Juni 3, 2026

PBB Masukkan Israel ke Daftar Hitam Kekerasan Seksual, Israel: “Kami Sudah Selesai”

IMG_20260601_021856

PBB masukkan Israel daftar hitam kekerasan seksual di zona konflik dalam laporan tahunan Sekretaris Jenderal yang dirilis pada 29 Mei — keputusan yang langsung memicu respons paling keras dalam sejarah hubungan Israel-PBB: pemutusan total seluruh kontak dengan Sekretaris Jenderal Antonio Guterres.

Apa yang Ada di Laporan PBB

Laporan Kekerasan Seksual Terkait Konflik (Conflict-Related Sexual Violence/CRSV) yang diterbitkan setiap tahun oleh kantor Sekretaris Jenderal PBB secara resmi memasukkan Israel Prison Service ke dalam daftar hitam entitas yang diduga melakukan kekerasan seksual sistematis dalam situasi konflik bersenjata. Entitas Israel lainnya masuk ke dalam kerangka pemantauan untuk kemungkinan pencantuman di masa depan.

PBB menyatakan telah memverifikasi 31 kasus kekerasan seksual yang dilakukan aparat keamanan Israel terhadap tahanan Palestina — mencakup 14 pria dewasa, tujuh wanita dewasa, sembilan anak laki-laki, dan satu anak perempuan — antara tahun 2023 dan 2025. Pelanggaran yang didokumentasikan mencakup pemerkosaan, pemerkosaan berkelompok, kekerasan fisik terhadap alat kelamin, penelanjangan paksa, dan ancaman pemerkosaan. Insiden terjadi di penjara, pos pemeriksaan Tepi Barat, kantor polisi di Gush Etzion, dan selama operasi militer di Gaza.

PBB sendiri mengakui bahwa angka 31 kasus itu “harus dilihat sebagai indikatif dari insiden dan pola, bukan komprehensif” — karena Israel menolak akses inspektur PBB ke fasilitas penahanan, sehingga investigasi yang lebih menyeluruh tidak bisa dilakukan.

Bukan Kejutan, Tapi Tetap Memicu Ledakan

Pencantuman ini bukanlah keputusan yang datang tiba-tiba. Sejak Agustus 2025, Guterres sudah mengirimkan surat resmi kepada Duta Besar Israel Danny Danon yang menyatakan keprihatinan serius atas “informasi kredibel” terkait pola kekerasan seksual yang dilakukan personel bersenjata dan keamanan Israel. Surat itu sudah menjadi peringatan resmi bahwa pencantuman sedang dipertimbangkan. Israel merespons dengan menyerahkan dokumen, data, dan bantahan terperinci, serta mengklaim mengundang perwakilan PBB mengunjungi situs-situs terkait — sebuah klaim yang dibantah PBB, yang menyatakan justru aksesnya lah yang terus-menerus ditolak.

Ketika laporan final keluar, Danon langsung merekam video dan mengunggahnya di platform X. “Kami sudah selesai dengan sekretaris jenderal ini,” katanya. “Guterres telah menempatkan Israel dalam daftar hitam yang sama dengan Hamas, ISIS, dan organisasi teroris paling keji di dunia. Ini adalah aib moral dan keruntuhan total setiap kredibilitas yang tersisa di PBB.”

Israel Prison Service — bukan seluruh militer Israel — yang masuk ke daftar formal. Namun dari sisi diplomatik, perbedaan teknis itu tidak mengubah posisi Israel. Kementerian Luar Negeri Israel menyebut keputusan itu “memalukan dan tidak masuk akal” serta menyebut PBB sebagai “organisasi yang terpolitisasi dan korup yang telah meninggalkan prinsip-prinsip pendiriannya.”

Putus Kontak Hingga Guterres Lengser

Misi Israel untuk PBB secara resmi mengumumkan tidak akan melakukan kontak apa pun dengan kantor Sekretaris Jenderal selama Guterres masih menjabat. Masa jabatan Guterres berakhir 31 Desember 2026 — artinya Israel memilih menunggu kepemimpinan baru PBB daripada terlibat dalam dialog yang mereka anggap sudah tidak bermakna.

Juru bicara Guterres, Stephane Dujarric, merespons dengan singkat: “Dari pihak kami, pintu sekretaris jenderal tetap terbuka.” Posisi itu bersifat prosedural — PBB tidak bisa menutup pintu dialog — namun jelas bahwa satu sisi dari pintu itu kini terkunci dari dalam.

Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz turut mengecam keputusan PBB, menyebut Guterres telah menempatkan Israel “dalam daftar yang sama” dengan kelompok teroris. Waltz, tidak menyebut detail tuduhan dalam laporan, langsung membingkai isu ini sebagai soal bias institusional.

Rusia Juga Masuk, Tapi Reaksinya Berbeda

Laporan yang sama untuk pertama kalinya juga secara resmi memasukkan Rusia ke dalam daftar hitam atas kekerasan seksual sistematis terhadap warga Ukraina — dengan 310 kasus yang diverifikasi, termasuk pemerkosaan, pemerkosaan berkelompok, mutilasi genital, dan penyetruman. Tidak ada pemutusan hubungan dari Moskow, karena hubungan Rusia-PBB memang sudah lama dalam kondisi beku sejak invasi 2022.

Pelapor Khusus PBB untuk kekerasan terhadap perempuan dan anak, Reem Alsalem, justru menyebut pencantuman Israel “sangat terlambat.” “Pencantuman ini tidak bisa datang lebih cepat lagi. Saya sebelumnya telah mengungkapkan kekecewaan saya bahwa Israel tidak dimasukkan lebih awal, mengingat kekerasan seksual yang sistematis, berskala besar, dan mengerikan yang telah didokumentasikan secara independen,” tulisnya.

Hubungan Israel-PBB telah berada di titik terendahnya sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Pada 2024, Menteri Luar Negeri Israel saat itu sudah menetapkan Guterres sebagai persona non grata. Keputusan daftar hitam ini bukan titik balik — ia adalah konfirmasi dari perpecahan yang sudah lama berlangsung. Yang berubah kini adalah bahwa Israel memilih untuk menghitung hari: tujuh bulan lagi hingga Guterres pergi, dan kemungkinan halaman baru hubungan Israel dengan markas besar dunia yang sudah lama mereka anggap memusuhinya.


Internal link:Ultimatum Trump Iran 48 jam: Deal atau SeranganUltimatum Trump Iran 48 jam: Deal atau Serangan

  • “protes Gaza Eropa Netanyahu 70 persen” — /konflik-dunia/protes-gaza-eropa-netanyahu-70-persen/
  • “Qatar bantah dukung ICC Netanyahu” — /konflik-dunia/qatar-bantah-dukung-icc-netanyahu/
  • “perang Ukraina lepas kendali Guterres” — /konflik-dunia/perang-ukraina-lepas-kendali-2026/
  • “konflik Gaza Lebanon gencatan dilanggar” — /konflik-dunia/gaza-lebanon-gencatan-dilanggar-2026/
  • “pengungsi Lebanon generasi terbuang” — /konflik-dunia/pengungsi-lebanon-generasi-terbuang-2026/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *