Juli 24, 2026

Banjir Bandang di Afghanistan Tewaskan 20 Orang, 100 Hilang di Provinsi Nuristan

EztXtQFwrL

Banjir bandang melanda Provinsi Nuristan di timur Afghanistan pada Senin (20/7) malam, menewaskan sedikitnya 20 orang dan melukai 80 lainnya, sementara sekitar 100 orang masih dinyatakan hilang. Bencana ini dipicu oleh hujan deras yang mengguyur wilayah pegunungan tersebut, menyebabkan sungai-sungai meluap dan menghanyutkan pemukiman warga di sepanjang aliran sungai. Wilayah Nuristan yang dikenal dengan medan terjal dan akses terbatas menjadi kendala utama dalam upaya evakuasi dan pencarian korban.

Kepala Departemen Bencana Alam setempat melaporkan bahwa korban jiwa berasal dari sejumlah desa yang terendam banjir dan longsor. Puluhan rumah hancur atau rusak parah, sementara fasilitas publik seperti jembatan dan jalan juga ikut tersapu arus. Tim penyelamat yang terdiri dari personel kepolisian, militer, dan relawan setempat berjuang keras untuk menjangkau daerah-daerah terisolasi yang terputus aksesnya akibat longsor dan banjir yang masih menggenangi area tersebut.

Hingga Selasa (21/7) pagi, tim penyelamat masih terus melakukan pencarian terhadap 100 orang yang dilaporkan hilang. Kondisi cuaca yang masih buruk dan medan yang sulit menjadi tantangan besar bagi operasi penyelamatan. Beberapa helikopter diterjunkan untuk membantu evakuasi dan pengiriman bantuan logistik ke daerah-daerah yang tidak dapat dijangkau melalui jalur darat. Namun, visibilitas yang rendah dan angin kencang menyulitkan operasi udara.

Para pejabat setempat menyatakan bahwa jumlah korban jiwa diperkirakan akan bertambah seiring dengan proses evakuasi dan temuan-temuan baru di lokasi bencana. Mereka juga memperingatkan bahwa banyak desa yang masih terisolasi dan belum terdata, sehingga potensi korban tambahan masih sangat mungkin terjadi. Upaya pendataan dan pencarian terus dilakukan meskipun dalam kondisi yang sangat terbatas.

Banjir bandang di Nuristan bukanlah peristiwa yang asing, tetapi skala kehancuran kali ini tergolong yang terparah dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan iklim dan penggundulan hutan di wilayah pegunungan memperparah dampak hujan deras, karena tidak ada lagi pohon yang mampu menahan air dan tanah longsor. Beberapa desa yang selama ini menjadi andalan lumbung pangan wilayah tersebut kini luluh lantak dalam hitungan jam.

Afghanistan, yang sedang bergulat dengan krisis ekonomi dan keamanan pasca-perubahan rezim, kini kembali harus menghadapi bencana alam yang semakin memperburuk kondisi kehidupan warganya. Pemerintah setempat dan badan-badan kemanusiaan internasional telah mengeluarkan seruan darurat untuk bantuan, termasuk makanan, air bersih, selimut, dan peralatan medis. Namun, akses yang sulit ke daerah pegunungan terpencil membuat distribusi bantuan menjadi sangat lambat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan keprihatinannya terhadap risiko wabah penyakit pasca-banjir, terutama diare dan infeksi saluran pernapasan, yang dapat menambah jumlah korban jika penanganan tidak segera dilakukan. Air yang tergenang dan keterbatasan sanitasi di lokasi pengungsian darurat menjadi ancaman serius bagi kesehatan ribuan warga yang kehilangan tempat tinggal.

Bencana ini menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan di Afghanistan, yang telah dilanda konflik berkepanjangan dan kemiskinan parah selama beberapa dekade. Banjir bandang kali ini mengingatkan dunia bahwa negara tersebut tetap membutuhkan perhatian dan dukungan internasional, tidak hanya untuk mengatasi krisis politik, tetapi juga untuk melindungi rakyatnya dari ancaman alam yang semakin tidak terduga.

Ketika tim penyelamat terus berupaya mencari korban hilang di tengah lumpur dan puing-puing, para pengungsi mulai dikumpulkan di sekolah-sekolah dan gedung-gedung pemerintah yang masih berdiri. Mereka menanti bantuan yang datang dengan lambat, sementara hujan ringan masih mengguyur wilayah tersebut, menambah kecemasan akan kemungkinan banjir susulan. Nuristan, yang dikenal dengan keindahan alamnya, kini menjadi saksi bisu dari kekuatan air yang merenggut nyawa dan menghancurkan kehidupan dalam sekejap.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk politik global, masih ada komunitas kecil di pegunungan Asia yang berjuang untuk bertahan hidup melawan alam yang murka. Dunia memang mungkin sedang sibuk dengan urusan lain, tetapi bagi masyarakat Nuristan, setiap menit yang berlalu tanpa bantuan adalah perjuangan antara hidup dan mati. Kini yang tersisa adalah harapan bahwa bantuan segera tiba dan mereka yang hilang masih dapat ditemukan hidup-hidup di antara reruntuhan dan lumpur yang dingin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *