Bank Dunia memperingatkan bahwa guncangan energi global berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Lonjakan harga energi akibat memanasnya geopolitik dinilai menjadi tekanan utama bagi negara-negara di kawasan tersebut.
Dampaknya tidak merata.
Negara dengan ketergantungan tinggi terhadap impor minyak serta kondisi fiskal yang lebih rentan akan merasakan tekanan lebih besar. Dalam situasi ini, kenaikan harga energi langsung memengaruhi biaya produksi, inflasi, dan daya beli masyarakat.
Laporan tersebut menyoroti bahwa negara-negara kepulauan Pasifik seperti Fiji, Mikronesia, Tonga, dan Vanuatu termasuk yang paling rentan.
Keterbatasan sumber energi domestik membuat mereka sangat bergantung pada impor, sehingga lebih sensitif terhadap perubahan harga global.
Selain itu, negara dengan kebutuhan energi besar seperti Thailand dan Mongolia juga masuk dalam kelompok berisiko. Ketergantungan pada energi impor dalam skala besar membuat tekanan eksternal lebih cepat berdampak pada ekonomi domestik.
Secara keseluruhan, peringatan ini menegaskan bahwa krisis energi bukan hanya isu sektor, tetapi faktor yang dapat memengaruhi arah pertumbuhan ekonomi kawasan. Ketahanan energi menjadi kunci untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global.
bank-dunia-guncangan-energi-asia-timur
Bank Dunia Asia Timur, krisis energi, ekonomi Asia, harga minyak
Bank Dunia peringatkan guncangan energi global bisa perlambat pertumbuhan ekonomi Asia Timur dan Pasifik.
