PBB sudah bersidang tiga kali khusus untuk Ukraina — frekuensi yang menggambarkan betapa cepatnya situasi berubah.
Guterres: “Spiral Kematian Ini Harus Dihentikan”
Di hadapan Dewan Keamanan, Guterres tidak memakai bahasa diplomat yang biasanya penuh pelunakan. “Jalur yang ditempuh saat ini tidak berkelanjutan. Trajektori ini harus diubah. Spiral kematian ini harus dihentikan,” katanya. Ia menyerukan deeskalasi yang segera dan berkelanjutan, gencatan senjata penuh dan tanpa syarat, dan kembalinya upaya diplomatik menuju perdamaian yang adil, langgeng, dan komprehensif sesuai Piagam PBB.
Guterres secara eksplisit menyebut bahwa konflik yang semakin intensif berisiko “lepas kendali” — mengutip bahaya miskalkukasi dan “konsekuensi yang tidak diketahui dan tidak diinginkan.” Setiap serangan baru, ia tegaskan, membuat penyelesaian lewat negosiasi semakin sulit dicapai dan penderitaan semakin sulit dihentikan.
Komisioner Tinggi HAM PBB Volker Turk menambahkan dalam laporan terpisah bahwa dari Januari hingga April 2026, 815 warga sipil Ukraina tewas dan 4.174 lainnya terluka — angka yang lebih tinggi dari periode yang sama tahun sebelumnya, menandakan bahwa intensitas perang tidak mereda. Sejak invasi penuh skala dimulai pada Februari 2022, lebih dari 15.000 warga sipil Ukraina telah kehilangan nyawa — termasuk hampir 800 anak-anak.
Ancaman Baru: Serangan ke “Pusat Pengambilan Keputusan” Kyiv
Yang membuat sidang 28 Mei menjadi lebih genting bukan hanya laporan serangan yang sudah terjadi, melainkan ancaman yang belum terjadi. Rusia mengumumkan rencana serangan baru terhadap “perusahaan pertahanan dan pusat pengambilan keputusan” di Kyiv — sebuah peringatan yang datang bersamaan dengan sinyal bahwa Moskow sedang mempersiapkan fase baru tekanan jarak jauh terhadap ibu kota. Guterres menyatakan ia “sangat khawatir” dengan ancaman itu dan menegaskan PBB mengutuk serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil “di mana pun itu terjadi.”
Lebih dari 50 negara yang hadir di Dewan Keamanan secara bersama mengutuk serangan massal terbaru Rusia, ancaman terhadap misi diplomatik di Kyiv, dan penggunaan senjata yang mampu membawa hulu ledak nuklir. Mereka menyerukan tekanan internasional yang lebih kuat untuk memaksa Moskow menghentikan serangan terhadap warga sipil.
Amerika Serikat, dalam sidang yang sama, menyebut serangan Rusia ke Kyiv sebagai “eskalasi barbar” — meski Washington tidak ikut menandatangani pernyataan bersama yang mengutuk Moskow, karena fokus diplomatik AS saat ini tertambat pada krisis Selat Hormuz dan konflik Iran.
Medan Perang dan Jalan Buntu Diplomasi
Di lapangan, tekanan Rusia di sektor timur dan selatan tidak menunjukkan tanda pelonggaran. Presiden Zelensky dalam pidato malamnya menyebut situasi di medan perang “sangat sulit” dan kembali meminta sekutu Barat mengirimkan sistem pertahanan udara Patriot tambahan. Setiap hari keterlambatan, ia tegaskan, berarti nyawa.
Di sisi lain, upaya mediasi yang sebelumnya pernah difasilitasi Washington kini terhenti total. Perhatian geopolitik AS terbagi antara Iran, Selat Hormuz, dan dinamika domestik yang terus bergolak. Eropa sendiri terpecah antara negara-negara yang bersikeras mendukung Ukraina tanpa batas dan mereka yang mulai merasakan kelelahan politik setelah lebih dari empat tahun perang.
Guterres mengakui bahwa jalan menuju diplomasi saat ini “hampir seluruhnya tertutup.” Namun ia menegaskan satu hal dengan tegas: satu-satunya alternatif dari negosiasi adalah eskalasi yang tidak terkendali — dengan risiko yang jauh melampaui batas geografis Ukraina dan Rusia. Perang yang sudah membunuh lebih dari 15.000 warga sipil, mengungsi hampir 14 juta orang, dan mengguncang rantai pasokan pangan global kini memasuki babak yang oleh para diplomat PBB sendiri disebut sebagai “fase baru yang mengkhawatirkan.” Dan belum ada yang bisa memastikan di mana ujungnya.
Internal link:
- “krisis energi Eropa dampak perang Iran” — /ekonomi-global/krisis-energi-eropa-dampak-perang-iran-imf-resesi/
- “gencatan senjata AS-Iran rapuh” — /konflik-dunia/gencatan-senjata-as-iran-rapuh-2026/
- “kemandirian pertahanan Eropa” — /geopolitik/eropa-kemandirian-pertahanan-rearme-as-2026/
- “Trump Xi summit Beijing perdagangan” — /geopolitik/trump-xi-summit-beijing-iran-taiwan-perdagangan-2026/
- “pengungsi Lebanon generasi terbuang” — /konflik-dunia/pengungsi-lebanon-generasi-terbuang-2026/
