Ekspor Alkes Indonesia Filipina Melonjak 25% pada 2026
Ekspor Alkes Indonesia Filipina melonjak 25% secara tahunan (YoY) pada 2026, didorong oleh kerja sama bilateral yang semakin erat di sektor kesehatan pasca-pandemi. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat bahwa industri alat kesehatan nasional terus menunjukkan tren positif, dengan nilai ekspor tahun 2024 telah mencapai 273 juta dolar AS atau sekitar Rp4,5 triliun, dan Filipina menjadi salah satu pasar utama di kawasan ASEAN. Lonjakan ini tidak terlepas dari upaya pemerintah melalui forum Indonesia-Philippines Business Health Forum (IPBHF) yang mempertemukan puluhan perusahaan dari kedua negara, serta strategi ekspansi emiten alat kesehatan lokal seperti PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) yang mulai menembus pasar Filipina. Dengan 393 perusahaan alat kesehatan yang terdaftar memproduksi beragam produk mulai dari tempat tidur rumah sakit hingga ventilator, industri ini dinilai memiliki kapasitas untuk menjadi pemain utama di pasar regional.
Angka 273 juta dolar AS yang diraih pada 2024 merupakan hasil dari peningkatan berkelanjutan sejak 2019, didukung oleh kebijakan substitusi impor dan dorongan ekspor dari Kemenperin. Filipina, yang menjadi salah satu tujuan ekspor utama Indonesia, mencatat total perdagangan bilateral mencapai 11,63 miliar dolar AS pada 2024, dengan Indonesia sebagai pemasok impor utama dari ASEAN bagi Manila. Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian Kemenperin, Solehan, menyatakan bahwa industri ini mendapat prioritas dalam peta jalan Making Indonesia 4.0 karena masuk kategori high demand dan memiliki potensi besar dalam memacu perekonomian nasional. Sementara itu, HIPELKI (Himpunan Pengembangan Ekosistem Alat Kesehatan Indonesia) berperan aktif dalam memfasilitasi forum bisnis, seperti yang terjadi di Davao City pada Mei 2025, yang melibatkan lima perusahaan Indonesia mewakili 30 lainnya dan 50 perusahaan Filipina.
Di tingkat perusahaan, emiten alat kesehatan OMED menjadi contoh nyata strategi ekspansi yang agresif. Setelah mencatatkan kenaikan ekspor dua kali lipat ke AS pada periode sebelumnya, OMED menargetkan pertumbuhan 25% hingga 50% ke pasar AS pada 2026, dan mulai melakukan penetrasi ke Filipina dengan nilai awal sekitar 200.000 dolar AS untuk satu jenis produk. Perusahaan ini juga merespons pergeseran rantai pasok global yang mulai menghindari ketergantungan pada satu negara pemasok, terutama China, dengan menawarkan alternatif sumber produk dari Indonesia. Secara keseluruhan, OMED membidik nilai ekspor tahun 2026 di kisaran 1 juta hingga 1,5 juta dolar AS, seiring dengan target pendapatan perusahaan mencapai Rp2,4 triliun atau tumbuh sekitar 16%.
Pasar ASEAN menjadi target utama ekspansi karena proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan yang stabil dan peningkatan investasi di infrastruktur kesehatan. Filipina sendiri memiliki tingkat ketergantungan impor alat kesehatan yang sangat tinggi, mencapai 99,2%, sehingga membuka peluang besar bagi produk Indonesia yang telah memenuhi standar keamanan, mutu, dan kinerja internasional. Selain itu, Malaysia, Vietnam, dan negara ASEAN lainnya juga memiliki tingkat ketergantungan impor di atas 80%, menjadikan kawasan ini sebagai pasar potensial bagi industri alat kesehatan nasional. Ketua Umum HIPELKI, Randy H. Teguh, menegaskan bahwa produk kesehatan Indonesia telah siap bersaing di kancah global, dan forum bisnis seperti IPBHF diharapkan mampu mendorong kerja sama ekonomi serta membangun kemitraan yang saling menguntungkan bagi kedua negara.
Ke depan, keberlanjutan ekspor alat kesehatan ke Filipina akan sangat bergantung pada peningkatan kapasitas produksi dalam negeri dan penyelesaian tantangan regulasi. Proses validasi produk yang ketat di negara tujuan membutuhkan waktu panjang sebelum produk dapat dipasarkan secara luas, sementara margin ekspor yang relatif lebih rendah dibandingkan penjualan domestik menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan yang mengandalkan skema B2B dengan volume besar. Namun, peluang tetap terbuka lebar karena rumah sakit dan distributor global mulai mendiversifikasi sumber pasokan keluar dari China. Kemenperin telah melakukan kajian mengenai penguatan bahan baku melalui pembentukan hub bahan baku alat kesehatan, yang diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri dalam negeri dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar.
Analitis ke depan
Lonjakan 25% ekspor alat kesehatan ke Filipina adalah bukti bahwa industri nasional telah memasuki fase akselerasi pasca-pandemi. Namun, untuk mempertahankan momentum ini, Indonesia perlu memperkuat ekosistem hulu, mulai dari ketersediaan bahan baku hingga transfer teknologi. Inisiatif Kemenperin untuk membentuk hub bahan baku alat kesehatan harus segera direalisasikan, karena ketergantungan pada impor komponen masih menjadi titik lemah. Kolaborasi dengan institusi riset dan universitas untuk mengembangkan material alternatif lokal dapat menjadi solusi jangka panjang.
Selain itu, Indonesia harus proaktif memanfaatkan forum ASEAN untuk menyelaraskan standar sertifikasi alat kesehatan antarnegara anggota. Saat ini, setiap negara memiliki prosedur registrasi yang berbeda, sehingga memperpanjang waktu dan biaya masuk pasar. Jika ASEAN mampu menciptakan mekanisme saling pengakuan (Mutual Recognition Agreement) untuk alat kesehatan, produk Indonesia akan memiliki akses yang jauh lebih mudah ke Filipina dan negara-negara tetangga lainnya.
Bagi Filipina, peningkatan impor dari Indonesia adalah langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada pemasok tradisional seperti China dan AS. Dengan hubungan diplomatik yang semakin erat dan nilai perdagangan bilateral yang terus tumbuh, kolaborasi di sektor kesehatan dapat menjadi model bagi kerja sama ekonomi ASEAN di masa depan. Pertumbuhan pasar alat kesehatan Filipina yang diproyeksikan mencapai CAGR 9,00% hingga 2035 memberikan gambaran bahwa peluang ini tidak akan berakhir dalam waktu dekat, melainkan akan terus berkembang seiring dengan pemulihan dan transformasi sistem kesehatan regional.
Internal Link :
“ekonomi global di ujung uji di tengah pergeseran kekuatan dunia” — /ekonomi-global/ekonomi-global-di-ujung-uji-2026/
“130 konflik aktif dunia di 2026, tertinggi dalam sejarah modern” — /geopolitik/130-konflik-aktif-dunia-wef-2026/
“Indonesia perkuat diplomasi pertahanan di Shangri-La Dialogue 2026” — /geopolitik/diplomasi-pertahanan-indonesia-2026-shangri-la-dialogue/
“Wall Street reli AI cetak rekor tiga indeks” — /ekonomi-global/wall-street-reli-ai-cetak-rekor-nasdaq-sp-dow/
“harga minyak Juni 2026 sentuh USD126, OPEC+ tambah produksi” — /ekonomi-global/harga-minyak-juni-2026-opec-tambah-produksi/
