September 1, 2026

Banjir Bandang Nepal-Tibet Akibat Longsor Gletser, 160 Tewas dan 400 Wisatawan Hilang

IMG_20260826_232443

Banjir bandang dahsyat melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China, pada Rabu (26/8/2026), setelah longsoran material batu dan lumpur jatuh ke sungai di kawasan Himalaya. Bencana ini menewaskan sedikitnya 157 orang di Nepal dan 3 orang di Tibet, serta menyebabkan ratusan lainnya hilang.

Kronologi Bencana

Banjir terjadi sekitar pukul 09.00 waktu setempat di sepanjang Sungai Bhote Koshi yang mengalir dari Tibet menuju Nepal. Air bah membawa lumpur dan material batu dalam jumlah besar, menyapu rumah, kendaraan, jalan, jembatan, dan sejumlah proyek pembangkit listrik.

Rekaman kamera keamanan di sisi China menunjukkan gelombang besar air dan lumpur menghantam bangunan di pos perbatasan. Di Desa Syapru Besi dan Timure, Distrik Rasuwa, seluruh permukiman di dekat sungai tersapu arus. Petugas kesehatan di Rasuwa, Tula Bahadur BK, mengatakan kepada Reuters: “Ada kehancuran di mana-mana yang kami lihat”.

Penyebab: Longsoran Gletser

Bencana bermula ketika material berupa lumpur, batu, dan es longsor ke aliran sungai di kawasan Himalaya. Analisis awal citra satelit Planet Labs menunjukkan longsoran es dan batu memicu banjir yang membawa material dalam jumlah besar ke Sungai Lhende, anak Sungai Bhote Koshi.

Pusat Penelitian Geosains Jerman (GFZ) mencatat gempa berkekuatan magnitudo 4,4 terjadi sekitar tujuh menit sebelum rekaman kamera keamanan menunjukkan gelombang material menerjang kawasan perbatasan. Namun, US Geological Survey (USGS) menyimpulkan bahwa “energi seismik justru dihasilkan oleh longsoran” itu sendiri, bukan gempa bumi tektonik.

Ahli geologi dari Universitas Calgary, Daniel Shugar, setelah meneliti citra satelit, menemukan bahwa sebidang es selebar 800 meter dari gletser di ketinggian 5.200 meter runtuh dan jatuh ke lembah Sungai Bhote Koshi, dengan kekuatan setara gempa magnitudo 5,2.

Ratusan Wisatawan Hilang

Kementerian Pariwisata Nepal melaporkan lebih dari 400 wisatawan hilang, sekitar 340 di antaranya merupakan warga negara asing. Rincian wisatawan asing yang hilang:

· 133 warga India (peziarah menuju Gunung Kailash di Tibet)
· 47 warga Amerika Serikat
· 34 warga Australia
· 33 warga Inggris
· 24 warga Kanada
· 53 warga Ukraina
· 8 warga Korea Selatan (pekerja proyek PLTA)

Selain wisatawan, sedikitnya 28 personel polisi Nepal dan puluhan personel militer juga hilang. Di sisi Tibet, China, 265 orang dilaporkan hilang di Gyirong County.

Respons dan Ancaman Susulan

Pemerintah Nepal dan China mengerahkan helikopter, anjing pelacak, dan ratusan personel untuk operasi pencarian. Nepal mengerahkan 1.697 personel, dengan 656 lainnya siaga, dan berhasil mengevakuasi 106 orang melalui helikopter serta 27 orang melalui jalur darat. China mengerahkan sekitar 1.200 personel dan mengirimkan drone untuk mengkaji kerusakan.

India mengirim pesawat C-130J berisi 10 ton bantuan, sementara Amerika Serikat menjanjikan bantuan US$500.000 untuk kebutuhan darurat. Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyebut banjir sebagai peristiwa yang “sangat menghancurkan”.

Peringatan darurat masih berlaku karena penyumbatan aliran di hulu sungai dapat memicu banjir susulan. Warga di sekitar Sungai Bhote Koshi, Trishuli, dan Narayani diminta menjauhi bantaran sungai dan menuju tempat yang lebih tinggi.

Peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan Himalaya terhadap bencana hidrometeorologi, yang menurut para ilmuwan frekuensi dan intensitasnya meningkat akibat perubahan iklim dan pencairan gletser yang mempercepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *