Juli 18, 2026

Populasi Orangutan Sumatera Turun 2.700 Individu dalam Satu Dekade, Ekosistem Leuser Jadi Benteng Terakhir

IMG_20260716_020511

Populasi orangutan sumatera (Pongo abelii) diperkirakan berkurang sekitar 2.700 individu dalam satu dekade terakhir. Jumlah itu setara hampir seperlima dari total populasi kera besar endemik Pulau Sumatera tersebut, berdasarkan hasil survei lapangan menyeluruh yang dilakukan pada periode 2021 hingga 2023.

Para peneliti menyusuri sekitar 208 jalur sarang orangutan yang mencakup hampir seluruh habitat spesies tersebut di Sumatera. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Global Ecology and Conservation edisi 20 Juni 2026, dengan judul “Population Status of Sumatran and Tapanuli Orangutans: A Comprehensive Assessment 2021–2023”. Riset ini dipimpin oleh Adhi N. Hadi dan Julius P. Siregar, bersama belasan peneliti dari Indonesia, Inggris, dan Jerman.

Dengan menggunakan metode yang sama seperti survei yang dilakukan pada tahun 2011, para peneliti menemukan populasi orangutan sumatera menurun sekitar 19,5 persen dalam satu dekade terakhir, atau rata-rata 1,8 persen setiap tahun. Dalam wilayah pembanding yang sama, jumlah orangutan sumatera diperkirakan turun dari sekitar 13.846 individu pada 2011 menjadi 11.146 individu pada 2023. Artinya, sedikitnya 2.700 orangutan sumatera hilang dalam periode tersebut, atau rata-rata sekitar 225 individu setiap tahun.

“Perbandingan distribusi yang sama menunjukkan penurunan populasi orangutan sumatera sebesar 19,5 persen. Ini setara 1,8 persen per tahun,” tulis Adhi dan kolega dalam laporannya. Angka ini menjadi alarm keras bagi upaya konservasi primata di Indonesia, mengingat orangutan sumatera merupakan salah satu spesies kunci dalam ekosistem hutan tropis Sumatera.

Di tengah tren penurunan yang mengkhawatirkan tersebut, Ekosistem Leuser masih menjadi benteng utama kelangsungan hidup orangutan sumatera. Sekitar 84 persen populasi spesies ini berada di kawasan Leuser Barat dan Leuser Timur, yang masing-masing diperkirakan menampung sekitar 4.935 individu dan 4.926 individu. Kawasan ini menjadi penyangga terakhir bagi kelangsungan hidup spesies yang terancam punah tersebut.

Kepadatan tertinggi orangutan sumatera ditemukan di kawasan rawa gambut Trumon-Singkil, dengan rata-rata 1,18 individu per kilometer persegi. Kondisi ini menjadikannya sebagai habitat orangutan sumatera dengan kepadatan tertinggi di dunia, sekaligus menunjukkan betapa pentingnya kawasan tersebut bagi kelestarian spesies ini.

Penurunan populasi orangutan sumatera tidak terjadi tanpa sebab. Kerusakan hutan akibat konversi lahan untuk perkebunan kelapa sawit, perambahan liar, serta kebakaran hutan menjadi faktor utama yang terus mengancam habitat mereka. Hilangnya pohon-pohon besar yang menjadi sumber makanan dan tempat bersarang memaksa orangutan berpindah ke area yang lebih sempit dan terfragmentasi.

Selain kerusakan habitat, perburuan liar juga masih menjadi ancaman serius. Orangutan sering menjadi target perburuan karena diperdagangkan sebagai hewan peliharaan atau bagian dari tubuhnya digunakan dalam pengobatan tradisional. Konflik dengan manusia juga kerap terjadi ketika orangutan memasuki area perkebunan untuk mencari makanan.

Upaya konservasi yang dilakukan oleh pemerintah dan berbagai organisasi non-pemerintah terus digalakkan, namun masih menghadapi banyak tantangan. Perlindungan terhadap Ekosistem Leuser sebagai benteng terakhir orangutan sumatera menjadi prioritas utama, mengingat kawasan ini menyimpan populasi terbesar yang masih tersisa.

Penelitian ini juga menyoroti pentingnya pendekatan berbasis data dalam perencanaan konservasi. Dengan mengetahui secara pasti jumlah populasi dan sebaran orangutan sumatera, upaya perlindungan dapat lebih terarah dan efektif. Kolaborasi antara peneliti, pemerintah, dan masyarakat lokal menjadi kunci dalam menyelamatkan spesies ini dari kepunahan.

Laporan yang dipublikasikan dalam jurnal internasional ini menjadi pengingat bahwa waktu untuk menyelamatkan orangutan sumatera semakin sempit. Kehilangan 2.700 individu dalam satu dekade adalah angka yang tidak bisa diabaikan. Jika tren penurunan ini terus berlanjut tanpa intervensi yang signifikan, bukan tidak mungkin spesies ini akan menghadapi kepunahan dalam beberapa dekade mendatang.

Ekosistem Leuser yang menjadi rumah bagi 84 persen populasi orangutan sumatera harus dijaga dengan segenap kemampuan. Kawasan ini tidak hanya penting bagi orangutan, tetapi juga bagi ribuan spesies lain yang bergantung padanya, termasuk harimau sumatera, gajah sumatera, dan badak sumatera. Melindungi Leuser berarti melindungi seluruh keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya.

Kita semua memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa generasi mendatang masih bisa melihat orangutan sumatera berkeliaran di hutan-hutan Sumatera. Penurunan populasi yang drastis ini adalah cerminan dari bagaimana aktivitas manusia terus menggerus ruang hidup makhluk lain di bumi. Tanpa perubahan nyata dalam cara kita memperlakukan alam, laporan ini hanyalah satu dari sekian banyak peringatan yang akan terus berdatangan, hingga suatu saat tidak ada lagi yang tersisa untuk diselamatkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *