Gempa 5,6 Magnitudo Guncang Cianjur, 46 Orang Tewas dan 700 Luka-luka
Gempa Cianjur 5,6 magnitudo mengguncang wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada Senin (16/6/2026) siang. Guncangan dangkal dengan kedalaman 10 kilometer ini terasa hingga Jakarta dan sekitarnya, memicu kepanikan warga serta menyebabkan kerusakan parah pada ratusan bangunan dan tanah longsor di sejumlah titik.
Berdasarkan data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa ini telah menewaskan sedikitnya 46 orang dan melukai lebih dari 700 orang. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cianjur, Herman Suherman, memperkirakan jumlah korban jiwa masih akan bertambah karena sejumlah warga di desa-desa terpencil kemungkinan masih terjebak di bawah reruntuhan.
Dampak Kerusakan dan Kepanikan
Guncangan gempa yang terjadi pada pukul 13.21 WIB itu merusak ratusan rumah, puskesmas, sekolah, tempat ibadah, hingga sebuah pesantren. Rumah Sakit Sayang di Cianjur kehilangan aliran listrik, sehingga dokter tidak dapat melakukan operasi terhadap para korban luka parah. Warga menggunakan truk pikap dan sepeda motor untuk mengangkut korban ke rumah sakit.
Di ibu kota Jakarta, gedung-gedung pencakar langit bergoyang dan ratusan pekerja mengungsi ke luar gedung. Seorang pekerja di lantai 14 menceritakan kakinya masih terasa kram setelah harus berjalan turun melalui tangga darurat. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengimbau warga untuk tetap berada di luar bangunan karena potensi gempa susulan masih tinggi.
Penanganan Darurat dan Respons Pemerintah
BNPB menetapkan masa tanggap darurat selama satu minggu, dengan fokus pada pencarian dan evakuasi korban, penanganan pengungsi, serta pembersihan material longsor yang menutup akses jalan. Kepala BNPB Suharyanto mengerahkan personel, logistik, dan helikopter untuk mempercepat distribusi bantuan.
Badan Geologi Kementerian ESDM menemukan dua titik longsoran di Kecamatan Cugenang yang menutup jalan nasional. Plt Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid memperingatkan potensi longsor susulan akibat tanah yang masih labil dan curah hujan tinggi.
Kejadian ini mengingatkan kembali pada gempa Cianjur 2022 yang juga menimbulkan korban jiwa besar. Dengan letak Cianjur yang berada di jalur sesar aktif, penguatan bangunan tahan gempa dan sistem peringatan dini menjadi prioritas mendesak. Pemerintah pusat dan daerah perlu memastikan proses rekonstruksi berjalan cepat dan tepat sasaran, terutama bagi 13.400 warga yang kehilangan tempat tinggal.
