Juli 18, 2026

Longsor di Guangxi Timbun Rumah, Satu Terjebak dan Dua Luka-luka

IMG_20260620_141337

Longsor di Guangxi, Tiongkok, terjadi pada Jumat (19/6/2026) pukul 17.40 waktu setempat di Kabupaten Donglan. Hujan deras yang terus-menerus mengguyur wilayah tersebut memicu longsornya tebing di belakang sebuah rumah warga di Desa Naheng, Kecamatan Donglan. Insiden ini mengakibatkan satu orang terjebak di dalam reruntuhan dan dua orang lainnya mengalami luka-luka.

Video amatir yang beredar di media sosial memperlihatkan detik-detik longsor terjadi dengan suara gemuruh keras disusul kepulan asap putih. “Rumahnya tertimpa, orang di dalamnya tidak bisa turun, sudah menjadi rumah berbahaya,” demikian keterangan salah satu warga yang terdokumentasikan dalam video tersebut.

Pemerintah Kabupaten Donglan melalui Badan Penanggulangan Bencana setempat segera mengerahkan tim penyelamat untuk melakukan evakuasi dan pencarian korban yang masih terjebak. Tim SAR gabungan dari kepolisian, pemadam kebakaran, dan relawan dikerahkan untuk membersihkan puing-puing dan mencari korban yang masih tertimbun.

Dua korban luka-luka telah dilarikan ke rumah sakit terdekat dan dilaporkan dalam kondisi stabil. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten Donglan mengimbau warga di sekitar lokasi kejadian untuk tetap waspada terhadap potensi longsor susulan mengingat kondisi tanah yang masih labil akibat hujan deras yang terus berlangsung.

Hujan deras dengan intensitas tinggi telah melanda sejumlah wilayah di Guangxi sejak beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi Tiongkok sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi bencana hidrometeorologi di wilayah tersebut.

Bencana longsor di Guangxi ini menjadi pengingat akan pentingnya sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi di tengah perubahan iklim yang semakin ekstrem. Pemerintah daerah perlu terus memantau kondisi cuaca dan melakukan evakuasi preventif di wilayah-wilayah rawan longsor. Ke depan, penguatan infrastruktur penahan tanah dan relokasi pemukiman di daerah rawan bencana menjadi langkah antisipatif yang harus terus didorong untuk mengurangi risiko korban jiwa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *